Mbolang ke Serang (2)

Part 2 : Mbolang ke Serang

Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya berakhir juga, karena sekitar pukul 06.00 WIB Sabtu, 2 November 2013 saya sudah tiba di Terminal Pakupatan, Serang. Langsung saya masuk ke terminal Pakupatan dengan jalan kaki, karena bus memang tidak masuk ke dalam terminal. Tempat pertama yang saya tuju adalah masjid dan wc umum yang ada di dalam terminal.

Saya mandi di wc umum tersebut dan menyempatkan sholat subuh (walaupun sudah terlambat), saya beristirahat sejenak sebelum menuju kota Serang. Sebelum berangkat, tentu ada kewajiban yang harus ditunaikan yaitu sarapan pagi.

Ketika saya sarapan pagi, waktu itu saya makan bubur ayam, ternyata ibu penjualnya sedikit banyak memakai bahasa Jawa. Saya tanya ternyata beliau juga berasal dari Sukoharjo. Artinya beliau adalah saudara se-kabupaten dengan saya. Berbincang banyak mengenai kehidupan beliau di Serang, akhirnya perbincangan tersebut membuat saya merasa nyaman dengan kota Serang. Karena banyak perantau yang berasal dari Jawa.

Saya tanya sama beliau kalau mau ke alun-alun Serang naik angkot warna apa? Beliau memberitahu kalau mau ke alun-alun ambil saja angkot warna hijau. Beliau juga menambahkan nanti kalau mau pulang mending menghubungi dia saja karena menantunya seorang agen bus. Batin saya berkata, “wah kebetulan berarti bisa langsung booking tempat bus”. Ternyata saran beliau ini merupakan suatu musibah yang baru saya sadari ketika saya benar-benar sudah menumpang di dalam bus yang disarankan beliau. Cerita ini akan saya bahas di Mbolang ke Serang (3).

Ketika saya pergi ke Serang, memang sudah saya niati untuk menjadi bolang (bocah petualang) atau bahasa kerennya backpacker. Sehingga sebisa mungkin saya menghindari menggunakan angkutan umum untuk menjelajahi Serang selama masih bisa saya tempuh dengan jalan kaki. Tetapi karena jarak terminal ke alun-alun cukup jauh ya tentu tetap harus pakai angkot.

Sebelum naik angkot saya ditawari naik ojek dengan harga 15 ribu dari terminal ke alun-alun. Saya pun menolaknya karena saya sangat yakin harga itu terlalu mahal. Si tukang ojek menurunkan harga menjadi 10 ribu, saya tetap menolak dan akhirnya saya menggunakan angkot dengan biaya 3 ribu dengan perjalanan sekitar 10-15 menit dari terminal Pakupatan ke alun-alun Serang.

Setelah tiba di alun-alun Serang, saya amati ternyata alun-alun tersebut terletak di Kabupaten Serang, bukan di Kota Serang. Bahkan pusat pemerintahan provinsi Banten juga terletak di Kabupaten Serang. Kemudian saya sadari, oh iya Banten merupakan salah satu provinsi termuda di Indonesia sehingga masih terdapat kerancuan tata kota/letak yang sedikit aneh bagi saya seorang pendatang.

Tapi tak apalah semua menjadi jelas ketika saya menelusuri jalan-jalan di Serang. Sampai di alun-alun saya sempatkan untuk mengambil keadaan jalan utama di Serang, berikut fotonya yang saya ambil dari jembatan penyeberangan.

100_3335

Selain itu, saya juga “menjepret” alun-alun Serang yang sangat ramai dan dipenuhi oleh warga Serang yang ingin berolahraga maupun sekedar berekreasi bersama keluarga. Berikut fotonya yang saya ambil dari jembatan penyeberangan.

 100_3334

Setelah selesai mengamati alun-alun, saya beranjak ke RSUD Serang yang akan saya jadikan “hotel” pada malam harinya. Mengapa “hotel” nya saya pilih sebuah rumah sakit? Karena sudah saya niati dari awal, bahwa saya kan mbolang,  tidur dimanapun dengan cost yang murah atau malah gratis. Bukan karena saya tidak punya uang untuk menginap di hotel atau penginapan sederhana, tetapi memang saya menantang diri saya berani atau tidak melakukan hal tersebut. Lalu mengapa RSUD bukannya masjid? Dalam pertimbangan saya, kalau menginap di masjid justru akan lebih berbahaya karena pasti keadaan sepi sehingga rawan tindak kejahatan, berbeda dengan rumah sakit.  Ketika kita tidur di rumah sakit para kru medis rumah sakit atau bahkan satpam rumah sakit pun tidak akan tahu bahkan tidak akan bertanya kita keluarga pasien siapa. Yang mereka tahu, orang yang ikut menginap di rumah sakit ya berarti keluarga pasien. Jadi, selain tempat yang ramai jauh dari bahaya yang tidak diinginkan, di rumah sakit kita bisa tidur gratis dengan nyenyak (menurut ukuran saya) tanpa harus membayar uang menginap. He he he  ….

Perjalanan berlanjut, setelah survei RSUD Serang saya beranjak untuk survei tempat acara pada tanggal 3 November 2013 nanti. Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa niat saya adalah mbolang di Serang untuk menghadiri acara ini, sehingga saya menelusuri jalan-jalan di Serang berbekal peta dari google maps dengan jalan kaki.

Ternyata bayangan tidak sesuai dengan kenyataan. Serang kota yang cukup membingungkan bagi saya seorang pendatang, walaupun setelah saya sadari ternyata tidak serumit kota Solo ataupun Yogyakarta. Dengan jarak tempuh sekitar 2,3 km dari RSUD Serang menuju tempat yang ingin saya kunjungi, ternyata saya kebingungan karena berbelok di suatu pertigaan yang seharusnya saya tetap lurus sepanjang 700 m. Bermula dari sinilah saya tersesat di Serang, walaupun saya masih bisa memakai “kompas pikir” atau menerka-nerka, dan akhirnya bisa menemukan jalan lain yang  bisa mengarah ke tempat tujuan saya. Tetapi sudah sekian lama saya berjalan saya tak kunjung mendapatkan tempat tujuan saya. Sepanjang ketersesatan saya di jalan banyak sekali tukang ojek yang bergantian menawarkan jasanya. Semua saya tolak karena saya sudah punya niat awal untuk jalan kaki menelusuri jalan di Kota Serang. Mereka menawarkan harga sekitar 15 ribu, kalaupun toh mau menawar mereka mau menurunkan menjadi 10 ribu. Pandai-pandailah menawar apabila Anda ingin menggunakan jasa ojek ini, karena harganya saya rasa terlalu mahal untuk ojek dengan jarak yang hanya sekitar 1-2 km saja.

Akhirnya dalam rasa kecapaian tingkat tinggi, saya mengalah dengan keadaan. Saya akhirnya naik angkot padahal jaraknya tinggal sekitar 500-700 m lagi. Huffh …. setelah melihat tempat tujuan saya, dan karena sudah tidak mempunyai tenaga lagi, dan tujuan utama survei sudah tercapai saya kembali dan istirahat di alun-alun sebelum beranjak ke masjid Agung Serang untuk sholat Dhuhur dengan naik ojek.

Setelah sholat Dhuhur saya putuskan untuk istirahat (tidur) di Masjid Agung Serang sampai Ashar menjelang.  Setelah sholat Ashar saya berkeliling lagi ke beberapa daerah di dekat alun-alun, dan saya menemukan sebuah pasar yang sangat ramai ketika sore hari yang khusus berjualan pakaian di sebuah jalan agak lupa nama jalannya yang jelas jalan tersebut antara alun-alun dan masjid agung. Selain itu, ada sebuah acara seperti pasar murah event tertentu di depan kantor Bupati dan DPRD  Kabupaten Serang atau di depan Pendhopo Gubernur Banten yang ada di sampingnya.

Sore semakin larut menjelang malam, saya putuskan untuk mencari makan di pinggir jalan sebelum beranjak ke masjid agung lagi untuk sholat Magrib dan Isya. Setelah shalat Isya’ dan melakukan rutinitas setelah sholat, sekitar jam 20.00 WIB (8 malam) akhirnya saya beristirahat di “hotel”  RSUD Serang. Hari itu juga, saya menikmati pengalaman yang sungguh luar biasa di Serang.

7 thoughts on “Mbolang ke Serang (2)

    1. kanglondo Post author

      seingat saya begitu, yg jelas angkotnya ga lewat persisdi depan rsud tp lewat jalan samping alun2. nanti nyebrang aja ke arah alun2, samping alun2 rsud kab. serang

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s