Hari Buruh: Menuntut Kesejahteraan Buruh

outsocingMay Day (Hari Buruh) lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja yang menuntut 8 jam kerja. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang merayakan 1 Mei sebagai hari buruh. Melalui UU Kerja No. 12 Tahun 1948, pada pasal 15 ayat 2, dinyatakan bahwa “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban kerja.”

Namun, sejak masa pemerintahan Orde Baru, Hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia. Dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Hal ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak terjadinya G30S PKI pada 1965 yang ditabukan di Indonesia. Selain itu, rezim orde baru takut akan kekuatan mobilisasi buruh yang sangat besar dan ini bisa menimbulkan friksi yang kuat terhadap kepemimpinan rezim orde baru.

Dalam perkembangannya, May Day (Hari Buruh) selalu diperingati dengan aksi-aksi ke pusat kekuasaan maupun pusat industri dengan mengusung berbagai tema sesuai dengan kebutuhan (kondisi) pada waktu itu. Pada beberapa tahun belakangan ini, isu yang mendominasi adalah isu upah, tolak PHK, hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing.

Tahun ini, Hari Buruh juga dibarengi dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Sehingga tak pelak momen Hari Buruh ini juga menjadi momentum untuk menolak adanya kenaikan BBM. Selain itu, isu-isu lama seperti penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourching saya yakin akan tetap disuarakan oleh para buruh.

Kabar baiknya dalam peringatan Hari Buruh 2013 ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjanjikan bahwa 1 Mei akan menjadi libur nasional sebagai penghargaan bagi para buruh. Dan ini menjadi suatu kabar yang cukup menggembirakan karena tuntutan untuk menjadikan 1 Mei sebagai libur nasional sudah lama diajukan ke pemerintah. Tetapi pelaksanaannya baru akan diberlakukan pada 1 Mei 2014 tahun depan.

Tuntutan Buruh

Terlepas dari pemberlakuan 1 Mei sebagai libur nasional tahun depan, yang perlu dicermati adalah sejauh mana tuntutan para buruh bersifat rasional. Karena tidak mungkin semua tuntutan buruh akan begitu saja dikabulkan pemerintah mengingat banyak faktor yang melibatkan roda perekonomian Indonesia. Kita menyadari bahwa, perekonomian Indonesia sebagian besar ditopang dari kekuatan daya beli masyarakat terhadap produk yang ada di Indonesia. Akan tetapi memenuhi nilai upah (sebagai penunjang daya beli) yang tinggi menjadikan faktor lain juga terpengaruh.

Dengan upah yang tinggi otomatis membuat biaya produksi membengkak. Hal ini mengakibatkan kerugian bagi para pekerja (buruh) sendiri. Karena banyak perusahaan yang keberatan bahkan tidak mampu untuk memberikan upah yang tinggi sehingga terpaksa harus mengurangi beban produksi yang salah satunya dengan melakukan PHK. Dengan terjadinya PHK maka tuntutan upah tinggi bagi buruh menjadi senjata makan tuan karena tuntutan buruh yang tidak realistis dengan kemampuan perusahaan.

Selain itu, tuntutan buruh mengenai outsourcing patut diperhatikan oleh pemerintah. Pasalnya, sistem ini dirasa sangat tidak manusiawi bagi buruh. Buruh seakan-akan hanya sapi perah yang terus bekerja dengan upah yang minimal tetapi tidak mempunyai hak yang sama dengan karyawan tetap. Sehingga tidak ada jaminan hidup yang jelas dalam menjalani aktivitas sebagai buruh/pekerja. Bahkan dalam hidupnya dihantui dengan pemberhentian kontrak sewaktu-waktu oleh pihak perusahaan atau tidak diperpanjangnya masa kerja setelah kontrak habis. Inilah yang menjadi dasar mengapa tuntutan penghapusan sistem outsourcing harus segera diterapkan.

 

Serikat Buruh [Mungkin] Terjebak Politik Jangka Pendek

Esensi dari perjuangan di Hari Buruh adalah pengakuan dan pencapaian harkat dan martabat pekerja dalam sistem ekonomi masa kini (apa pun bentuk sistem perekonomian yang dipilih negara dan para politisinya). Pencapaian harkat dan martabat buruh bukan sekedar dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi semata. Jaminan terhadap kehidupan sosial, keselamatan kerja serta pemenuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi suatu hal yang penting untuk dilaksanakan para pemegang kekuasaan maupun perusahaan.

Kesadaran berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat, dan melakukan tawar-menawar secara kolektif sebagai pekerja dengan majikan adalah aset yang sangat berharga bagi para buruh. Sehingga saat ini banyak bermunculan serikat pekerja yang bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan, tuntutan serta solidaritas antarburuh. Tujuan tersebut menjadikan buruh merupakan suatu komunitas yang mempunyai energi besar yang menentukan arah  dan roda perekonomian bangsa. Sehingga dengan adanya serikat pekerja (buruh) diharapkan menjadi suatu kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah maupun pengusaha yang sewenang-wenang.

Tetapi bisa jadi kekuatan besar yang dimiliki oleh buruh bisa menjadi suatu alat untuk mendiskreditkan pemerintah maupun pengusaha oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kekuatan yang besar tersebut bisa jadi dimanfaatkan untuk menggoyang kepemimpinan dengan melakukan berbagai aksi (demo) yang efeknya pasti negatif. Aksi buruh bisa menjadi indikator kegagalan dari pemegang kebijakan untuk menyejahterakan rakyatnya. Hal ini memicu stabilitas politik maupun ekonomi negara maupun perusahaan. Banyak buruh ikut aksi secara otomatis menghambat produksi yang akibatnya merugikan perusahaan maupun negara.

Maka dari bagi siapapun buruh maupun aktivis buruh yang saat ini begitu vokal dalam mengusung kesejahteraan buruh, jangan sampai menganggap momen Hari Buruh  sebagai momentum untuk unjuk diri sebagai yang terkuat begitu pula jangan sampai tergiur dengan ajakan untuk menciderai perjuangan buruh dengan menyisipkan agenda-agenda tertentu dalam setiap aksi perjuangan para buruh. Bersikap objektif terhadap kondisi buruh adalah hal yang terbaik untuk mengusung kesejahteraan bagi buruh. Bukan memperkeruh dengan berbagai kepentingan politik yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan golongannya. Semoga kita semua menjadi berani untuk mengambil langkah yang bijak dan utuh demi pemajuan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Selamat Hari Buruh.

Sumber gambar: tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s