Humanisme dalam Kebijakan Perusahaan

ImageSetiap manusia tentu ingin diperlakukan sebaik mungkin oleh orang lain. Perasaan ini tentu wajar karena setiap orang mempunyai kewajiban untuk menghargai dan mempunyai hak untuk dihargai. Perlakuan yang baik terhadap orang lain tentu saja dapat memberikan efek yang positif bagi diri sendiri, yaitu berupa perlakuan yang baik pula dari orang lain kepada kita. Kalau kita renuingi hubungan sosial seperti seperti hubungan timbal balik. Dan patut kita sadari hubungan timbal balik seperti ini dalam masyarakat tentu mempunyai efek yang bagus untuk pergaulan kita tetapi bisa jadi  menjadi efek negatif apa bila kita tidak mampu untuk berbuat baik pada masyarakat ataupun indivisu dalam masyarakat.

Sama halnya dalam lingkungan pekerjaan, prinsip seperti ini akan berlaku sama. Kebijakan-kebijakan perusahaan yang bersifat manusiawi tentu menjadi sebuah dorongan positif bagi kinerja karyawan dalam menyongsong kesuksesan. Dari hal tersebut, ada pertanyaan mendasar kenapa harus dimulai dengan  kebijakan perusahaan yang harus manusiawi, kenapa tidak kinerja karyawan yang harus menyesuaikan dengan tingkat produktifitas yang ditetapkan perusahaan sehingga menimbulkan kebijakan yang manusiawi? Dua logika pertanyaan tersebut tentu sangat berkebalikan, satu sisi dari pihak perusahaan yang harus memahami dan menyadari kondisi karyawan sehingga mampu meningkatkan kinerja dan kesejahteraan karyawannya dengan kebijakan yang manusiawi, sedangkan sisi lainnya adanya “pemaksaan” tingkat produktifitas perusahaan yang harus dijalankan karyawan untuk mendapatkan kebijakan yang manusiawi.

Saya yakin dari kita semua akan memilih option pertama, yaitu semua bermula dari kebijakan yang manusiawi dari perusahaan yang efeknya mampu untuk meningkatkan kinerja dari karyawan. Hal ini sangat jelas dalam logika berpikir siapapun, sehingga tidak ada alasan yang benar apabila sebuah perusahan menuntut kinerja yang tinggi tanpa diiringi dengan kebijakan yang manusiawi. Tetapi akan sangat mudah kita cermati dengan kebijakan yang manusiawi akan meningkatkan kesadaran karyawan untuk berbuat lebih baik dan produktif karena merasa diperhatikan oleh pihak pimpinan perusahaan.

Dari pembahasan tersebut, sangat layak kita simpulkan peranan pemimpin perusahaan/ manajer perusahaan sangat penting. Karena kebijakan perusahaan muncul dari pemimpin perusahaan maupun manajer perusahaan. Artinya jiwa kepemimpinan manajer perusahaan sangat diperlukan untuk lebih peka terhadap kondisi karyawan agar kebutuhan perusahaan juga terpenuhi secara langsung maupun tidak langsung. Karakter yang dibawa oleh manajer perusahaan mempengaruhi sifat dari kebijakan yang dibuat. Dan ini menjadi sumbu utama bagaimana suatu kebijakan dapat lahir menjadi sebuah peraturan perusahaan yang humanis atau tidak.

Seperti yang dijelaskan oleh pakar managemen bisnis, Tony Schwartz bahwa kepemimpinan pemilik perusahaan sangat menentukan arah kebjakan perusahaan, seorang pemilik perusahaan yang baik harus mengubah paradigmanya, dari memeras pekerja untuk mendapatkan keuntungan, menjadi lebih memperhatikan dan berupaya memenuhi empat kebutuhan dasar dari pekerjanya, yakni kebutuhan fisik, emosional, mental, dan spiritual. Dengan memenuhi empat kebutuhan dasar tersebut, karyawan akan lebih  bersemangat untuk bekerja lebih baik sehingga secara tidak langsung tingkat produktifitas kerja diharapkan akan naik.

Dalam konteks yang lain, seorang manajer perusahaan harus mampu menjadi motivator, inspirator dan menjadi penggerak motor perusahaan yang baik. Keadaan ini akan tercipta manakala setiap manajer perusahaan mampu melihat kondisi komponen perusahaannya. Dan dalam hal ini, karyawan adalah komponen yang paling penting. Karena karyawan mampu menghasilkan suatu daya yang teramat besar untuk memajuan suatu perusahaan.

Maka dari itu, harus ada paradigma yang berubah dari manajer perusahaan bahwa seorang karyawan bukanlah pesuruh, budak ataupun pelaksana apa yang menjadi keinginan probadi sang pemilik perusahaan untuk selalu untung dalam pertarungan bisnis. Tetapi akan lebih baik suatu manajer mampu menaruh hormat kepada karyawan sehingga karyawan merasa mempunyai harkat dan martabat sebagai manusia yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Bahkan akan lebih baik lagi apabila suatu manajer perusahaan/pimpinan perusahaan mampu menganggap karyawan sebagai mitra bekerja, di mana posisi sang manajer sebagai nakhoda perusahaan sedangkan karyawan adalah ABK perusahaan. Ketika sang nakhoda mempunyai karakater yang baik dalam memimpin maka sangat mungkin karyawan sebagai ABK perusahaan akan berkeja sesuai dengan instruksi nakhoda dengan penuh semangat.

Dari simpulan tersebut, adanya serikat pekerja dalam sebuah perusahaan akan sangat membantu karyawan dalam mengakomodir kebutuhan karyawan kepada perusahaan. Begitu pula dengan perusahaan, tidak perlu menganggap suatu serikat pekerja hanyalah penghambat untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Tetapi akan menjadi sangat mudah ketika perusahaan mau dan mampu memberdayakan serikat pekerja untuk bekerja sama dengan baik. Hanya saja di Indonesia sebagai negara berkembang, para karyawan belum tersadar akan arti pentingnya berserikat atau berkumpul. Padahal berserikat dan berkumpul sudah dijamin oleh pemerintah dalam Pasal 28 UUD 1945. Dan kegiatan berserikat dan berkumpul bagi karyawan dapat menajdi suatu sarana perlindungan apabila suatu perusahaan mengeluarkan kebijakan yang merugikan karyawan. Paling tidak dengan adanya serikat pekerja, seorang karyawan mempunyai tempat mengadu yang akan diakomodir menjadi sebuah protes terhadap kebijakan suatu perusahaan.

Tetapi belakangan ini, fenomena munculnya demo-demo serikat pekerja sudah membuktikan bahwa tingkat kesadaran para karyawan sudah baik mengenai kebebasan berserikat. Sehingga hal ini menimbulkan suatu demokratisasi dalam suatu perusahaan. Keadaan ini seharusnya mampu dibaca oleh perusahaan adanya kekuatan yang cukup masif yang perlu mereka berdayakan. Yaitu kekuatan masa dari karyawan utnuk bersatu. Ketika hal ini mampu dibaca dengan benar, suatu perusahaan dapat menjadi besar apabila mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang manusiawi dan mampu memenuhi empat kebutuhan dasar seperti yang diungkapkan Schwartz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s