Membaca untuk Membangun Peradaban

“Jiwaku merasa senang jika ia berinteraksi dengan ilmu” (Ibnu Taimiyah)

Sederhana dan bersahaja itulah gambaran yang selama ini kita tangkap dari sosok Ibnu Taimiyah. Akan tetapi ada hal yang perlu kita teladani dari sosok Ibnu Taimiyah, yaitu tentang semangat keilmuan yang sangat tinggi. Semangat keilmuannya bahkan mampu menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Kecintaan terhadap ilmu mulai dari membaca, menulis, beridiskusi, bahkan membelanjakan harta dengan membeli buku merupakan suatu kebiasaan yang telah mendarah daging para ulama Islam terdahulu, begitu juga dengan Ibnu Taimiyah.

Para ulama kita begitu mencintai buku dan penuh semangat membaca dan menelaahnya. Mereka tentu sangat menyadari apa yang ada di dalam buku (ilmu) jauh lebih berharga dari setumpuk uang, Hingga Al Jahizh, sastrawan terkemuka mengatakan orang yang kehabisan nafkah dan harta benda yang dia keluarkan untuk mendapatkan buku yang dia inginkan,  dia lebia aku sukai daripada orang yang menghabiskan uang dan hartanya untuk membeli seorang budak cantik atau pun menuruti syahwatnya membangun rumah yang mewah nan megah.

Dengan membaca membuat para ulama terdahulu mempunyai semangat untuk hidup. Maka sangatlah benar ketika ada ungkapan “Bacalah, agar engkau bisa hidup”. Sadar atau tidak, budaya membaca dan semangat untuk menggali ilmu sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang sudah ada di dalam tubuh umat Islam ini.  Inilah potensi besar yang pernah dimiliki umat Islam. Kebiasaan itu membuat Islam berjaya di masa lalu dengan munculnya banyak ilmuwan dan sastrawan yang telah mendunia. Dan itu semua diawali dengan semangat membca dan menggali keilmuan.

Membaca bisa dikatakan proses fundamental untuk melahirkan suatu peradaban. Dengan membaca segala macam ilmu dapat kita pahami dengan baik. Tentu tidak hanya membaca saja, semua harus dibarengi dengan menggali ilmu yang telah dibaca, didiskusikan dan diamalkan dengan baik agar apa yang dibaca dapat membekas dalam kehidupan sehari-harinya.

Namun sayang, budaya membaca bukanlah menjadi suatu kebiasaan yang saat ini disenangi oleh generasi sekarang. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan, membaca merupakan aktivitas yang membosankan. Dan itu terjadi pada kalangan akademisi saat ini. Seolah mereka sudah mengetahui semua hal tanpa harus membaca. Generasi sekarang lebih suka dengan kegiatan yang bersifat bersenang-senang. Ambil contoh saja, saat ini banyak pemuda yang lebih suka mendatangi tempat rental PS untuk main game daripada mengunjungi perpustakaan. Miris sekali kan?

Padahal dalam Islam sendiri telah mafhum kita pahami bahwa Allah menrurunkan wahyu pertama  dengan memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. “Bacalah dengan (menyebut) nama TuhanMu yang menciptakan.”. Berarti kedudukan membaca sangat penting untuk kehidupan kita. Berawal dari perintah membaca itulah muncul peradaban yang dibangun oleh manusia bernama Muhammad. Ya, peradaban Islam yang dulu begitu berjaya menguasai dunia dari segala aspek kehidupan.

Namun sayang saat ini, kita masih belum bisa mewujudkan hal itu kembali. Mungkin saja kita perlu menapaki jalan yang senada dengan Muhammad. Mulai kembali membaca. Membaca sejarah dan literatur perkembangan Islam dari masa ke masa. Membaca kembali ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah di semesta ini. Mulai kembali membaca spesisalisasi ilmu kita. Dan menyatukan semua itu untuk membangun dan membawa kembali peradaban Islam menuju puncak kejayaanya. Mari Membaca untuk Membangun Peradaban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s