Mengapa harus Novel?

Dulu, saya bukanlah penggermar membaca novel. Saya akui saya seorang yang suka membaca apapun jenis bacaannya tetapi kalo novel dan buku kuliah, itu menjadi pantangan bagi saya. Alasannya simpel, baca novel terlihat terlalu feminim bagi seorang laki-laki (itu menurut saya). Lain lagi buku kuliah, dulu pas jaman kuliah yang namanya buku kulaih, ga tebal ga tipis paling males mau nyentuhnya apalagi harus membaca. Ngga tahu kenapa, ketika buka dan baca buku kuliah tidak sampai 10 menit buku kuliah tersebut sudah pasti menjadi “bantal” untuk mengantarkan saya berlayar di alam mimpi. Oleh karena itu, saya termsuk mahasiswa yang “betah” berlama-lama di kampus karena ga segera lulus.

Lain cerita dengan buku bacaan lain, semisal pengembangan diri, leadership, keislaman ataupun motivasi. Saya sangat bersemangat untuk membacanya, bahkan kalau perlu sehari bisa selesai satu buku (tergantung tebalnya juga sihh). Dan lebih  cepat nyantolnya dan  terikat di memori otak cukup lama dari beberapa poin penting dari sederet buku tersebut. Tapi entah kenapa, ketika mau membaca buku novel atau sastra lain (cerpen, atau komik) rasanya sangat malas dan saya menganggap ga ada gunanya.

Belakangan saya mencoba untuk mengalahkan rasa malas itu, karena satu alasan saja. Yang namanya mbaca untuk mencari ilmiu (wawasan) seharusnya tidak pilih-pilih jenis buku. Anggap semua buku itu memberikan manfaat dari segi lain yang selama ini tidak kita temukan di buku-buku favorit kita. Dan ternyata memang benar, saya pun menemukan suatu hal yang beda ketika membaca novel.

Kala itu novel pertama yang paling menarik dan habis dalam sekali baca (kayaknya 2 hari) adalah novel karangan Ustadz Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih. Terhanyut dalam cerita yang dibawakan epik oleh sang ustadz, hingga saya tak menyadari saya sudah menyelesaikan membaca novel tersebut sangat singkat (itu menurut saya, selama 2 hari). Dan terbukti memang karya beliau (Ketika Cinta Bertasbih) memang fenomenal. Bahkan dibuat versi filmnya, selain itu masih ada versi serinya selama bulan ramadhan penuh.

Setelah itu, pandangan tentang novel yang membosankan dan terlihat feminim untuk saya akhirnya saya hapus. Karena ternyata, novel memberikan ilmu (wawasan) kehidupan yang begitu nyata. Karena kebanyakan novel memang bercerita tentang pernak-pernik kehidupan, entah suka, duka, cinta, benci dan yang lainnya. Gambaran cerita di dalam novel begitu jelas dan mengena. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk menyukai membaca novel. Dan terbukti ternyata belakangan ini pertumbuhan penulis dengan genre penulis cerita (novel, cerpen dll) semakin bertumbuh seiring dengan tumbuhnya kelompok-kelompkk menulis. Jadi, saat ini Anda tidak akan kesulitam untuk menemukan novel-novel yang berkualitas di toko buku.

Belum banyak novel yang saya baca, tetapi dari pengalaman saya membaca novel, saya berpikir pasti orang-orang yang mampu membuat cerita sedemikian apik tentunya orang-orang yang cerdas dan sudah makan asam garam kehidupan. Atau juga kedalaman ilmu yang begitu dalam dan luas hingga apa yang ada di novel terkesan membahasakan suatu ilmu yang dianggap rumit menjadi lebih musah dipahami dan dicerna oleh pembaca.

Saya pun mencoba menarik pandangan tersebut ke dalam diri saya. Apakah bisa saya membuat novel dengan apik juga? Setelah beberapa waktu saya berpikir dan mencoba berlatih, ternyata sulitnya minta ampun. Mungkin karena saya belum terbiasa menulis sehingga terkesan begitu sulit. Tetapi saya mencoba dan mencoba dan akhirnya tetap saja sampai sekarang belum bisa menghasilkan sebuah novel.

Tetapi saya tetap meyakini kalau kita mau berlatih dan evaluasi diri past bisa. Karena terbukti beberapa waktu yang lalu saya coba untuk mengirim sebuah cerita pendek (cerpen) ke suatu majalah ternyata dimuat. Itu artinya bisa jadi ada peningkatan kualitas menulis yang saya asah selama ini.  Tetapi kalau novel??? Ya saya hanya bisa tetap berlatih dan berdoa semoga secepatnya saya bisa melahirkan sebuah karya melalui sebuah novel. Saya yakin saya bisa, hanya kapan novel pertama saya terbit, ya wallahi. Semoga saja secepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s