Mengatasi Writer Block

Maksud hati ingin punya karya yang bagus, informatif dan berguna bagi orang lain. Namun, ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menulis dengan sudah terkonsep dengan ciri khas tertentu, ternyata jauh lebih susah.

Beda sekali dengan tulisan asal jadi seperti yang saya tulis saat ini. Tulisan ini mudah sekali dituliskan. Tidak perlu berpikir konsep seperti apa. Apa yang ada di pikiran, keluar begitu saja. Jemari mengetik dengan perlahan nan anggun. Mengungkapkan rasa tanpa harus terbebani dengan konsep yang sudah dibuat. Begitu pula tidak perlu banyak referensi yang perlu dilihat dan dicomot di dalam tulisan ini.

Mentok di sisi lain, ternyata memudahkan di sisi yang lain pula. Tapi tak mengapalah, intinya tetap bisa menulis dan berbagi tulisan. Jika memang mentok, memang otak harus refreshing dengan hal lain. Sehingga aliran udara yang masuk otak, juga membawa aliran ide-ide lain.

Tapi percayalah setelah setelah menulis, kemudian posting terasa melegakan. Terasa beban di pikiran hilang seketika. Padahal sebelum itu, galau mengapa tulisan tak kunjung selesai. Bukan karena sibuk hal lain, namun mentok karena ide tak bisa mengalir.

Itu mungkin yang disebut dengan writer block. Itu kata orang-orang yang pintar nulis . Keadaan di mana, tangan, otak dan pikiran kita tak bisa tergerak untuk menulis kata-kata dengan baik. Mentok. Tak bisa mengalir, mata hanya terpaku pada layar komputer. Pikiran melayang mau buka situs lain. Alih-alih mencari ide, malahan asyik untuk membaca.

Alasannya sederhana, kalau kata orang pintar nulis karena minimnya kosakata di dalam memori kita. Sehingga kesusahan mengembangkan tulisan. Maka kalau pikiran sudah beralih untuk membaca, kadang itu jadi pembenaran kalau mentok nulis itu biasa saja. Toh, membaca juga bagian dari proses menulis itu sendiri.

Keadaan seperti ini terkadang jadi toxic tersendiri, akhirnya deadline tulisan jadi molor. Menulis blog yang harusnya 2 sampa 3 minggu sekali, malah ndak jadi nulis atau mungkin di bawah target itu.

Banyak hal yang bisa dilakukan sebenarnya, untuk mengatasi writer block. Sejauh pengalaman saya, ada beberapa hal yang bisa saya lakukan.

Daur Ulang Tulisan

Jika lagi bingung, biasanya saya lihat list artikel yang saya buat. Perlu ada update atau tidak. Jika ada, itu kesempatan untuk menghilangkan mood yang tak baik saat menulis. Karena bahan baku sudah ada, tinggal menulis tambahan update-nya. Hal ini ternyata mampu menghilangkan perasaan malas menulis. Atau membantu melupakan pikiran mentok tadi. Cobalah!

Kurasi Tulisan Orang Lain

Ketika baru awal-awal menulis, saya suka mengurasi (mengumpulkan) tulisan dari majalah Hadila. Ya, waktu itu saya sangat tertarik dengan gaya kepenulisan Majalah Hadila. Banyak ide yang mengalir setelah membacanya. Bahkan sampai sekarang masih saya lakukan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang ada di sana.

Selain itu, saya juga mengumpulkan tulisan fiksi kumpulan cerpen yang terbit di koran lokal dan nasional. Tapi, kurasi yang saya lakukan bukan bersifat fisik. Tapi ikut grup/laman Facebook dari salah satu orang yang telah mengumpulkannya. Saya tinggal memilih dan memilah untuk saya koleksi dan saya baca. Cukup menyenangkan dan membantu memunculkan semangat serta ide baru. Boleh dicoba, silahkan!

Mencari ide dari Forum Tanya Jawab

Cara ini baru beberapa kali saya terapkan. Banyak ide yang bersliweran di forum tanya jawab. Salah satunya Quora. Ya, saya tergabung di sana. Masih pemula dan baru, juga tidak aktif memuat konten pertanyaan.

Ibaratnya, silent reader. Walaupun begitu saya sudah melihat ada manfaatnya. Ikut gabung dalam komunitas tanya jawab, membantu untuk memunculkan ide baru. Bahkan ide yang sedang dibutuhkan oleh orang lain. Menyenangkan.

Mencari Ide yang Lagi Trend

Ya, andalan saya Google Tends. Sangat membantu identifikasi tema yang lagi viral dan diperbincangkan khalayak. Sangat membantu sekali menumbuhkan ide baru untuk menulis tema.

Tapi itu semua tetap bergantung pada tema blog atau karakter tulisan yang kamu ingin buat. Tinggal masukkan kata kunci berdasarkan tema kebiasaan kamu, banyak kata atau query yang bisa digunkan untuk menemukan ide baru.

Writer blok memang seharusnya tdiak menjadi alasan untuk malasa dan berhenti menulis. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan untuk menulis karena kesibukan tentu berbeda.

Konteksnya, ketika buka laptop atau gawai, niat mau nulis tenryata jemari bingung nulis. Nah, itu masalah. Walaupun bukan berarti akhir dari dunia. Tapi, kebiasaan ini akan menjadi-jadi, jka kita tak punya resep untuk menanganinya.

Beberapa di atas hanyalah sebagian saja cara untuk mengatasi writer block. Kalau kamu mau baca tulisan kang Arry Rahmawan, di sana ada bejibun cara untuk mengatasi writer block. Kalau tidak salah 29 cara atau langkah.

Tapi, kalau kamu bisa membuat resep lain, ya silahkan yang penting jangan kelamaan aja males nulis. Nanti, ndak kelas-kelar urusan tulis menulis. Yang masih pemula, ndak nambah-namha ilmu nulisnya.

Semangat ya.

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Lapar

Tombol power aku pencet. Ku pastikan bahwa lampu indikator menyala hijau. Artinya, notebook sudah benar-banar menyala. Belum juga layar Windows terbuka, kudengar jejak langkah anak yang besar berjalan dari kamar. Kupastikan dengan mendengarkan secara saksama.

Tetiba berkatalah dia, “Ayah, Fatih lapar. Fatih ndak bisa tidur.”

Waktu sudah menunjukkan jam 9. Jam yang seharusnya ditaati oleh dia setiap harinya. Waktu tidur maksimum jam 8 malam. Itu artinya, dia sudah menahan laparnya kurang lebih satu jam, sejak dia masuk kamar dan bersiap tidur.

Oh, begitu malangnya. Biasanya banyak stok jajan yang ada di rumah. Saya tidak kebingungan untuk memaksa dia sekedar ngemil mengganjal laparnya tanpa harus makan besar. Bukan apa, jika dia makan besar, tubuhnya semakin mengembang. Takut tidak sehat.

Atau biasanya akan menjadi kebiasaan setiap mau menjelang tidur, dia pasti minta makan. Bukan tidak memperbolehkan makan. Namun, terkadang itu menjadi alasan untuk tetap memaksa mata melek. Padahal mata sudah mengantuk dengan mulut terbuka lebar mendesahkan uap dari dalam nulut.

Tapi malam itu aku tak kuasa untuk membuatkan makanan. Tak apalah untuk hari ini. Aku yakin tidak setiap hari. Takut aku, dia memang benar-benar lapar. Tidur dalam kondisi lapar, biarlah kita orang tua yang tahu dan merasakannya. Jangan anak-anak kita.

“Fatih, mau mie goreng ndak?” kata ku untuk mengatasi rasa laparnya.

“Mauuu.”, sahutnya dengan wajah gembira. Seakan itu memang sudah jadi bidikannya. Maklum, mie goreng adalah salah satu masakan kesukaannya.

Padahal memang stok makanan yang ada di rumah hanya mie goreng dan beberapa centong nasi. Ya, itulah yang hanya bisa aku tawarkan. Untuk menemaninya, aku pun memutuskan untuk membuat dua porsi.

………………………

Kata lapar yang dilontarkan anak saya tadi, membuat otakku merenung sejenak. Otakku memikirkan berapa banyak anak-anak yang seharusnya bermimpi indah, namun merasakan lapar kedinginan di pinggiran jalan.

Berapa banyak orang tua yang kesusahan menyediakan makanan untuk anaknya dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Berapa banyak orang tua yang menahan lapar demi kenyangnya perut sang anak.

Membayangkan hal ini sungguh mengiris hati. Kita yang diberikan anugerah hidup yang berkecukupan harus banyak-banyak bersyukur. Tuhan masih mengijinkan kita untuk makan yang enak, tidur beralaskan kasur, rumah yang beratap genting dan lain sebagainya.

Hidup memang beragam. Setiap individu membawa nasib dan takdirnya sendiri. Namun, jika kita masih bisa berbagi, tentu hidup ini akan indah. Tentu juga kan lebih barakah

Tak Perlu Berdebat, Sesuaikan Saja.

Entah lah. Inilah Indonesia. Selalu saja over. Setelah komentar childish para netijen +62 terkait drakor The World of Married, kini publik dihadapkan perseteruan terkait beda arti mudik dan pulang kampung. Betapa tidak, dunia sudah semakin maju. Orang semakin mudah berkomentar melalui ketikan tangan. Tak perlu koar-koar dengan suara, cukup jari jemari menari indah di layar ponsel pintar.

Pada akhirnya, booming juga pernyataan “menarik” orang no satu di Indonesia terkait Mudik vs Pulang Kampung. Bagi beliau sangat beda maknanya. Begitu juga bagi barisan cebongers akut. Dan, pastinya diikuti dengan anggukan para pemudik yang memang mengharuskan pulang kampung.

Namun, bagi para kampreters, tentu akan setengah mati mengatakan mudik dengan pulang kampung itu sama saja. Intinya ya balik ke kampung halaman. Ketemu dengan sanak famili dan handai toulan. Jadi, pada akhirnya ini menjadi peluang terbukanya kembali perdebatan dua kutub retorika politik yang berbeda. Dan, perseteruan keduanya akan selalu ada di dalam setiap kesempatan.

Saya pun tak ingin berdebat tentang arti keduanya. Namun, alangkah lebih bijak memaknai dengan kondisi saat ini. Jika di dalam kondisi pandemi seperti ini, seharusnya makna mudik dan pulang kampung tetap sama. Yaitu balik ke kampung halaman.

Namun, ternyata kebijakan pemerintah yang melarang mudik tidak juga diikuti dengan larangan pulang kampung. Jika memang alasan utama pelarangan adalah pencegahan merebaknya pandemi. Maka setiap orang yang berasal dari daerah terpapar pandemi COVID-19, baik mudik ataupun pulang kampung, mempunyai peluang yang sama membawa virus tesebut. Dan, ini beresiko terjadi penularan.

Tak usah berdebat, nanti kan kalau yang pulang kampung di karantina dulu. Nanti isolasi diri di rumah 14 hari. Nanti pakai APD lengkap jika keluar rumah . Dan bla bla bla….

Bukan itu intinya. Larangan mudik harus ditegaskan artinya bahwa tidak dibolehkan bagi perantau untuk kembali ke daerah asal. Karena potensi pembawa virus cukup besar. Apalagi daerah perantauan sudah terkategori daerah merah. Pada akhirnya pemerintah akan kewalahan jika semakin banyak yang terpapar.

Itu saja dari saya. Semoga wabah cepat selesai.Pemerintah harus selalu sigap. Jangan terkesan melepas tanggung jawab karen aketidakmmpauan. Da, semoga kita dikuatkan untuk bersatu pada dalam melawan corona. Minimal dari kita sendiri, stay at home untuk kebaikan keluarga dan orang terdekat kita.

Mudik atau Balik Kampung: Melawan Pandemi di saat Ramadhan

Orang bilang perjalanan satu tahun itu singkat. Tak terasa kita bertemu kembali pada masa dimana kita pernah mengawali. Besok sudah naik ke kelas XI, padahal baru kemarin rasanya masuk ke jenjang SMK. Besok ulang tahun ke-23, padahal rasanya baru kemarin merayakan ulang tahun yang ke-22.  Begitu pula, besok sudah masuk bulan Ramadhan yang tentu terasa cepat sekali menghampiri kita. Rasa-rasanya baru kemarin kita merasakan mudik, berlebaran dengan keluarga terkasih. Besok sudah mulai puasa, yang artinya dimulai lagi perjalanan menuju lebaran tahun ini. Meskipun kita tahu, harapan untuk bisa berkumpul dengan keluarga agaknya dipendam dulu.

Pandemi COVID-19 memaksa kita untuk menunda dulu balik kampung atau mudik. Terserahlah saat ini lagi ramai dibincangkan beda mudik dan pulang kampung. Tetapi intinya, tahun ini memang tidak mudah untuk memutuskan balik kampung. karena COVID-19 membuat jarak bagi kita dan sekeluarga. Tapi tak apalah kalau memang itu yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan keluarga terkasih. Rasanya itu pun tak masalah. Walaupun juga banyak pula yang pro kontra dengan stay at tanah rantau. Bagi yang tak berpenghaslilan lagi ini sungguh menyiksa.

Kita dipaksa untuk tidak mudik, tetapi tak ada penghasilan yang didapat untuk kehidupan sehari-hari. Apalagi untuk  persiapan hari raya nanti. Pemerintah pun tak berdaya dengan hal ini. Melarang mudik tapi tak ada solusi yang konkret dan mengena di hati masyarakat. Bantuan subsidi lewat PLN, bantuan PKH maupun yang lain masih diragukan keakuratan datanya.

Tersebar berita di sana bantuan tak tepat sasaran. Banyak lansia, janda yang tak mampu, rumah berdinding anyaman bambu, tak dapat menikmati bantuan itu. Banyak rumah bertembok semen, hp android tapi bantuan dapat. Hanya karena kedekatan dengan aparat. Entahlah, jika ini benar, mau sampai kapan kita orang Indonesia ini punya empati dan nurani dengan tetangga sekitar.

Momen seperti ini tentu memang menyiksa semua. Kehadiran bulan Ramadhan di tengan kondisi seperti ini, hanya membuat diri merenung. Lakukan yang terbaik untuk kehidupan kita masing-masing. Ramadhan kali ini harus dibarengi dengan kekuatan iman yang tinggi. Kita dihadapkan dengan tamparan dari Tuhan, bahwa kita manusia ini tak berdaya. Tak punya kuasa.

DIlemparkannya virus tak kasat mata, tapi tak berdaya menghadapinya,. Semua sendi kehidupan kolaps. Tatanan ekonomi, politik bahkan hati nurani pun goyah dengan pandemi virus ini. Nurani lah yang penting saat ini. Saat kondisi seperti ini, kita dipaksa lebih perhatian dengan sekitar, bukan malah curiga dan salng menyalahkan.

Semoga pandemi ini segera berlalu, seiring datangnya bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.

Semoga kita sudah meyiapkannya dengan baik.

Amiin.

Ujian pun Diliburkan Gegara Corona

Jenjang SMK sudah masuk dalam tahap Ujian Satuan Pendidikan (USP) pada minggu ini. USP yang dulu lebih dikenal dengan USBN harus tertunda karena adanya vius corona. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, melalui Gubernur Sutarmidji menginstruksikan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat untuk menunda semua aktivitas ujian yang sedang diadakan di sekolah. Setelah beberapa waktu yang lalu, Bang Midji juga menginstruksikan untuk meliburkan semua jenjang kelas baik dari PAUD, TK, SMP, kelas X dan XI SMA dan SMK.

Langkah ini bagian dari tanggap darurat untuk memutus dan memperlambat kaju penyebaran virus corona. Mudahnya penyebaran wabah virus corona, menjadikan kekhawatiran tersendiri. Sehingga meliburkan anak sekolah untuk tetap belajar dan diam diri di rumah adalah langkah yang tepat.

Kami panitia juga diminta untuk mempersiapkan segala sesuatu di rumah. Urusan administrasi ujian tetap harus dikerjakan sembari menunggu konfirmasi lanjutan terkait kapan sekolah mulai aktif lagi.

Tidak ada yang mau dengan keadaan seperti ini. Namun apalah daya, kita sebagai warga yang baik harus berpikir positif dan tetap menjaga situasi kondusif. Maka langkah yang paling mudah adalah jangan panik dan cobalah mengurangi aktivitas yang bersifat kumpul dengan khalayak ramai. Mengisolasi diri dalam arti meminimalisir keluar rumah adalah langkah tepat untuk mengamankan keluarga dan orang di sekitar kita.

Maka dari itu, jangan bertindak sombong dan ceroboh seolah-olah meremehkan virus ini. Hidup mati memang sudah ditentukan. Tetapi, menghindari untuk tidak tertular adalah langkah terbaik saat ini. Kalau tidak keluarga kita yang jadi taruhannya.

Jangan ngeyel dengan anjuran dari pihak terkait. Mereka lebih tahu dengan virus ini. Ini bagian dari ikhtiar kita, supaya wabah virus corona ini cepat selesai dan semua kembali normal.