Golput: Aku juga Anak dari Demokrasi …

golput

Perhelatan pemilukada Jawa Tengah telah berlangsung kemarin tanggal 26 Mei 2013. Secara keseluruhan penyelenggaraan pemilukada tahun 2013 ini cukup sukses tetapi berlangsung sepi. Hal itu juga diamini oleh Bawaslu bahwa pilkada Jateng 2013 bersih dari monery politics. Tetapi, kesuksesan pemilukada ini tidak diiringi dengan kualitas dari pemilukada 2013. Pasalnya, banyak orang yang memperkirakan bahwa angka golput Jawa Tengah akan cukup signifikan. Jaringan Lingkaran Kebijakan Publik (LSKP)-Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network menyebutkan angka golput sebesar 48%. Jumlah angka golput ini, lebih tinggi dibandingkan dengan Pilgub Jateng 2008 silam yang tercatat sebesar 41,55%.

Menurut Dr Ari Pradhanawati MS, dosen Program S-3 Doktor Ilmu Sosial FISIP, Undip/anggota KPU Jawa Tengah 2003-2008 tingginya angka golput di Jawa Tengah memang terus meningkat tajam sejak Pemilu Legislatif 2004 (17,11%), Pilpres I (19,99%), dan Pilpres II (23,04%), kemudian meningkat lagi pada Pileg 2009 (27,41%) dan Pilpres 2009 (28,98%), ini menandakan antusiasme pemilih di Jawa Tengah dalam perhelatan pemilu/pilkada rendah, padahal Jawa Tengah selalu diidentikkan dengan lumbung suara beberapa partai politik.

Bagi saya pilihan untuk golput merupakan hak dari masing-maisng pribadi. Tidak ada kewajiban yang mengatur untuk sesorang harus dan  wajib  memilih dalam pemilu. Persepsi saya ini bisa jadi merupakan suatu perwakilan mengenai mengapa harus golput dalam pemilihan umum. Selain itu, ketika saya mencoba survey di lapangan, terutama pemilih pemula mereka mnegatakan akan golput karena mereka tidak mengetahui sosok dari calon cagub-cawagub yang ikut dalam pemilihan ini. Sehingga mereka memilih untuk golput  karena tidak mengetahui siapa, bagaimana orangnya apalagi visi dan misinya.

Kejenuhan dan sikap apatis rakyat terhadap pesta demokrasi pemilu juga menjadi penyebabnya. Selama ini para pemimpin yang akhirnya jadi pemimpin bagi daerahnya tidak bisa memberikan suatu harapan yang sebagaimana mereka janjikan saat kampanye. Hal ini menjadikan mereka malas untuk datang ke TPS dan memilih calon pemimpinnya. Belum lagi masalah ideologis dari orang, karena menganggap sistem demokrasi bukan merupakan sistem yang terbaik sehingga tidak sepantasnya untuk ikut dalam pemilu, apapun bentuk pemilu tersebut.

Selain beberapa hal tersebut, tentu masih banyak faktor nonteknis yang menyebabkan tingginya golput di Jawa Tengah. Misalkan karena bertepatan dengan hari libur nasional, sehingga lebih memilih untuk berlibur panjang bersama keluarga. Selain itu, masyarakat Jawa Tengah bisa jadi merupakan orang perantauan, sehingga mereka memilih untuk tetap bekerja mencari uang daripada pulang kampung hanya untuk mencoblos. Misalnya di Kabupaten Sukoharjo yang merupakan tempat saya tinggal. Menurut timlo.net angka golput di Sukoharjo pada pemilu tahun kemarin mencapai 60 %. Hal ini dikarenakan banyaknya perantau asal Sukoharjo. Diperkirakan angka ini juga tidak akan jauh berbeda pada pemilu 2013.

Itulah fenomena golput di Indonesia yang beragam ceritanya. Golput  merupakan sikap politik yang memang akan selalau ada. Dan biarkan hidup seperti adanya. Karena golput merupakan salah satu anak dari demokrasi juga. Demokrasi menghargai setiap keputusan waganya. Walaupun juga sebenarnya demokrasi membutuhkan partisipasi dari warganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s