Latest Event Updates

Tiga Tipe Pelajar saat Mengerjakan Soal, Kamu Masuk Tipe Mana?

Posted on Updated on

Ada aja kelakuan siswa zaman now ketika mengerjakan ulangan atau ujian di sekolah. Biasanya orang akan tegang ataupun takut saat tiba waktunya kertas ujian dibagikan. Takut dan khawatir jika apa yang yang dipelajari tidak keluar pada soal. Sehingga nilainya akan mengecewakan. Berikut ini tipe-tipe siswa dalam mengerjakan soal ujian.

Scientist

Tipe ini bisa dikategorikan tipe orang-orang serius. Mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan yang terbaik. Baginya ulangan atau ujian sekolah adalah pertarungan  harga diri siapa yang layak disebut sebagai orang terpintar di kelasnya. Sehingga mereka memfokuskan diri untuk belajar dengan baik. Umumnya tipe ini mempunyai IQ lumayan dibandingkan tipe yang lain. Motivasi belajar yang tinggi, sehingga mampu beradaptasi terhadap karakter guru dalam menyampaikan materi.

Saat ujian, tipe orang scientist ini, sangat konsen dengan alat tulisnya. Terkadang mereka tidak menghiraukan panggilan teman yang minta bantuan sebelum dia menyelesaikan pekerjaannya. Bisa jadi, sebagian dari mereka bahkan terkenal dengan pelit memberikan bantuan jawaban. Itu karena idealisme yang ada pada mereka. Dimana  mereka telah sungguh-sungguh belajar, jadi terlalu sayang jika jawaban diberikan kepada orang lain.

Selama ujian berlangsung, orang tipe ini memperlihatkan mimik muka yang serius dan kewaspadaan. Terkadang pula, juga penuh dengan kegelisahan. Kegelisahan paling nyata jika dirinya tak mampu menyelesaikan jawaban, sedangkan kawan yang lain sudah berlalu meninggalkan jawaban entah karena memang sudah atau karena memang pasrah.

Kalaupun waktu masih tersisa, kaum scientist ini biasanya akan keluar paling akhir sampai  batas limit waktu. Hingga terkadang, pengawasnya pun merasa jengkel karena harus sabar menunggu satu atau dua orang kaum scientist ini di ruang ujian. Padahal kawan-kawannya sudah menyerahkan jawabannya.

Naturalis

Kaum naturalis ini merupakan tipe pelajar yang biasa-biasa saja. Normal layaknya pelajar biasa. Waktunya belajar ya belajar, waktunya main ya main. Waktunya nyontek bersama ya ayo kita sama-sama. Terpenting bagi mereka adalah solidaritas tanpa batas untuk bisa naik kelas. Motivasi mereka sekolah ingin mendapatkan hak belajar sebagai warga negara. Datang ke sekolah, dengarkan guru ceramah, ketemu kawan setia untuk jajan sama-sama. Dapat ranking alhamdulillah, dapat ilmu untuk dibawa dalam keseharinnya mereka semoga menjadi berkah. Jika ketemu guru yang tak disukai, biasanya berpengaruh juga terhadap mood  mereka dalam belajar.

Tipe ini ketika ujian, sok sibuk biasanya. Kalau guru melihat, dia berpaling seolah-olah menulis jawaban atau baca soal. Padahal kepala dan mata mencari rekan sejawat yang sama-sama butuh jawaban. Jawaban akan ujian kehidupan saat itu, soal-soal yang susah untuk dikerjakan.

Bagaimana dengan IQ mereka? Tak bisa dipastikan secara pasti, karena tak ada juga yang meneliti hal ini. Tapi sejauh pengamatan, mereka tergolong siswa-siswa berkemampuan sedang. Bahkan ada juga yang biasa-biasa saja, yang penting mengerjakan yang terbaik dengan cara apapun baik yang halal maupun yang diharamkan.

Cuek Abis

Tipe ini memang tak banyak prosentasenya. Jika di dalam kelas terdiri dari 30 siswa, biasanya tipe cuek abis ini sekitar 1-2 orang saja. Mengapa dikatakan cuek abis? Siswa-siswa bertipe ini rata-rata tidak mempunyai keinginan sekolah yang tinggi. Malah orang tuanya yang bersemangat untuk menyekolahkan anaknya. Tapi anaknya ala kadarnya berangkat atau belajar di sekolah.

Bagaimana dengan IQnya? Ini tak bisa dipastikan juga. Keengganan mereka untuk belajar tidak hanya dipengaruhi skor IQ, tapi biasanya lebih karena motivasi. Bisa karena mereka sebenarnya mau kerja tapi dipaksa sekolah. Atau karena ketidaksesuaian jurusan atau sekolah yang mereka inginkan.

Ketika sedang ujian, gesture yang mereka tampakkan tidak bersemangat untuk menjawab soal. Ada yang bergelayutan, bersandar santai di meja sambil mainkan kertas soal. Ada juga yang tertunduk, terkapar merebahkan badan dan kepalanya di atas meja. Kalau tidur? Bukan jadi indikasi mutlak karena cuek terhadap soalnya, mungkin karena kecapekan juga bisa sehingga tertidur.

Tipe ini biasanya kalaupun ingin minta  jawaban ke kawannya, ala kadarnya saja. Dapat alhamdulillah, tak dapat ya pasrah. Biasanya juga, mereka paling terdepan mengumpulkan lembar jawaban. Bukan karena sudah selesai dengan jawaban yang semestinya, biasanya karena pasrah karena memang tak belajar. Semakin cepat keluar ruang ujian semakin nyaman pula bagi mereka. Nyaman karena tak perlu memikirkan soal jawaban yang harus mereka jawab.

Advertisements

Delay!

Posted on

Saat kau merasa sudah mempersiapkan semuanya, kemudian menunggu waktu untuk beranjak dan berangkat. Tetapi pada saat itu juga terjadi keterlambatan keberangkatan. Itulah namanya Delay. Mengasyikkan?

Tentu tidak! Apa yang dilakukan saat itu?

Menunggu.

Menunggu bisa menjadi asyik bisa juga menjadi menjengkelkan. Tergantung situasi yang kita hadapi saat itu. Umumnya pasti membosankan, menjengkelkan, dan ……???? Banyak dan panjang ceritanya.

Apa yang bisa Anda lakukan saat menunggu menikmati delay?

Kasih info orang terkasih, Baca Buku, Ngopi, Wifi-an ajak ngobrol orang sekitar kamu?

Up to you. Enjoy that time, and stay productive.

at

Bandara Supadio, Pontianak

I Stand With Mesut Ozil!

Posted on Updated on

Sebagai seorang penggemar sepakbola, mendengar berita terkait Mesut Ozil yang mundur dari Timnas Jerman cukup mengagetkan dan meyedihkan. Pasalnya, keputusan mundurnya Mesut Ozil dari timnas Jerman disebabkan karena dirinya merasa ada perlakuan rasisme terhadap dirinya oleh sebagian oknum warga Jerman bahkan termasuk Federasi Sepakbola Jerman menurut pengakuan Ozil.

Latar belakang keturunan Turki dan pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan lah yang menjadi sebab munculnya rasisme terhadap dirinya. Dimana banyak yang menuduh pertemuan Ozil dengan Erdogan bernuansa politik. Walaupun itu telah dibantah secara tegas oleh Ozil, bahwa pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa yang tidak membicarakan apapun terkait politik.

Ozil sadar betul bahwa sepak bola tidak boleh dicampuri dengan  urusan politik. Terkait pertemuan dengan Erdogan, Ozil menjelaskann hanya menghormati Erdogan sebagai pimpinan tertinggi Turki yang mana adalah negeri dimana leluhurnya berasal. Sehingga Turki tidak mungkin dilupakan olehnya walaupun ia lahir dan besar di Jerman.

Pemain berusia 29 tahun dan telah memperkuat tim Der Panser  sebanyak 92 kali dengan 23 gol itu mengatakan menyayangkan perlakuan Federasi Sepak bola Jerman terkait perilaku rasisme terhadap dirinya. Padahal dia mengakui, selalu bangga ketika memakai seragam timnas Jerman dalam sepanjang karir sepak bolanya.

Berikut ini pesan pengunduran dirinya dari timnas Jerman melalui akun pribadinya.

Semoga rasisme hilang dari sepak bola. Dan jangan biarkan rasisme menghancurkan nilai-nilai sportifitas dalam olah raga, terutama sepak bola. And, I Stand With Mesut Ozil!

 

 

Setiap Masa ada Karakternya.

Posted on

Setiap masa ada karakternya.

Itu juga yang menjadi perenungan saya ketika hari ini memanggil beberapa anak yang absen bolos dan ijinnya melebihi kadar kewajaran. Ada 9 orang yang saya panggil, tetapi perhatian khusus hanya pada 4 orang saja. Ceramah demi ceramah dari berbagai kawan guru sudah tidak mampu mengubah mereka. Hari ini saya kumpulkan untuk mendengarkan kisah mereka mengapa banyak sekali bolos sekolah.

Tercengang sudah mendengar jawaban mereka. Yang satu beralaskan ngantuk, jadi ndak berangkat ataupun balik awal walaupun jam pulang sekolah belum saatnya. Ada pula yang beralasan takut kena razia rambut. Karena baginya rambut adalah mahkota kepercayaan diri baginya. Ada pula beralasan teralalu banyak tugas yang diberikan oleh guru. Tersenyum mendengar semua alasan yang mereka sampaikan. Terlepas kebenaran alasan mereka dapat dipertanggungjawabkan atau tidak

Inilah kids zaman now.

Setiap masa ada karakternya.

Ketika Anda Menjadi Pemimpin

Posted on

Ketika Anda menjadi pemimpin, ada satu hal sederhana tapi tak bisa dianggap ringan efeknya. Ucapan!

Ketika Anda menjadi pemimpin, ada satu hal sederhana tapi tak bisa dianggap ringan efeknya. Konsistensi!

Ketika Anda menjadi pemimpin, ada satu hal sederhana tapi tak bisa dianggap ringan efeknya. Keadilan!

Ketika Anda menjadi pemimpin, ada satu hal sederhana tapi tak bisa dianggap ringan efeknya. Keterbukaan!