Belajar Kehidupan dari Kran Air

Dalam hidup ini, hal kecil bisa saja menjadi hikmah untuk melakukan tindakan yang mengubah hidup. Kepekaan jiwa dalam mengambil setiap makna peristiwa menjadi tumpuan utama agar orang bisa mengambil hikmah di balik peristiwa. Untuk itulah setiap orang dituntut agar lebih peka terhadap semua peristiwa walaupun menurut kita remeh dan kecil.

Beberapa waktu yang lalu, saya pun disadarkan dengan sebuah peristiwa yang menurut saya kecil tetapi mempunyai makna yang cukup mendalam bagi saya. Kemarin ketika saya sedang mencuci teflon bekas menanak nasi, secara tidak sengaja teflon tersebut menyentuh kran air besi yang sudah rapuh hingga patah. Kran air ini memang sudah kelihatan rapuh karena sudah lama terpasang selain itu  sudah usang terkena sinar matahari dan kandungan kapur dalam air yang cukup tinggi.

Kran besi yang patah tersebut masih menyisakan sebagian besi di dalam lubang pralon. Padahal pralonnya ada di dalam dinding dan ujung pralon sejajar dengan permukaan dinding. Kalaupun ada lebihan pipa pralon berada di luar dinidng saya masih bisa memotong pralon dan memasang kran air dengan mudah.

Akan tetapi, kenyataan berbicara lain dimana ujung pralon sejajar dengan permukaan dinding. Sehingga hanya ada dua pilihan untuk memperbaiki/mengganti kran air. Yaitu dengan menjebol tembok/dinding untuk mencari ruang dalam memotong pralon dan memasang kran yang baru. Untuk pilihan pertama ini, hampir tidak mungkin saya lakukan karena menjebol tembok berarti mengeluarkan cost yang lebih banyak untuk memperbaiki ulang tembok yang dijebol.

Untuk itulah saya menggunakan alternatif yang kedua yaitu menghilangkan sisa kran besi yang masih menempel di dalam pralon. Bayangkan, bagaimana cara saya menghilangkan kran yang terbuat dari besi? Pasti tidak akan mudah karena ini besi bukan plastik atau bahan lain. Tetapi di sinilah letak pelajaran yang bisa saya petik dan semoga menjadi inspirasi bagi Anda.

Saya mencari berbagai akal untuk menghilangkan sisa kran besi yang menempel di dalam pralon. Saya siapkan palu dan obeng? Kenapa obeng yang harus saya gunakan? Pikir saya, obeng juga terbuat dari besi pastinya kalau diadu kuat dengan besi pasti berimbang tinggal tekanan pukulan yang kuat pasti akan memenangkan adu kuat tersebut. Selain itu, obeng mempunyai sisi lancip yang bisa saya gunakan untuk “natah”. Natah biasa digunakan dalam istilah seni rupa yang berarti memahat.  Obeng tersebut saya gunakan untuk natah tetapi bukan berarti untuk memahat tetapi lebih berfungsi untuk bahan perontok/pengikis besi (kran besi).

Setelah saya uji cobakan dengan memukul obeng dengan palu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Adu kuat antara obeng dan kran besi cukup berimbang karena besi kran yang tertinggal ternyata sungguh kuat. Tak pelak tangan kiri saya yang memegang obeng terasa panas dan pegel. Berkali-kali saya mencoba cukup ada hasilnya walaupun hanya sedikit besi yang berhasil saya kikis dan keluarkan.

Hampir dua jam saya berkutat dengan palu, obeng dan kran besi tetapi tak kunjung selesai. Tetapi saya pun bersyukur melalui perjuangan yang tidak mudah, ada kemajuan yang berarti yang saya peroleh. Ada sekitar sepertiga dari bulatan kran besi yang sudah terbuka/tercuil dengan pukulan saya. Sampai pada akhirnya saya hampir menyerah karena masih dua pertiga yang tentu semakin tidak mudah karena posisinya ada di sebelah atas lubang pralon. Kalau saya hanya mengandalkan pukulan seperti pada bagian bawah lubang pralon, energi yang saya keluarkan tentu akan lebih besar karena susahnya menjangkau daerah atas lubang pralon.

Saya berhenti sejenak, kemudian merenung memikirkan strategi apa yang bisa saya lakukan agar menghemat tenaga dan waktu penyelesaian.  Akhirnya, saya menemukan strategi yang saya coba dengan “menatah” pada bagian alur lingkaran di dalam pipa pralon (mirip seperti alur pada mur/baut). Dengan sedikit gaya orang natah beneran, yaitu menggerakkan obeng mengikuti alur lingkaran sekaligus memukulnya. Ternyata hal ini sedikit banyak membuahkan hasil.

Dalam beberapa pukulan akhirnya sepertiga kran besi mengelupas dan berhasil saya keluarkan. Dengan bersemangat saya kembali mempraktekkan hal tersebut untuk mengambil sepertiga sisanya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya sepertiga besi kran tersebut terkelupas semua. Senang rasanya akhirnya semua besi kran sudah habis tinggal membersihkan beberapa bagian saja yang tidak terlalu menyusahkan.

Dari peristiwa tersebut saya belajar tentang makna kehidupan yaitu:

  1. Hidup ini memang penuh perjuangan. Kesukesan yang kita peroleh ternyata membutuhkan perjuangan tanpa kenal putus asa. Karena bisa saja, perjuangan yang kita lakukan sudah maksimal tetapi kita mudah putus asa, maka sudah dipastikan kesuksesan hanya menjadi mimpi belaka padahal bisa jadi kesuksesan tinggal sejengkal lagi dari usaha dan perjuangan tersebut.
  2. Dalam berjuang tidak hanya dibutuhkan satu atau dua cara/strategi tetapi kita juga harus lebih kreatif dengan memikirkan strategi yang lain agar memudahkan langkah perjuangan. Karena suatu masalah bisa jadi bisa diselesaikan dengan berbagai macam cara. Sehingga pahami dahulu permasalahan kemudian tentukan strategi/cara yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Bahkan dengan strategi yang tepat dapat mengefektifkan dan mengefisienkan pekerjaan daripada kita harus menggunakan cara yang sudah umum tetapi butuh waktu yang lama.

4 thoughts on “Belajar Kehidupan dari Kran Air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s