Perusahaan (Organisasi) Pembelajar!

organiasi pembelajjaaran-www.psymag.amBanyak orang mungkin lupa bahwa dalam menjalani kehidupan, semua orang mengalami proses pembelajaran. Semua orang bisa melihat peristiwa yang sama, tetapi belum tentu mereka bisa mengambil sebuah pembelajaran dalam peristiwa itu. Kalaupun bisa, sangat dimungkinkan setiap orang mengambil kesimpulan pembelajaran  yang berbeda walaupun dengan satu peristiwa yang sama.

Sebagai orang pembelajar dan kritis, kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan terhadap suatu peristiwa, misalkan saja, apa yang sebenarnya terjadi sehingga terjadi sebuah masalah? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa sajakah faktor yang mengakibatkan permasalahan tersebut? Bagaimanakah sikap/reaksi kita terhadap masalah tersebut? Solusi apakah yang harus dilakukan terhadap masalah tersebut? Beberapa pertanyaan tersebut adalah pertanyaan mendasar ketika sesorang menghadapi suatu masalah. Tetapi sebuah pertanyaan muncul, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul dengan segera ketika kita menghadapi masalah?  Ini yang menjadi masalah tersendiri bagi setiap orang.

Artinya, ketika kita belum mampu memunculkan pertanyaan tersebut, maka kita belum sepenuhnya menjadi manusia pembelajar yang baik. Kita hanya bisa  menjadi pelaku yang pasif  terhadap masalah, lebih parahnya kita hanya bisa cuek dan tidak perduli  dan lari terhadap masalah tersebut.

Begitu juga dalam hal dunia usaha terutama dalam perusahaan. Berpikir kritis dalam menanggapi masalah membantu dalam menganalisis metode dan cara pengembangan perusahaan. Untuk menjadi perusahaan yang mampu berkembang dengan baik, hal yang paling utama dilakukan adalah mengembangkan kualitas dari SDM. Tanpa ada usaha untuk mengembangkan kualitas SDM, hampir bisa dipastikan perusahaan tersebut akan mati dengan sendirinya.

Untuk mengembangkan perusahaan maka diperlukan sebuah budaya pembelajar. Menjadi perusahaan pembelajar memang tidaklah mudah, bahkan banyak perusahaan yang tidak bisa menjadi perusahaan pembelajar dan akhirnya menjadi perusahaan yang bangkrut.  Perusahaan yang tidak mampu menjadi pembelajar biasanya hanya melakukan aktivitas kerja sebagai aktivitas rutin sehari-hari. Sehingga setiap masalah yang dihadapi hanya akan direaksi dengan cara yang sama. Padahal setiap masalah mengandung komponen yang berbeda. Baik dari faktor penyebab maupun metode solusi yang akan diterapkan. Padahal untuk menjadi organisaasi pembelajar harus mampu beradaptasi, belajar kemudian berubah.

Berikut ini beberapa perbedaan organisasi pembelajar dengan organisasi tradisional seperti yang

 Pembeda Organisasi Tradisional Organisasi Pembelajar
Sikap Terhadap Perubahan Jika hal itu dapat dikerjakan, mengapa dirubah? Jika kamu tidak berubah,kamu tidak akan bekerja dalam waktu yang lama
Sikap terhadap ide-ide baru Tertutup dengan ide-ide baru dari luar Terbuka dengan ide-ide baru dari luar
Penanggung jawab inovasi Bagian Penelitian dan Pengembangan Setiap orang didalam organisasi
Ketakutan Utama Membuat kesalahan Tidak belajar, tidak akan dapat beradaptasi
Daya saing Produk dan Layanan Kemampuan untuk belajar, ilmu pengetahuan dan keahlihan
Pekerjaan manajer Mengontrol yang lain Mengijinkan yang lain

Sumber: www.uin-malang.ac.id

Ada dua hal yang ingin saya bahas dalam tabel tersebut, khusus yang berkaitan dengan sumber daya manusia. Yaitu penanggung jawab inovasi dan pekerjaan manajer. Dalam perusahaan pembelajar, inovasi tidak hanya dilakukan oleh tim pengembang saja, tetapi bisa dilakukan oleh setiap orang yang ada dalam lingkup perusahaan tersebut. Apabila sikap seperti ini terwujud, maka akan tercipta dinamisasi pekerjaan. Setiap orang bisa berkontribusi lebih untuk kemajuan perusahaan selain itu setiap orang mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Hal tersebut menjadikan interaksi dan komunikasi yang positif antara manajemen dengan karyawan biasa. Manajemen mampu melihat karyawan yang memiliki prestasi dari kontribusi karyawan. Sehingga tugas manajemen selanjutnya adalah menciptakan motivasi bagi karyawan secara keseluruhan untuk berlomba-lomba bekontribusi bagi perusahaan. Tetapi memang hal ini membutuhkan energi yang besar. Manajemen harus mampu menyuguhkan reward yang tepat sasaran bagi karyawan yang memiliki kontribusi bagi perusahan. Bukan kemudian memberikan reward bagi karyawan yang hanya mendompleng nama dari karyawan benar-benar mempunyai prestasi.

Selain itu, tugas manajemen berikutnya  adalah memberikan pengembangan terhadap kualitas karyawan yang lain. Banyak cara yang bisa ditempuh, contohnya melalui training motivasi, training pengembangan skill, ataupun mengadakan workshop yang bertujuan mengembang kualitas dan produktivitas kerja. Jangan sampai manajemen hanya menjadi orang yang sekedar melihat  karyawan sebagai pekerja tanpa bisa megembangkan potensi yang dimiliki karyawan.

Yang kedua mengenai peranan manajer sebagai kontroling atau juga sebagai jembatan untuk mengalirkan ide. Banyak manajer yang terjebak bahwa manajer sebagai  orang yang mengontrol karyawan lainnya. Hal tersebut memang tidak selamanya salah karena memang dibutuhkan sosok kontroling dalam aktivitas kerja. Tetapi sangat disayangkan apabila kata “manajer” hanya dipahami sebagai pemegang kekuasaaan dari karyawan di bawahnya. Sudah bisa dipastikan akan terjadi penyelewangan tugas dari manajer tersebut. Manajer hanya melihat kesalahan karyawan tanpa bisa melihat kelebihan potensi dari karyawan yang dipimpinnya.

Sebagai manajer yang baik hendaknya mampu membimbing dan mengajarkan  secara nyata terkait dengan visi dan misi yang akan dicapai. Selain itu, manajer harus berperan aktif dalam pengembangan potensi karyawan bukan kemudian menjadi orang yang sekedar memberikan perintah dan hanya bisa banyak bicara. Tak ada gunanya manajer yang cerdas secara konsep tetapi tidak cerdas dalam mengelola karyawannya. Manajer yang cerdas mampu menjelaskan dengan nyata tujuan yang akan dicapai dengan tindakan nyata tanpa sekedar penyampaian konsep.  Memberikan contoh yang real kepada bawahannya akan menjadi sebuah motivasi yang besar bagi karywan di bawahnya.

Sesunguhnya masih banyak hal mengenai organisasi (perusahaan) pembelajar. Tetapi pembahasan di atas memang hanya saya batasi dari segi sapek kontribusi sumber daya manusia (karyawan) dan sikap manajer dalam mengelola karyawan. Terima kasih semoga bisa menjadi evaluasi dan pengetahuan bagi saya dan Anda. (Foto: www.psymag.am)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s