Tukar Nasib

ImageSore kemarin (29 Januari 2013), Radio SOLOPOS menyiarkan diskusi  mengenai menyikapi tontonan televisi yang berdampak tidak baik bagi masyarakat. Perbincangan ini disiarkan melalui jaringan radio di seluruh Jawa Tengah dan Yogya. Perbincangan tersebut mencoba untuk mengupas berbagai tayangan televisi yang memiliki dampak jelek bagi masyarakat secara sosial. Perbincangan ini dikupas oleh LeSPI (Lembaga Studi Pers dan Informasi).

Ada satu statement yang menarik bagi saya dari diskusi tersebut mengenai tayangan Tukar Nasib yang tayang di salah satu stasiun televisi di Indonesia. Menurut pembicara, tayangan tersebut tidak mendidik bagi masyarakat karena lebih terlihat bagaimana mengekspos kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin.

Bagi si kaya, bisa jadi itu menjadi pengalaman berharga karena mereka merasakan bagaimana sulitnya hidup ditengah keterbatasan ekonomi. Berhadapan dengan kerasanya hidup seperti susahnya mencari penghasilan yang bisa mencukupi hidup. Atau bahkan kalau benar-benar mau merasakan getirnya hidup si miskin, berarti harus mau dan mampu untuk tidak makan dalam waktu-waktu tertentu. Mengurus kondisi rumah yang reyot karena tak ada biaya memperbaiki. Setiap malam tidur ditemani hawa dingin karena hampir semua tembok rumah terbuat dari anyaman bambu. Belum lagi merasakan gatal-gatal karena tidak terbiasa tidur di atas selembar tikar.

Beberapa hal tersebut mungkin baru sekedar sampel kehidupan si miskin yang tentu saja hanya bisa mereka nikmati satu-dua jam atau satu-dua hari. Apa ending dari si kaya  melihat dan merasakan kegetiran hidup dari si miskin? Jawabannya sudah pasti  bisa kita tebak, rasa haru dan rasa iba melihat dan merasakan getirnya kehidupan si miskin. Lalu, setelah itu apa tindak lanjut dari si kaya? Kita semua tidak tahu, karena setiap orang pun mempunyai kepentingan dan urusan hidup masing-masing. Bisa jadi apa yang mereka rasakan selama menjadi “miskin” akan segera terlupa. Tetapi bisa jadi dengan adanya program tersebut mampu mengetuk hati semua orang kaya bahkan mampu menggerus kesombongan orang-orang kaya terhadap kesenjangan ekonomi dengan orang miskin. Tetapi kehidupan selalu berjalan, kita tidak tahu apa yang terjadi di kemudian hari.

Bagi si miskin, kita harus melihat dengan kacamata yang jelas dan jeli. Program tersebut, hanya sekedar menawarkan sebuah mimpi dan angan-angan untuk menjadi kaya. Menikmati ketersediaan segala kebutuhan hanya dalam hitungan jam ataupun hari. Program tersebut seakan menawarkan iming-iming begitu nikmatnya menjadi orang kaya. Terlepas rasa senang yang dirasakan oleh si miskin menikmati nikmatnya menjadi orang kaya sesaat, program tersebut sangat tidak mendidik. Bahkan lebih parah saya menyebutkan keterlaluan. Hal ini mestinya harus di sadari oleh si miskin bahwa apa yang mereka rasakan hanya sesaat. Dan bisa jadi program tersebut hanya sekedar mengeksploitasi kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Dan kalau dirunut lebih mendalam, bagi saya itu menjadi sebuah penghinaan bagi si miskin.

Bagaimana tidak, kenikmatan yang ditawarkan hanya sesaat dan itu pun hanya digunakan untuk kepentingan bisnis. Tanpa memerhatikan gejolak sosial tentang kesenjangan, progran tukar nasib mengumbar angan-angan yang kenyataannya sangat sulit untuk diwujudkan oleh si miskin. Mungkin saja memang bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi si miskin untuk berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan penghasilan yang memadai. Tetapi dalam kenyataannya, mereka bahkan mencari uang untuk hidup sehari sangat lah susah. Apalagi harus bermimpi memiliki mobil maupun rumah mewah yang jauh dari jangkauannya. Kalaupun toh ada tindak lanjut dari program tersebut dengan memberikan bantuan yang memadai bagi keberlangsungan hidup si miskin dalam jangka waktu yang lama dengan bantuan modal usaha ataupun sesuatu yang berharga untuk mencari penghasilan tentulah hal itu akan lebih baik. Bahkan akan jauh lebih baik, adanya pendampingan usaha dilakukan oleh pihak stasiun tv tersebut maupun dari si kaya untuk membantu kondisi hidup dari si miskin.

Semoga saja para pemegang kebijakan televisi di Indonesia mampu dan mau menciptakan progran yang bermutu dan bermoral. Sehingga peranan pendidikan moral oleh media massa dapat dijangkau lewat program yang bermutu. Bukan sekedar untuk mengeruk penghasilan dan kekayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s