Karena Ia Tidak Pernah Berhenti Memberi

“Suatu sore, ada seorang anak laki-laki berbaju sekolah dan masih membawa tas yang sedang mencari sampah di depan rumah seorang janda muda kaya. Kebetulan sang janda muda sedang menyapu halaman rumahnya. Sang anak tersebut dengan sopan meminta ijin untuk mengambil sampah yang sekiranya dapat ia jadikan uang. Beruntungnya janda muda ini ternyata orangnya baik. Dengan tersenyum, sang janda muda memperbolehkan sang anak laki-laki tersebut mengambil sampah di depan rumahnya. Dengan terheran, janda muda tadi melihat pakaian sekolah dan tas sang anak.  Dia yakin, pulang sekolah pasti langsung pergi mencari sampah.

Rasa iba pun datang dalam relung hati sang janda. Tanpa basa-basi, sang janda muda menawarkan air minum dan beberapa barang bekas yang ada di rumah untuk diberikan kepada sang anak. Sang anak laki-laki ini pun senang kegirangan. Terbayang olehnya besaran uang yang akan ia terima dengan menjual barang bekas yang telah diberikan sang janda muda. Simpul senyum nampak terlihat jelas sepanjang perjalanan pulang. Dia tak sabar ingin memberikan kabar gembira ini kepada orang tuanya.

Ketika tiba di rumah, orang tuanya tentu terheran dengan senyuman sang anak. Tanpa basa basi, sang anak memberi tahu orang tuanya perihal  kebaikan sang janda muda. Mereka melihat barang barang bekas tersebut sebenarnya masih layak dipakai. Tetapi dengan kemurahan hati sang janda, beberapa barang bekas tersebut diberikan secara cuma-cuma. Ketika memilah barang-barang tersebut, ada kantung plastik hitam yang membuat penasaran keluarga itu. Dibukalah kantong plastik tersebut oleh sang ayah, betapa terkejut ternyata di dalam kantong plastik tersebut ada uang tunai sekitar tiga jutaan. Tanpa ada yang mengomando, ketiganya sujud syukur atas rejeki yang diberikan oleh Tuhan melalui janda muda tersebut.

Besoknya harinya, keluarga ini bermaksud untuk mengunjungi rumah sang janda. Hanya saja ternyata sang janda sudah tidak lagi tinggal di rumah itu. Kata tetangga rumah, sang janda sudah meninggalkan rumah tersebut sejak tadi malam dan pindah ke luar kota. Dengan kecewa, keluarga kecil ini menyesal tidak sampai mengucapkan terima kasih secara langsung.

Dua puluh tahun kemudian, anak kecil ini sudah menjadi pengusaha mebel. Saat tengah memberhentikan mobilnya di depan toko mebelnya, dia melihat sosok nenek tua yang tertabrak mobil. Wajah nenek itu terlihat tak begitu asing baginya. Seketika itu pula dia teringat nenek itu adalah janda muda yang telah memberikan beberapa barang bekas dan uang sejumlah tiga jutaan. Tanpa pikir panjang, pemuda ini berlari masuk dalam kerumunan. Betapa kagetnya, ternyata memang benar dugaannya, bahwa nenek itu memang janda muda kala ia masih kecil.

Nenek itu ia bawa ke rumah sakit terdekat. Operasi harus segera di jalankan agar nyawanya selamat. Tanpa pikir panjang masalah biaya, operasi akhirnya dilakukan. Begitu terbangun dari operasi sang nenek terbangun dan terheran ternyata saat ini dirinya di rumah sakit. Ia bertanya kepada perawat, mengapa ia bisa ada di rumah sakit. Sang perawat menjelaskan bahwa ia mengalami kecelakaan dan baru saja dioperasi. Nenek itu terkaget, karena biaya operasi tentulah sangat mahal. Padahal saat ini dirinya bukanlah orang kaya lagi. Hartanya digerogoti oleh suami keduanya, hingga ia kini jatuh miskin tak punya uang untuk membayar biaya operasi. Tetapi sang perawat menjelaskan, bahwa ada seorang pemuda yang telah membantu dan membayar lunas semua biaya operasi. Nenek itu hanya terheran, siapakah gerangan pemuda itu.

Tak berselang lama dari percakapan nenek tua dengan sang perawat, pemuda itu pun datang menjenguk. Sang nenek tidak mengenali pemuda itu dan masih  bertanya dalam hatinya, siapakah gerangan pemuda ini? Dengan senyum simpul, pemuda itu pun menyalami dan mencium tangan sang nenek. Dengan sabar pemuda itu, menjelaskan pribadinya dan dirinya adalah sosok anak kecil yang dulu kala pernah ditolong sang nenek ketika sedang mencari sampah. Akhirnya sang nenek teringat dan memeluk pemuda tadi, hingga akhirnya keduanya saling meneteskan air mata kebahagiaan.”

Memberi adalah bagian dari cara hidup manusia. Oleh karena itu, tanpa harus mengharapkan balasan dari memberi, manusia bisa menjalani hidup ini dengan ketulusan. Begitu juga, tanpa harus mengharapkan balasan, yakini saja semua akan berbalas sesuai dengan kadarnya bahkan bisa lebih besar. Tuhan telah mengatur semua dengan adil sesuai dengan kuasa-Nya. Bahkan tanpa pernah kita bisa mengerti, Tuhan selalu saja memberikan kita rasa kasih sayang. Yakini saja, apa yang kita berikan kepada orang, akan berbalas dari sang Maha Pemberi. Karena Ia tidak pernah berhenti untuk memberi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s