Siap Nikah Siap Mandiri*

tinggal-bersama-mertuaSuatu waktu, ada pertanyaan dari istriku, kapan mas kita punya rumah sendiri? Terhenyak dengan pertanyan itu, aku pun hanya bisa menjelaskan langkah-langkah yang akan kita tempuh untuk beberapa tahun ke depan. Karena aku sendiri juga tak mampu memberikan janji padanya, tetapi  paling tidak aku ingin memberikan gambaran kemana kita harus mendayung keluarga kecil yang baru berlayar selama 4 bulan ini. Saat ini, dan saya yakin ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar pasangan yang baru menikah pasti sementara waktu hidup dan tinggal bersama orang tua/mertua.

Sama hal nya aku dan istriku, sementara waktu memang masih tinggal bersama orang tua. Tetapi, aku dan istriku bertekad (bahkan sebelum kami menikah) untuk  keluar (bertempat tinggal) dari rumah orang tua dan ingin mencoba untuk mandiri setelah menikah. Tetapi keinginan itu ditentang oleh orang tua. Saya pun yakin, semua keluarga yang baru menikah kemudian ingin mencoba mandiri dengan keluar dari rumah akan ditentang oleh orang tua.

Ketakutan orang tua karena ekonomi yang belum stabil, takut anaknya hidup susah, kalau hidup dengan orang tua bisa menabung karena kehidupan sehari-hari bisa ditopang oleh orang tua, eman-eman kalau uang tabungan sekarang digunakan untuk mengontrak rumah dan berbagai alasan yang diutarakan untuk menggugurkan keinginan kami untuk mandiri. Pasti hal seperti ini juga dialami semua keluarga kecil yang ingin mandiri. Dan, akhirnya kami pun benar-benar memutuskan untuk mengontrak rumah selama 1 tahun ke depan setelah berdebat hampir 1 bulan untuk meminta ijin orang tua untuk mengontrak.

Sahabat, ada beberapa keuntungan yang bisa diambil apabila kita ingin hidup  mandiri terpisah dengan orangtua. Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan bagi Anda untuk pisah rumah dengan orang tua setelah menikah.

  • Berlatih Mengelola Rumah Tangga

Idealnya dalam rumah tangga cukup satu nakhoda yang memimpin laju keluarga. Dalam konteks, memberanikan diri untuk hidup mandiri hal ini sangat tepat. Karena selama kita masih ikut dengan orang tua, secara tidak langsung harus kita akui bahwa keluarga kita berada dalam pimpinan orang tua. Hal ini dapat mengkerdilkan peran suami untuk mengeloloa sendiri rumah tangganya. Pengambilan keputusan suami akan lebih obejktif bila diambil berdasarkan pertimbangan istri. Tetapi terkadang, selama kita masih bersama orang tua, keputusan suatu masalah masih dipengaruhi oleh pendapat-pendapat orang tua. Hal ini tidak bisa memberikan ruang belajar yang lebih untuk mandiri dengan segala keputusan dan resiko yang akan dihadapi.

Bukan berarti mengesampingkan peran orang tua yang sudah pengalaman. Tetapi kita harus meletakkan peran orang tua sebagai penasehat bukan sebagai pengambil keputusan dalam keluarga kita. Maka dari itu akan sangat baik apabila suami bisa menentukan keputusan yang terbaik bagi keluarga kecilnya tanpa harus merasa “terintimidasi” pilihan/nasehat orang tua yang  mungkin tidak sejalan dengan pola pikir kita.

  • Privatisasi Rumah Tangga

Selama ini saya berkeyakinan, bahwa apapun masalah yang terjadi dalam keluarga kecil saya, itu  menjadi tanggung jawab dan rahasia dari kami berdua. Orang lain tidak boleh tahu sekalipun itu orang tua kita, selama kami masih mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Inilah yang saya sebut ptivatisasi rumah tangga.

Setiap kejadian yang sifatnya “masalah”harus berani untuk diselesaikan sendiri  tanpa harus meminta bantuan orang tua atau bahkan mendengar masalah kita pun sangat saya hindari. Dengan seperti ini kita mencoba menegaskan kepada diri kita khususnya bahwa kami sudah berkeluarga maka kami harus berani menghadapi masalah atau beban hidup yang akan kita jalani.

  • Bebas Mewujudkan Impian Keluarga

Setiap keluarga memiliki impian yang ingin diwujudkan. Setiap keluarga mempunyai arah dan tujuan yang telah dirumuskan dan direncanakan berdua. Tanpa ada orang lain tahu atau bahkan menghambat dalam mewujudkan keinginan itu. Ketika kita hidup mandiri, kita bebas untuk berjuang mewujudkan keinginan kita tanpa harus ada “campu tangan” orang tua. Karena terkadang, apa yang kita lakukan  bisa jadi mendapat tentangan dari orang tua. Karena pola pikir kita tidak sejalan dengan orang  tua. Hal itu sering saya alami. Maka dari itu kesempatan untuk hidup mandiri merupakan kesempatan yang emas untuk meraih langkah awal dalam mewujudkan impian keluarga kecil kami.

  • Kemandirian dalam Rumah Tangga

Apapun yang kita lakukan menjadi pilihan kita. Apapun yang menjadi masalah dalam keluarga menjadi tantangan pendewasaan diri dalam berkeluarga. Apapun yang ingin kita putuskan menjadi tanggung jawab kita untuk bersiap menerima konsekuensinya. Apapun itu dalam kelurga kita menjadi kewajiban kita untuk mengurusnya. Itulah kemandirian kita dalam berumah tangga. Dan, itu mempunyai pengaruh yang sangat baik bagi kondisi psikologiskeluarga kecil kita.

Beberapa hal tersebut merupakan pandangan yang subjektif dari saya tetapi hal tersebut merupakan sesuatu yang pastinya akan kita dapatkan selama kita mau dan mampu untuk hidup terpisah dengan orang tua dan hidup mandiri. Selamat menempuh kemandirian dalam berkeluarga.

*Tulisan ini ditulis apabila dalam suatu keluarga masih dalam kondisi normal. Orang tua masih lengkap dan kita mempunyai pilihan untuk hidup mandiri terpisah dengan orang tua. Berbeda kasus ketika salah satu orang tua kita sudah meninggal dan kita tidak punya pilihan untuk tetap setia  mengurus dan menemani orang tua kita. Ataupun kondisi keuangan yang masih minim untuk hidup mandiri.

3 thoughts on “Siap Nikah Siap Mandiri*

  1. ellaa

    Sebagian besar memang menginginkan hidup mandiri..dan ingin mewujudkan impian.. keluarga yg utuh dan bahagia……… aku pengen.

    Reply
  2. Khusain

    Benar begitu adanya mas, tapi banyak kendala baik dari orangtua kita sendiri dan juga dari masalah lain. Yang ingin saya tanyakan, jika kita sudah sampaikan keinginan kita dengan baik, dan orang tua mengijini tetapi malah memilih juga untuk pergi saja jika tidak mau kumpul. Aku bingung. . . Karena dia adalah seorang ibu. Dan aku tidak ingin dia pergi jauh, aku kira ibuku salah paham.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s