Pro Kontra Perayaan Maulid Nabi

maulid-nabi1Perbedaan mengenai perayaan maulid Nabi Muhammad SAW selalu mewarnai ketika maulid nabi menjelang. Ada sebagian pihak yang berpendapat, bahwa perayaan maulid Nabi Muhammad tidak diperbolehkan karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad selama hidupnya. Sehingga haram bagi kita untuk merayakan padahal Rasulullah tidak mencontohkannya. Sebagian pula berpendapat, bahwa merayakan maulid Nabi Muhammad tidak masalah sepanjang kita tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akidah Islam. Tetapi masih dalam batas untuk kembali menghidupkan semangat cinta Rasul. Karena masyarakat sekarang umumnya hanya beribadah ala kadarnya tanpa mengingat bagaimana teladan dan besarnya perjuangan beliau untuk menyebarkan Islam.

Dalam sepanjang sejarah kebudayaan Islam pun ada momen-momen tertentu bagaimana maulid Nabi dirayakan dalam rangka mengingat kembali kelahiran beliau. Dan semua itu mempunyai ending untuk menghidupkan kembali kecintaan terhadap Nabi Muhammad. Menghidupkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad dalam arti bahwa pada waktu itu banyak orang yang kehilangan semangat berjuang untuk Islam dan banyaknya kesultanan-kesultanan (pusat-pusat pemerintahan) yang cenderung apatis terhadap perkembangan Islam sehingga kondisi ini melemahkan kekuatan Islam padahal keadaan sangat kacau dengan adanya pertentangan dari musuh-musuh Islam. Sehingga muncullah perayaan Maulid Nabi untuk kembali mengingatkan bagaimana kebesaran Islam melalui kelahiran Nabi Muhammad.

Ada beberapa versi mengenai kemunculan pertama kali perayaan Maulid Nabi ini. Ada yang mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi ini dimulai oleh Salahudin Al Ayyubi sebagai reaksi dari perayaan Natal oleh kaum Nasrani. Hal ini dilakukan karena pada waktu itu, umat Nasrani dan Islam hidup berdampingan dan memberikan pengaruh antara satu dengan lainnya.  Versi lain ada yang mengatakan Maulid Nabi dimulai pada dinati Fathimiyah di Mesir pada abad 4 Hijriyah. Dan perayaan ini berlanjut hingga hingga sekarang, bahkan selalu ramai dirayakan di beberapa belahan dunia  salah satunya di Indonesia, karena banyak yang menganggap pada momen ini menjadi momentum untuk melakukan dakwah islam secara masif.

Hal ini dikarenakan, banyaknya umat Islam yang sebenarnya rindu akan sosok seorang nabi Muhammad. Momentum ini menjadi sebuah perayaan untuk kembali mengingat dengan jelas bagaimana kelahiran serta perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam. Walaupun sebenarnya, ingat dan cinta kepada Nabi Muhammad hendaknya selalu kita lakukan setiap saat dalam hidup kita. Bukan dalam momen-momen tertentu. Tetapi itulah manusia, terkadang terlena dengan kenikmatan dunia, hingga melupakan semua yang semestinya diingat dan dikerjakan.

Dalam perkembangan itu pula, berbagai macam pro dan kontra selalu mengiringi perayaan maulid Nabi. Berbagai macam hujjah saling menguatkan untuk mendukung konsistensi kepercayaan mereka mengenai boleh dan tidaknya merayakan maulid Nabi. Berbagai macam ulama pun memberikan pernyataan mengenai boleh atau tidaknya melakukan perayaan maulid Nabi.

Berikut beberapa hujjah/dalil yang tidak memperbolehkan merayakan maulid Nabi yang saya olah dari berbagai sumber.

  1. Nabi SAW :  “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya adalah di neraka”
  2. Hadis Nabi SAW : “Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam urusan kami (dalam hal ini agama) apa yang tidak darinya, maka amalan tersebut tertolak”
  3. Perayaan maulid tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah SAW maupun para sahabatnya.

Beberapa ulama pun yang tidak memperbolehkan merayakan maulid Nabi antara lain Syeikh Sholeh Al ‘Utsaimin, Syeikh Albani, Ibn baz maupun ulama salafiy. Secara khusus Syeikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utasimin mengemukakan dalam Majmu Al Fatawa yaitu dalam bid’ah-bid’ah maulid Nabi yang terjadi setelah berlalunya tiga generasi mulia, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in- terdapat pula kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya, yang bukan dari pokok ajaran dien. Terlebih lagi terjadinya ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yang lain”.

Berikut beberapa hujjah/dalil yang memperbolehkan adanya perayaan maulid Nabi.

  1. Katakanlah (Muhammad), sebab keutamaan dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini mengarahkan kita untuk bergembira (tapi tidak yang berlebihan).

  1. Qiyas : cerita tentang pembebasan budak Tsuwaibah oleh Abu Lahab karena memberi kabar tentang kelahiran Rasulullah SAW. Pada suatu ketika Abbas bin Abdul Muthalib bermimpi tentang Abu Lahab, lalu beliau bertanya tentang kondisinya? Lalu Abu Lahab menjawab : Aku tidak menemui kebaikan sedikit pun, kecuali tatkala aku memerdekakan hambaku Tsuwaibah. Hal inilah yang meringankanku dari siksaan setiap hari senin (diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan ibn Hajar Al’asqalani) kalau seorang yang kafir saja diringankan siksaannya karena bergembira di hari kelahiran Rasulullah SAW, apalagi muslim?
  1. Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya : 107)

Beberapa ulama yang memperbolehkan adanya perayaan maulid Nabi antara lain ibn Hajar Al’asqalani, imam Jalaluddin As-Suyuthi, Dr. Yusuf Qardhawi dan beberapa ulama kontemporer lainnya. Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah mengatakan bahwa telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Al Qur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?  Telah berfirman Allah swt “sungguh Allah telah memberikan anugerah pada orang-orang mukminin ketika dibangkitkannya rasul dari mereka” (QS Al Imran 164).

Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah mengatakan sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia”. (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252). Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama: “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

DR. Yusuf Qardhawi adalah salah satu ulama yang membolehkan perayaan maulid akan tetapi beliau tidak membenarkan jika perayaan tersebut diisi dengan hura-hura, berunsurkan syirik, iktilath (campur) antara lelaki dan perempuan, mubazir makanan dan harta, berkurban untuk alam, berdesak-desakan sehingga menyebabkan bentrok, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan syariat. Namun, jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.

Sebagai orang awam, kita dapat melihat dengan jelas ada sebuah benang kusut dari dua pendapat yang saling bertentangan di antara keduanya. Yaitu masalah bid’ah. Bagi kalangan yang menentang, bid’ah merupakan perkara yang harus dihindari karena Nabi tidak pernah melakukan sehingga kita tidak boleh melakukan. Apabila kita melakukan maka terdapatlah dosa dalam diri kita karena melakukannya. Tetapi bagi kalangan yang memperbolehkannya, bid’ah merupakan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi dan dilarang Nabi apabila dilakukan dalam ibadah pokok (mahdah) tetapi bid’ah dapat dilakukan di luar aktivitas/ritual ibadah yang pokok. Artinya, masih ada ruang untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi di luar aktivitas ibadah pokok. Dan hal itu mereka sebut dengan bid’ah hasanah. Bid’ah hasanah merupakan bid’ah yang baik. Bid’ah yang dapat meningkatkan keimanan bagi diri, atau setidaknya mampu memberikan dampak yang positif bagi perkembangan ruhaniah sesorang dengan melakukan hal-hal yang bernilai kebaikan di luar ibadah pokok.

Apa yang semestinya kita lakukan? Kita mungkin berdiri di salah satu sisi, baik di sisi yang menentang ataupun pada posisi yang ikut merayakan adanya maulid Nabi. Tetapi yang menjadi pokok persoalan adalah kalaupun terdapat perbedaan pendapat seperti itu seharusnya kita tidak boleh untuk menghakimi pihak lawan sebagai pihak yang menyimpang bahkan kasarnya kafir. Toh, kita masih sama-sama melakukan ibadah-ibadah yang mahdah dengan cara yang sama sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah.

Apabila kita sudah berani menghakimi saudara yang muslim sebagi kafir, maka berarti dia telah mengklaim dirinya paling benar. Dan itu merupakan sebuah kesombongan yang nyata. Bagi saya, selama itu masih dalam wilayah furu’iyyah (cabang) terdapat ruang untuk berbeda pendapat tetapi tidak ada ruang untuk saling menghakimi salah maupun benar dari suatu pendapat. Menghormati pendapat yang berbeda dengan berbagai hujjah yang ada merupakan sikap yang semestinya dilakukan oleh semua pihak. Hal ini justru akan membantu kita sebagai umat muslim untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan kepahaman kita. Tanpa disibukkan dengan mencari kesalahan-kesalahan dari saudara sesama muslim. Masih banyak pekerjaan rumah bagi kita semua yang sadar akan pentingnya dakwah Islam untuk benar-benar berkomitmen menyebarkan dakwah Islam ke semua penjuru negeri bahkan dunia. Maka dari itu, sudahi pertentangan antarsesama muslim, bersatu padu membendung pengaruh luar yang saat ini menggerogoti iman dan akidah Islam anak-anak muda kita. Hal ini jauh lebih bermanfaat sahabatku. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s