Zakat : Energi untuk Negeri

zakat_bermartabat1“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin, pengurus (amil) zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk (usaha) di jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah: 60)

Surah At Taubah ayat 60 tersebut merupakan salah satu dari 35 ayat yang membicarakan mengenai zakat dengan berbagai varian pembahasan yang ada dalam masing-masing ayat tersebut. Tetapi yang jelas, zakat merupakan salah satu indikator keimanan bagi seorang muslim. Hal tersebut dikarenakan, selain menjadi Rukun Islam, zakat merupakan sebuah bentuk kepedulian sosial kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Bahkan kalau kita sedikit memahami At Taubah ayat 60 di atas, zakat merupakan jaminan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan baik materiil maupun moril. Materiil yang berarti zakat dapat digunakan untuk kelangsungan hidup bagi orang yang tidak mampu. Moril berarti zakat dapat menguatkan keimanan sesesorang yang baru memeluk Islam, budak atau orang yang berhutang karena zakat merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang sesama umat Islam.

Pembicaraan zakat tidak terlepas dari dua hal yaitu mengenai konsep kepemilikan harta dan pengembangan harta. Konsep kepemilikan harta dapat diartikan harta yang dimiliki harus disadari ada sebagian darinya merupakan hak bagi orang lain bahkan menjadi kewajiban untuk diberikan kepada yang berhak sesuai dengan ketetapan Allah. Bahkan dalam konsep ini tidak ada yang boleh menawar. Masih ingat ketika Khalifah Abu Bakar As Shidiq pernah menyampaikan akan menghukum siapa saja yang tidak mau membayar zakat. Abu Bakar menganalogikan zakat dengan salat, karena pentasyri’an keduanya memang sejajar. Dan Abu Bakar pun beragumentasi pada Alquran, di mana negara diberikan kekuasaan untuk memungut secara paksa zakat dari masyarakat yang akan dipergunakan kembali sebagai dana pembangunan negara.

Selain  konsep kepemilikan harta, zakat juga berbicara mengenai pengembangan harta. Dalam konsep ini, harta harus bisa dikembangkan dan dimanfaatkan dengan cara yang baik. Hal ini akan menajdi keberkahanbagi pemilik dan orang lain. Persoalan keberkahan menjadi masalah yang inti. Karena sebanyak apapun harta yang dimiliki apabila tidak mempunyai sifat keberkahan maka tidak akan mengundang kebermanfaatan bagi pemiliknya. Bahkan kalau boleh dibilang, harta yang berkah mampu menjadi penjaga bagi sang empunya. Rasulullah saw menjamin dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya”.

Zakat sebagai Ibadah Maaliyah Ijtima’iyyah

Disinilah zakat berperan sebagai Ibadah Maaliyah Ijtima’iyyah (ibadah harta yang berdimensi sosial) yang memiliki posisi penting, strategis dan menentukan, baik dari sisi pelaksanaan ajaran Islam maupun dari sisi pembanguna kesejahteraan umat.

Terkait dengan ini, Monzer Kahl dalam bukunya ‘Ekonomi Islam; telaah analitik terhadap fungsi sistim Ekonomi Islam menyatakan bahwa zakat dan sistem pewarisan dalam Islam cenderung berperan sebagai sistem distribusi harta yang egaliter sehingga harta akan selalu berputar dan beredar kepada seluruh lapisan rakyat, karena memang akumulasi harta di tangan seseorang atau suatu kelompok saja sangat ditentang oleh Al-Qur’an. Allah menegaskan dalam firmanNya: “…. Agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja diantara kamu..”. (Al-Hasyr: 7)

Sedangkan menurut M.A. Mannan, secara umum fungsi zakat meliputi bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya. Sedangkan dalam bidang sosial, zakat berfungsi untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Di bidang ekonomi, zakat mencegah penumpukan kekayaan di tangan sebagian kecil manusia dan merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan Negara (Mannan, M.A. Islamic Economics : Theory and Practice. Lahore. 1970).

Zakat Merupakan Energi Pembangkit Ekonomi Indoensia

Dengan istilah ekonomi, zakat merupakan tindakan pemindahan kekayaan dari golongan orang kaya kepada golongan yang tidak punya kekayaan, berarti pengalihan sumber-sumber tertentu yang bersifat ekonomis. Walaupun zakat pada dasarnya ibadah kepada Allah, bisa juga bersifat ekonomi.

Dengan menggunakan pendekatan ekonomi, zakat dapat berkembang menjadi konsep muamalat atau kemasyarakatan, yakni konsep tata cara manusia dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam bentuk ekonomi. Melalui zakat, ekonomi masyarakat akan menjadi ekonomi yang berasaskan pemerataan pendapatan bagi semua orang. Harta yang didapat orang yang tidak mampu dapat dipergunakan dengan sebaiknya untuk melakukan perputaran ekonomi yang menghasilkan uang yang lebih untuk bisa dikonsumsi. Sehingga setiap orang akan mampu untuk meningkatkan perekonomian individu (keluarga) yang imbasnya perekonomian masyarakat (negara) juga akan meningkat.

Apabila zakat benar-benar dapat berjalan efektif, diharapkan tercapai sosial safety nets (kepastian terpenuhinya hak minimal kaum miskin) serta berputarnya roda perekonomian umat, mendorong pemanfatan dana ‘diam’ (idle), mendorong inovasi dan penggunaan IPTEK serta harmonisasi hubungan si kaya dan si miskin. Sehingga pada akhirnya kehidupan umat yang ideal dengan sendirinya akan terwujud.

Sumber gambae: http://www.anwardjaelani.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s