Rinduku Padamu Ya Rasulullah (1)

rindu-rasulullahTidak ada manusia yang paling mulia selain dirinya. Bahkan tidak ada manusia yang akan menandingi keunggulan dia dalam berbagai aspek kehidupan di dunia ini. Kelembutan, kebijaksanaan dan keteladanannya membuat kerinduan bagi semua orang tak terkecuali diriku ini. Selalu merindukan sosoknya yang begitu saya cintai. Dialah Rasulullah Muhammad saw.

Sepanjang mengikuti Sirah Nabi Muhammad ada beberapa hal yang selalu membuatku menangis, terutama dua hal yang selalu membuatku menangis merindukan sosoknya. Yang pertama adalah saat terjadinya Perang Hunain. Pada Perang Hunain ini, ada sebuah kisah yang menarik ketika pembagian ghanimah.

Pada Perang Hunain, Rasulullah saw membagikan ghanimah (rampasan perang) kepada kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya, dan tidak sedikit pun beliau memberi kepada kaum Anshar, sehingga timbul pembicaraan di kalangan mereka. Timbulnya gunjingan di kalangan Anshar ini ternyata terdengar sampai ke Rasulullah.

Setelah mendengar berita ini, kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka di tempat yang khusus, kemudian berkhutbah dengan khutbah yang cukup panjang. Di antara isi khutbah itu berisi tentang penjelasan mengapa harta ghanimah itu tidak diberikan kepada kaum Anshar. 

“Hai kaum Anshar, apakah kalian jengkel karena tidak menerima sejumput sampah keduniaan yang tidak ada artinya?. Dengan ‘sampah’ itu, aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja memeluk Islam, sedangkan kalian telah lama berislam. Hai kaum Anshar, apakah kalian tidak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasul Allah?. Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang dari Anshar. Seandainya orang lain berjalan di lereng unun dan kaum Anshar juga berjalan di lereng gunung yang lain, aku pasti turut berjalan di lereng gunung yang ditempuh kaum Anshar. Sesungguhnya kalian akan menghadapi diskriminasi sepeninggalku. Karena itu bersabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga (surga). Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum anshar, kepada anak-anak kaum Anshar dan kepada cucu kaum Anshar.”

Sesungguhnya, khutbah yang disampaikan Nabi saw sebagai jawaban terhadap bisikan keraguan tersebut sarat dengan nilai-nilai kelembutan dan perasaan cinta yang mendalam kepada kaum Anshar. Akan tetapi, dalam waktu yang sama, juga sarat dengan ungkapan rasa sakit karena dituduh melupakan dan berpaling dari orang-orang yang paling dicintainya. Dengan adanya khutbah tersebut, kaum Anshar seketika itu menangis dan meminta maaf kepada Rasulullah.

Coba Anda cermati kalimat yang saya tulis dengan Bold dan Italic tersebut. Ada sebuah ungkapan begitu cintanya beliau pada umatnya. Kecintaan dengan ketulusan  dan kelembutan yang menggetarkan jiwa  hingga diri ini selalu menangis melihat kecintaan Rasulullah terhadap umatnya. Bersambung ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s