Drama “Konyol” Hukum Kasus Rasyid Rajasa

rasyid-rajasa-Indonesia negara hukum. Kalimat itulah yang sering kita dengar dan pahami ketika kita masih di bangku sekolah dari SD sampai SMA. Tetapi menginjak ke jenjang kuliah 6 tahun lalu. Kalimat itu seolah sirna begitu saja. Bahkan kalau boleh saya bilang, Indonesia negara pelanggar hukum. Banyak orang yang kemudian beranggapan hukum yang dibuat di Indonesia merupakan hukum rimba. Hukum yang dibuat merupakan usaha untuk memudahkan kepentingan tertentu untuk berkuasa dan melangsungkan praktik-praktik kotor agar tetap langgeng. Membuat hukum-hukum yang multitafsir menjadi senjata yang ampuh bagi sebagian oknum untuk melanggengkan ”kebrutalan” sikap para penguasa.

Bahkan banyak drama hukum yang sudah berjalan konyol di negeri ini yang senantiasa kita tonton lewat media massa. Drama yang mereka pertontonkan merupakan drama ketidakadilan hukum antara masyarakat miskin dan masyarakat berduit atau berpengaruh. Masih teringat jelas dulu adanya kabar seorang nenek yang mencuri kakao untuk dijual demi sesuap nasi agar bertahan hidup harus masuk penjara lantaran si pemilik lahan memproses secara hukum. Di manakah rasa kemanusiaan dari hukum itu?

Baru-baru ini kisah konyol drama hukum di Indonesia muncul kembali. Kali ini melibatkan salah satu orang penting di negara Indonesia. Ya, kasus Rasyid Rajasa yang tidak lain tidak bukan anak seorang menteri di Indonesia. Kasus hukum yang ia jalankan disebabkan kecelakaanb yang menyebabkan meninggalnya dua nyawa orang. Kasus ini dalam kaca mata apapun kita memandang, merupakan kasus yang berat karena telah menghilangkan nyawa orang. Sehingga sanksi yang diberikan mestinya sebanding dengan apa yang harus diterima. Tetapi memang kita sudah mafhum, hukum rimba Indonesia kembali berjalan dengan konyolnya. Sanksi yang diberikan (mungkin bagi kita orang awam) sangatlah ringan. Tidak sebannding dengan akiba yang telah merenggut nyawa orang.

Kemarin, tanggal 26 Maret 2013, majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman pidana 5 bulan dengan masa percobaan 6 bulan dan denda sebesar 12 juta. Seingat saya, ada pasal KUHP mengenai kasus penghilangan nyawa dengan atau tanpa sengaja biasanya dikenai hukuman minimal 2 sampai 5 tahun penjara. Saya tidak punya latar belakang pendidikan hukum, tetapi paling tidak kasus seperti ini bisa kita lihat di “kitab suci” milik orang hukum.. Kasus Rasyid sendiri menghilangkan dua nyawa, apakah masuk akal jika hanya divonis 5 bulan penjara dengan hukuman percobaan 6 bulan?. Hukuman percobaan 6 bulan berarti Rasyid tidak harus masuk penjara, dia boleh saja bebas seliweran tanpa merasa bersalah, yang penting dia tidak menabrak orang sampai mati selama 6 bulan kedepan.

Yang konyol adalah pertimbangan majelis hakim Hari Budi S bahwa kecelakaan yang mengakibatkan dua nyawa melayang tersebut tidak melulu kesalahan terdakwa, tetapi juga dari pihak korban. Alasannya adalah karena bagian bangku mobil korban sudah dimodifikasi sehingga mengakibatkan kelima korban (dua orang diantara meninggal, tiga orang lagi mengalami luka) terlempar keluar dari mobil. Entah teori apa yang akan digunakan sang majelis hakim untuk membuktikan bahwa tidak akan ada korban nyawa seandainya jok mobil tidak dimodifikasi. Logikanya adalah ini kecelakaan lalu lintas, bukan soal modifikasi. Mau secanggih apa-pun interior mobil dalam hal keamanan tetap saja berpotensi menghilangkan nyawa penumpang apabila ditabrak mobil lain. Entah dari mana sang majelis hakim memiliki pemikiran konyol yang seperti membebankan kesalahan kepada pihak korban.

Satu lagi pertimbangan majelis hakim sehubungan dengan vonis ringan tersebut adalah mengingat status Rasyid sebagai mahasiswa sebuah universitas di London.  Bagi saya yang awam tentang hukum, apa hubungan hukum dengan status kuliah di luar negeri? Sejauh yang saya pahami, hukum tidak memandang status sosial. Tetapi memandang sejauh mana efek yang ditimbulkan dari kasus tersebut. Sementara kalau kita mengingat kepada kasus pencurian kakao dan sandal jepit beberapa waktu lalu yang terjadi di daerah pelosok Indonesia, terdakwa dijatuhi hukuman penjara tanpa hukuman percobaan. Kalau melihat dari sisi kemanusiaan, barang yang mereka curi sama sekali tidak berarti apa-apa dan sudah sepatutnya tidak harus sampai ke meja sidang. Tetapi bagaimana dengan kasus kelalaian yang menghilangkan nyawa orang lain seperti kasus yang dialami Rasyid? Rasyid bahkan tidak perlu merasakan penjara seolah menghilangkan nyawa orang lain itu bukan sebuah kesalahan fatal. Bahwa mencuri kakao dan sandal jepit lebih berbahaya daripada menabrak mobil lain sampai mengakibatkan korban nyawa.

Terlepas dari rasa bertanggung jawab dari pihak Rajasa yang menyantuni keluarga korban bahkan memberikan beasiswa sampai kuliah kepada salah satu anggota kelaurga serta keikhlasan anggota kelurga mengenai vonis ini, tetap saja kekonyolan hukum masih sangat terasa. Lalu, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita masih bangga dengan Indonesia dengan berbagai praktik kotor yang ada. Bahkan sangat kental terasa di lembaga peradilan yang seharusnya membuat putusan yang adil dan berimbang. Bahkan rekan di kantor saya, mengatakan sungguh sama sekali dia tidak merasa bangga dengan Indonesia, bahkan cenderung menyesal lahir di Indoesia. Bukan tanpa sebab kenapa ia melontarkan kata tersebut. Kelakuan para penguasa negeri membuat kebanggaan dan optimisme mengenai Indonesia menjadi luntur bahkan sudah hilang.

Sumber gambar: lipsus.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s