Encouragement!

powerofEncouragement--www.revivallifestyle.comSering kali kita mendengar media (baik cetak maupun elektronik) memberitakan kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan yang seharusnya tidak pantas dilakukan dalam institusi tersebut. Kasus-kasus yang terjadi pun beragam dari mulai yang disebabkan oleh siswa ataupun kasus-kasus yang dilakukan oleh oknum guru. Bahkan kabar terbaru adanya kasus guru yang mengikat kaki beberapa siswa dengan kursi atau meja selama beberapa hari hingga mengakibatkan memar di pergelangan kaki dan harus masuk rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.

Kemudian saya berpikir mengapa para oknum guru di Indonesia masih saja memberikan suatu hukuman bagi siswa yang bersifat tidak mendidik? Apakah sudah hilang naluri mendidik mereka sehingga apa yang dilakukan di luar nalar sebagai seorang pendidik terhadap siswa. Walau bagaimanapun juga, siswa masih labil dalam menentukan jati diri mereka. Sehingga seharusnya kita melihat apa yang mereka lakukan (baik dipandang buruk atau baik) terkadang hanya upaya mereka untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai seorang pemuda. Dari masalah tersebut peran yang paling penting harus disadari dan diambil oleh guru.

Guru harus bisa membawa tingkat labilitas emosi mereka untuk diarahkan ke arah yang positif. Siswa yang mempunyai kebiasaan yang menurut kita salah, bisa jadi akan menjadi salah satu pendukung terbaik baik bagi kemajuan sekolah apabila pihak guru mampu mengarahkan dengan benar. Orang yang kelihatan bermasalah, kalau saya amati mereka adalah orang-orang yang kreatif, mempunyai semangat tinggi terhadap komunitas serta mempunyai persaudaraan yang kuat dalam pertemanan. Banyak cara untuk mejadikan mereka sebagai orang-orang yang berguna bagi sekolah. Misalkan beri mereka sebuah tanggung jawab untuk menjadi delegasi sekolah dalam sebuah ajang. Biasanya siswa yang bermasalah, mereka sangat unggul dalam nonakademis. Lebih spesifik mereka biasanya menonjol di bidang olahraga dan seni. Maka hal ini menjadi sebuah jembatan untuk mengoptimalkan potensi mereka dan meminimlisir kenakalan yang bisa mereka timbulkan apabila tidak diarahkan dengan baik.

Dalam konteks belajar mengajar, mengarahkan dan memotivasi siswa untuk berprestasi dalam bidang akademik juga tidak kalah penting. Siswa akan selalu tertarik dan termotivasi apabila seorang guru mampu memberikan atmosfer yang baik ketika dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, guru harus bisa menjadi creator of situation di dalam kelas. Bila siswa menghargai suatu aktivitas belajar karena ia memang menyukai aktivitas tersebut (motivasi instrinsik) maka ia cenderung akan terlibat secara lebih intens dalam proses pembelajaran (Tobias, 1987). Memberikan metode yang menarik, memberikan encouragement (penghargaan/motivasi) dan punishment (hukuman bersifat mendidik) serta menjadi guru yang berempati terhadap perkembangan siswa menjadi modal yang utama menjadikan siswa termotivasi untuk semangat belajar.

Metode yang  Menarik

Metode yang menarik memang menjadi pilihan yang pertama dilakukan oleh para guru. Hal ini pula yang menjadikan siswa lebih terkesan dengan pelajaran serta menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Terkesan dalam artian bahwa siswa menganggap guru mampu membawa siswa menghindari kejenuhan dalam rutinitas pembelajaran di kelas. Guru mampu mengurangi bahkan menghilagkan tingkat kejenuhan dengan metode-metode yang relevan dengan situasi dan kondisi. Selain itu, beragamnya metode pembelajaran yang dilakukan guru, menjadikan siswa lebih menghargai guru karena kacakapan dalam mengatur ritme belajar mereka dan memberikan kemudahan bagi siswa untuk berekspresi dalam proses pembelajaran.

Ekspresi siswa dalam pembelajaran merupakan indikator siswa yang menyimpulkan ketertarikan maupun ketidaktertarikan siswa terhadap metode atau pelajaran. Dari sini dibutuhkan kecakapan guru untuk merubah maupun memberikan variasi metode seketika itu pula tanpa mengganggu semangat dan motivasi siswa dalam belajar.

Memberikan Encouragement (Penghargaan/Motivasi) dan Punishment (Hukuman Bersifat Mendidik)

Apakah Anda sudah membaca sebuah artikel dari Prof. Rhenald Kasali, Ph.D yang menurut saya fenomenal. Mengapa fenomenal? Karena ketika saya mengetikkan kata encouragement di Google maka yang muncul tulisan beliau yang telah di sebarkan (copy paste) melalui situs berita online maupun berbagai blog. Luar Biasa!

Apa yang beliau tulis mengenai encouragement merupakan sebuah kebiasaan yang telah dilakukan oleh kebanyakan guru di luar negeri terkhusus di Amerika Serikat. Tetapi masih langka dilakukan oleh kebanyakan guru di Indonesia. Menurut pengalaman beliau, memberikan encouragement (penghargaan) kepada siswa mampu memberikan motivasi siswa untuk belajar lebih baik. Memberikan punishment yang negatif tidak akan menjadikan siswa lebih terdorong untuk berkreasi tetapi malah akan menjadikan efek negatif bagi perkembangan jiwa. Sehingga encouragement penting untuk dilakukan agar siswa terdorong menjadi insan kreatif, cerdas dan mengalami kemajuan dalam bertumbuah dan berkembang.

Guru yang Berempati

Menjadi guru yang mempunyai rasa peduli terhadap perkembangan siswa saat ini bisa dikatakan masih langka. Walaupun begitu, saya pun tidak berkecil hati karena saat ini banyak pengajar-pengajar muda bersemangat untuk mengabdikan diri mereka untuk mencerdaskan bangsa. Sebut saja program dari Anis Baswedan melalui Indonesia Mengajar, atau lewat program SM3T dari pemerintah. Kedua program tersebut memberikan kesempatan untuk mengajar dengan hati di daerah pelosok-pelososk Indonesia. Mereka mengabdikan diri untuk membantu anak-anak bangsa yang masih belum terjangkau pendidikaan yang baik.

Melalui program ini saya berpikir akan mampu mencetak pengajar-penhajar muda yang mampu berempati dan peduli terhadap kondisi siswa. Mereka telah melalui perjuangan yang  amat berat merasakan sulitnya akses pendidikan anak-anak bangsa yang terpencil. Sehingga saya yakin setelah kembalinya mereka dari ranah perjuangan mengajar di daerah tepencil akan mampu menguatkan karakter pendidik (guru) yang peduli dan empati kepada siswa. Sehingga para pengajar muda tersebut akan menjadi investasi besar bagi pendidikan bangsa Indonesia di masa depan nanti. Dan, saya berharap akan semakin banyak para pengajar yang mempunyai empati terhadap perkembangan pendidikan siswa. Sehingga akan melahirkan anak-anak bangsa yang akan mempunyai moral dan kecerdasan yang baik untuk mengelola Indonesia di masa datang.

Sumber gambar: www.revivallifestyle.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s