Guru Vs Murid

Miris! Entah yang salah yang mana atau dimana, tetapi belakangan ini banyak sekali kita disuguhi realita perseteruan antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada yang mengatakan ini adalah buah dari impor budaya baru bernama “HAM” yang menjadikan seseorang memiliki kelebihan dan kebebasan dalam bertindak. Tapi salah kparahnya mereka tidak menempatkan etika dan adat kebudayaan dalam suatu perkara .

Dalam kasus guru vs wali murid ini memang tidak bisa dijustifikasi secara umum yang kemudian beranggapan bahwa guru selalu benar di sekolah. Sehingga tidak ada celah untuk mempermasalahkan kejadian yang kemudian efeknya jatuh hukuman fisik pada siswa. Tetapi tidak kemudian seorang wali siswa dengan “buta” langsung menyalahkan guru yang diduga melakukan tindakan fisik. Perlu adanya konfirmasi dan cross ceck perihal kejadian yang dilaporkan sang anak pada dirinya.

Sehingga nanti ujung-ujungnya perkara dibawa ke ranah hukum tanpa diklarifikasi secara kekeluargaan. Budaya klarifikasi ini penting. Mengingat kesalahpahaman sekecil apapun yang dilaporkan anak, bisa berujung mendekam di balik jeruji bisa bagi sang guru atau bahkan bagi wali siswa yang ternyata aduan anaknya tidak benar. Maka perlu hati-hati menyikapi laporan anak.

Dengan kata lain, zaman serba modern mengubah watak dan perilaku anak menjadi lebih “maju” dalam berpikir. Anak-anak sekarang bukanlah tipe anak-anak jaman dahulu yang masih lugu-lugu. Beda bahkan sangat beda. Yang paling terasa adalah pola perilaku sopan santun terhadap orang lain. Kemajuan teknologi menghilangkan kekayaan budaya sopan santun seorang anak.

Hal ini sebenarnya hal kecil tapi imbas budaya kemasyarakatan akan sangat terasa. Seorang yang lebih tua tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sedangkan anak yang lebih muda dianggap tak ubahnya anak kecil yang belum bisa apa-apa. Budaya saling menghormati terhadap orang lain ini lah akar dari budaya sopan itu. Jika ini dihilangkan maka timbulah sikap yang merasa diri lebih baik.

Belum lagi jika ditambahkan seseorang berasal dari kelurga yang punya pangkat atau nama. Layaknya kesombongan seorang siswi anak seorang jendral yang ditangkap polwan karena aksi corat-coret dan arak-arak an kelulusan menggangu ketertiban lalu lintas jalan. Itulah potret rusaknya mental anak bangsa ini.

Anak yang sudah benar-benar tahu bahwa yang dilakukan sebuah kesalahan masih mengancam melalui tingginya status sosialnya demi meruntuhkan peraturan yang sedang ditegakkan. Miris lagi dikemudian hari, sang siswa dijadikan duta anti narkoba. Yang sekali lagi, sistem negeri telah dengan sengaja membentuk kerusakan mental para generasi bangsanya.

Apa yang salah? Entah! Karena masing-masing dari kita sudah mampu menilai, bagaimana kualitas pengajaran akhlak dan budi pekerti terlebih agama dalam lingkup keluarga kita. Sekolah itu, hanya tempat aktualisasi saja, selain untuk mencari ilmu keduniawian. Jika pondasi keluarga kuat maka kekacauan itu tak seharusnya terjadi.

 

Nostalgia dengan Blog

Ada hal yang paling ingin saya lakukan dalam perjalanan hidup saya, yaitu konsistensi dalam menulis blog. Tetapi pada kenyataannya begitu susah, padahal setiap hari bisa dikatakan hp terkoneksi dengan internet. Aplikasi-aplikasi android memudahkan dalam membuat tulisan.

Namun apa daya, entah karena apa tenryata tidak semudah mengucapkan kata konsistensi. Hingga curhat ini ditulis, ternyata saya baru menyadari bahwa blog ini pun telah ku tinggal hampir 6 bulan lamanya. Waktu yang cukup lama membiarkan sebuh blog hidup tanpa kejelasan arah dari sang pembuatnya.

Aku pun tak ingin berjanji seperti dahulu kala, hanya saja tulisan curhat ini hanya bagian dari nostalgia dari perjalanan tulis menulis yang berjalan lebih kurang 3-4 tahun ke belakang. Memang tidak lah istimewa isi di dalamnya. Tetapi melalui kebiasaan menulis blog inilah, ada beberapa karya walupun nilai materi tak seberapa merupakan hasil dari kebiasaan menulis di blog ini.

Ya, ini adalah curhat nostalgia, Mengingat kembali lembaran kehidupan masa lalu melalui tulisan di dalam blog sederhana ini. Hanya berharap saja, ada kemauan lebih keras lagi untuk terus menerus merawat blog ini.

Ya, itu saja nostalgia kali ini. Salam!

Nyoba Aplikasi WordPress di Android

Akhirnya, setelah sekian lama ingin instal aplikasi wordpress untuk android, terlaksana sudah di pagi hari ini.
Hari minggu pagi, ditemani hujan rintik, nonton spongebob bersama anak, membuat posting pertama memakai aplikasi ini.
Belum tahu juga hasilnya nanti, jika pakai versi webnya, jika emang hasil bisa maksimal sesuai yang diinginkan, mungkin ke depan akan lebih mudah dan setiap saat uodate blog lewat aplikasi ini.
Ok, cukup ini saja postingan perdana. Nanti kalau kepanjangan makah dikira review lagi. Siip!

Pilkada Sukoharjo: War-Di Menang Telak!

Sudah sekitar 6 bulan meninggalkan kota atau lebih tepatnya kabupaten Sukoharjo untuk menjadi abdi negara di pulau seberang, Kalimantan. Ada sedikit kerinduan yang terbersit di relung dada. Terkhusus untuk Sukoharjo, tentu kenangan yang ada karena hampir semua keluarga besar tinggal di sana. Sedangkan saya bersama anak istri merantau di Kalimantan yang pada kenyataannya tak punya sanak saudara pun di sini. Hanya bermodalkan keyakinan dan mengikuti garis takdir bahwa di sinilah tempat kami dapat memupuk diri bermanfaat bagi orang lain.

Tanggal 9 Desember kemarin, mengingatkan memori tentang Sukoharjo. Yang mana, saya yang masih ber KTP Sukoharjo harus absen dan golput tidak bisa berpartisipasi dalam “gawe” lima tahunan pilihan kepala daerah. Tapi saya masih bisa memantau melalui media massa khususnya melalui internet baik lewat media massa online ataupun situs resmi kpu.

Kabar terbaru, pilihan kepala daerah yang diikuti petahana, Wardo Wijaya dan Purwadi menang telak atas lawannya Nurdin dan Anis Mundhakir. Pasangan War-Di menang telak 86% atas lawannya. Namun sayang, kemenangan itu diciderai dengan laporan Gatra, bahwa wilayah Solo Raya, diduga marak terjadi politik uang di masyarakat. Walaupun sebenarnya saya sendiri sabagai warga Sukoharjo tidaklah heran terkait berita itu. Karena memang hampir setiap ada even pemilihan tidak hanya bupati saja, bahkan level lurah pun, politik uang sangatlah marak.

Selain itu, partisipasi masyarakat dinilai sangat kurang. Komite Independen Pemantau Pemilu melaporkan bahwa rata-rata partisipasi masayrakat hanya berkisar dalam rentang 50-60 % dari jumlah peserta pemilih. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi calon petahana, yang mana daya politik yang sudah terbangun selama periode sebelumnya begitu kuat. Belum lagi, kekuatan basis dukungan di Solo Raya memang sangat menguntungkan calon dari partai “merah”.  Sedangkan bagi calon penantang, tak mempunyai daya dukung politik yang kuat, tidak mengherankan kalau hasilnya sangat minim.

Bahkan, kalau bisa dibilang, kuatnya Wardo Wijaya memang akan sangat ditandingi oleh siapapun dalam pemilu kali ini. Bukan tanpa sebab, karena selama ini tidak muncul kandidat yang cukup kuat untuk bisa menandingi dominasi Wardo Wijaya dalam menghimpun basis dukungan. Selain itu, selama dalam menjabat periode sebelumnya, memang saya pun mengakui pembangunan yang dilakukan oleh Wardo Wijaya begitu masif. Pembangunan dan perbaikan jalan-jalan, pembangunan pasar-pasar tradisional, dan pembangunan kawasan Solo Baru sebagai kawasan bisnis baru di Solo Raya, tampaknya berhasil menggaet hati masyarakat.

Oleh karena itu, sebenarnya kalau ada calon penantang, sebenarnya sudah dari awal banyak orang yang memprediksi pasti akan kalah. Sehingga muncul isu, bahwa pasangan penantang kali ini, ibarat semut lawan gajah, bahkan ada yang mengatakan pasangan penantang ini sengaja dimunculkan agar jalan pemilihan pilihan daerah terlihat ramai/seru Tapi terlepas isu itu, yang jelas saya pun berharap dengan terpilihnya kembali Wardo Wijaya, Sukoharjo akan semakin Makmur.

Tips Menulis bagi Pemula

Hanya sekedar repost aja karena blog saya di platform blog sebelah, kayaknya sudah terhapus gara-gara kelamaan ga ke-update. By the way, kenapa ini saya repost, karena pada saat itu, tulisan ini, menjadi headline selama beberapa hari di situs platform blog tersebut. Jadi, bisa jadi dengan repost akan bermanfaat lagi bagi yang lain. Semoga dan selamat membaca!

teknik-menulis

Gambar: keajaibanmenulis.com

Setiap orang boleh bermimpi termasuk saya yang punya mimpi jadi penulis terkenal, ya paling enggak di Indonesia lah. Sosok Habiburrahman El Shirazy menjadi salah satu inspirasi dan idola dalam perjalanan berlatih menulis. Jujur saja, saya mengenal beliau karena ketika kuliah di Semarang, saya termasuk salah satu dari ribuan “anak asuh” beliau di salah satu pesantren mahasiswa. Beliau menjadi salah satu pembina dari pesantren tersebut, sehingga saya pun sedikit banyak sering bertemu secara fisik sama beliau walaupun kalau ditanya pasti belaiu juga tidak akan kenal saya.

Sampai sekarang pun saya hanya berlatih, berlatih dan berlatih tanpa menghasilkan karya yang benar-benar bisa dikatakan membanggakan. Kenapa belum bisa dikatakan membanggakan? Ya karena belum pernah terpublikasikan di ranah publik seperti koran, majalah apalagi buku. Tapi tak apalah, kata penulis-penulis senior yang terpenting berlatih menulis sampai benar-benar menemukan ciri khas dari tulisan sendiri. Atau paling enggak merasa ada peningkatan kualitas tulisan berdasar mudah atau tidaknya dicerna oleh orang lain.

Di sini perlu peran dari orang terdekat yang dapat berlaku secara objektif untuk menilai kualitas tulisan kita. Enggak usah saya sebut kali ya siapa yang harus menilai tulisan kita, siapa aja bisa asalkan dia mau jujur untuk menilai tulisan kita. Tidak perlu harus peka terhadap bahasa apalagi penulis beneran, cukup orang terdekat yang bisa mbaca aja yang kita minta untuk menilai. Kalau dirasa dia mampu menyerap dari setiap makna yang kita urai dalam kalimat dan paragraf tulisan  kita, itu artinya tulisan kita sudah lumayan baik. Simpel kan!

Kalo sudah sampai tahap itu, ya saya kira cukup lumayan lah untuk iseng-iseng mengirim tulisan kita ke koran atau majalah. Kenapa iseng-iseng, ya kalau dibilang yang namanya penulis pemula bisa jadi agak sulit untuk nembus dan “menghipnotis” para redaktur koran atau majalah, apalagi koran atau majalahnya sifatnya sudah me-nasional. Ya, tahu diri sajalah kalau saran saya, coba dulu koran atau majalah lokal yang jadi sasaran iseng-iseng. Kalau naskah satu tidak diterima, jangan sungkan untuk mengirim naskah kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Mengapa demikian?

Karena kalau semakin bandel kita mengirim naskah tulisan kita, bisa jadi si redaktur koran dan majalah tersebut malah semakin penasaran untuk membaca tulisan kita. Nah, disinilah peluang sekaligus tantangan bagi penulis pemula agar tulisannya “diperhatikan” oleh sang redaktur. Artinya, kalau kita bandel seperti itu ya tetap harus diikuti dengan peningkatan kualitas tulisan kita. Sehingga tulisan kita tidak dianggap spam oleh sang redaktur. Sayang kan kalau ternyata bandelnya kita tidak sebanding dengan kualitas tulisannya, bisa jadi malah kita dibanned untuk tidak akan pernah dibaca lagi. So, semangat untuk berlatih dan semangat berkarya ya!