Mempermasalahkan Kualitas Guru di Hari Pendidikan Nasional

guru Seiring dengan bertambahnya usia negeri ini, berkembang pula pola pendidikan di Indonesia. Tepat hari ini, 2 Mei 2013, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Entah ini sudah tahun ke berapa Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional tetapi yang jelas pendidikan nasional masih membutuhkan proses yang panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan  anak bangsa.

Tahun ini menjadi tahun yang sangat sibuk bagi dunia pendidikan Indonesia karena carut marutnya pengelolaan pendidikan di Indonesia. Hajatan rutin UN yang setiap tahun dilaksanakan menjadi pukulan keras bagi Kemendikbud karena mengalami kegagalan dengan tertundanya Ujian Nasional di beberapa provinsi. Atau lebih tepatnya carut marutnya UN kemarin menjadi kado istimewa bagi perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Selain itu, beberapa bulan ke depan dunia pendidikan disibukkan dengan penerimaan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, kisruh pelaksanaan dan penerapan Kurikulum 2013 hingga saat ini masih menjadi pro dan kontra.

Kurikulum 2013 yang rencana akan diterapkan pada Juli 2013 ini seakan-akan dipaksakan untuk diterapkan. Beberapa federasi guru menolak penerapan Kurikulum 2013 pada tahun ini karena berbagai faktor. Kebingungan guru mengenai isi dan konten Kurikulum 2013 menjadi masalah yang fundamental dalam penerapannya. Hingga saat ini belum banyak guru yang mendapatkan pelatihan untuk memahami Kurikulum 2013. Sehingga saat ini, Kurikulum 2013 masih abstrak bentuknya di dalam alam pikiran para guru. Selain itu, belum maksimalnya penerapakan kurikulum 2006-KTSP menjadi alasannya. Kurikulum 2006-KTSP masih  membutuhkan penerapan dan evaluasi yang intregral untuk mendapatkan kualitas yang baik. Untuk itu penggantian kurikulum dinilai belum layak diterapkan untuk tahun ini.

Sejak Indonesia merdeka telah terjadi sembilan kali perubahan kurikulum pendidikan, namun tidak jelas kemana sasarannya. Kurikulum 2013 ini memiliki inti pada pembelajaran yang sederhana dan didasari orientasi pembelajaran yang “tematik-integratif”. Harapannya, mampu mencetak generasi yang siap dalam menghadapi tantangan masa depan. Siswa dituntut agar mampu dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang dipelajari. Targetnya, siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang lebih baik. Lebih kreatif, inovatif, dan produktif.

Sekarang yang menjadi permasalahan lambatnya peningkatan kualitas disebabkan karena faktor kurikulum yang berganti-ganti ataukah kualitas guru yang belum terlalu baik. Kita meyakini perubahan kurikulum yang terlalu cepat memang menjadi faktor yang memperburuk kualitas pendidikan tetapi bagaimana dengan peran guru? Apakah guru sebagai ujung tombak pendidikan mempunyai kualitas yang baik untuk menciptakan anak didik yang berkualitas? Seharusnya ini yang menjadi titik tekan pendidikan Indonesia.

Memperbaiki kualitas guru jauh lebih penting daripada menganti-ganti kurikulum yang tidak jelas mau dibawa kemana. Guru yang berkualitas seharusnya mampu mentransformasikan kurikulum dengan baik melalui kreativitas dalam mengajar. Sehingga apapun bentuk perubahan kurikulum tidaklah harus menjadi persoalan yang besar.

Paradigma guru yang nyaman dengan metode lama dengan mengandalkan berceramah dan mencatat materi tentu harus menjadi perhatian khusus. Saat ini pembelajaran harus mampu menembus batas dan ruang kehidupan global. Guru harus mampu mengintegrasikan mata pelajaran dengan aktualitas perkembangan jaman. Selain itu, sebagai guru harus bangga dengan tugasnya. Tetapi banyak kita jumpai, guru memandang tugasnya hanya sebatas profesi. Padahal tanggung jawabnya sungguh besar dan mulia. Ini adalah salah satu “kanker” dalam dunia pendidikan.

Peningkatan kualitas guru (melalui program profesi) seharusnya menjadi proyek yang diharapkan menjadi suatu cerita sukses kualitas guru dan pendidikan. Tetapi dalam kenyataan program profesi yang dilaksanakan hanya digunakan untuk mencari kesejahteraan ekonomi oleh para guru. Parahnya lagi, proyek tersebut diperkirakan hanya digunakan untuk menghabiskan dana 20 % anggaran pendidikan tanpa ada evaluasi yang berkesinambugan mengenai kualitas guru yang masuk dalam program tersebut.

Sebagai guru yang baik seharusnya mampu untuk mengukur kemmapuan diri. Bahkan lebih baik apabila sadar dan mau untuk meningkatkan kualitasnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Pertama, para guru harus memperbanyak tukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman mengembangkan materi pelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar pikiran tersebut bisa dilaksanakan dalam perternuan guru sejenis di sanggar kerja guru, ataupun dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan hal itu.

Kedua, para guru bisa mengikuti seminar yang berkaitan dengan pendidikan. Mengikuti seminar mampu membuka cakrawala wawasan dunia pendidikan. Sehingga diharapkan dengan keikutsertaan tersebut mampu menggali potensi diri untuk dikembangkan dan ditransformasikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Ketiga, para guru harus mulai aktif membuat penelitian ilmiah mengenai pendidikan. Guru merupakan pelaku utama dalam pendidikan sehingga penelitian yang dilakukan guru akan mempunyai manfaat yang besar bagi dunia pendidikan. Karena guru merupakan objek dan subjek yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Setelah itu hasil penelitain hendaknya dipublikasikan melalui berbagai media baik cetak maupun internet agar senua orang bisa mengakses dan menjadi referensi perbaikan pendidikan di Indonesia oleh siapapun.

Semoga pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2013!!!

Sumber gambar: sman2purworejo.sch.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s