Membentuk Generasi Al Fatih

Konstantinopel merupakan kota yang didirikan oleh pahlawan Yunani yang bernama Byzas. Oleh karena itu, kota ini dahulunya bernama Byzantium yang diambil dari nama pahlawan Yunani tersebut. Konstantinopel merupakan suatu ibukota imperium yang terbesar kala itu. Banyak orang yang berbondong-bondong menghuni ke dalam kota ini karena kemakmuran yang ditawarkan oleh kota ini. Bahkan Kaisar Konstantinopel menjadikannya “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia”.

Kota ini mempunyai kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Barang-barang berharga dari seluruh dunia dapat dijumpai di kota ini. Emas, perak ataupun berbagai simbol kekayaan dapat mudah dijumpai dan didapatkan di Konstantinopel. Dengan kekayaan yang melimpah dan jaminan kemakmuran bagi siapa saja yang mau tinggal, kota ini dilindungi dengan tembok besar, yang berabad-abad lamanya tidak ada seorang raja manapun yang mampu menggempur kokohnya tembok tersebut.

Bahkan berbagai kekaisaran Islam mencoba memenuhi janji Rasululllah untuk menaklukkan Konstantinopel tetapi belum juga terealisasi. Hingga pada suatu saat, Sultan Murad II dari Dinasti Utsmaniyah mempersiapkan anaknya, yaitu Sultan Muhammad II untuk bisa merealisasikan janji Rasulullah tersebut. Dan ternyata janji tersebut direalisasikan oleh Sultan Muhammad II, yang kini kita kenal sosoknya dengan Muhammad Al Fatih.

Seperti janji Rasulullah, untuk menaklukkan Kontantinopel dibutuhkan sosok pemimpin yang sebaik-baik pemimpin yang mampu membimbing dan mengarahkan pasukannya menjadi sebaik-baik pasukan. Dan itulah yang tercermin pada diri Sultan Muhammad II. Karakter dan keluasan wawasannya, membentuk dirinya menjadi sosok sebaik-baik pemimpin seperti yang dijanjikan Rasulullah.

Pada masa kecilnya, Sultan Muhammad II diasuh oleh Ahmad bin Ismail Al Kurani. Ahmad Al Kurani bukanlah ulama sembarangan kala itu. Menurut Imam Suyuthi, beliau adalah ulama yang menguasai ilmu ma’qul dan manqul, ahli dalam nahwu, ma’ani dan bayan, fiqh dan berbagai keutamaan lain. Sehingga wajar apabila dalam bidang keilmuan sosok Sultan Muhammad II mempunyai ilmu yang begitu luas. Tak hanya dalam ilmu keagamaan, Sultan Muhammad II juga mendapat ilmu tentang keduniaan, misal ilmu kedokteran, biologi, astronomi dan pengobatan herbal yang diperoleh dari Syaikh Aaq Syamsuddin yang nasabnya sampai ke Abu Bakar Ash Shidiq.

Dengan didikan ilmu yang begitu luas, yang tak hanya mencakup ilmu keagamaan tetapi juga ilmu keduniaan, sosok Sultan Muhammad II menjadi sosok yang luas dalam ilmu pengetahuannya dalam waktu yang masih sangat muda. Bahkan pada umur 8 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada masa yang masih remaja, dia sudah menguasai 7 bahasa, yaitu Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan Latin.

Tak hanya itu, keluasan ilmunya juga dimiliki dalam aspek ilmu sejarah. Hal ini penting, karena untuk menjadi seorang panglima Islam terbaik, Sultan Murad II meyakini dengan mengetahui sejarah kepahlawanan pemuka Islam maka dia bisa mengambil hikmah untuk kehidupannya mendatang, terutama sebagai panglima terbaik yang akan dimiliki oleh Islam untuk membebaskan Konstantinopel. Tak kalah penting, Sultan Murad II, memasukkan unsur sastra dalam kurikulum pendidikan Sultan Muhammad II, ia berkeyanikan, bahwa sastra mampu menghidupkan daya imajinatif seseorang. Dengan daya imajinasi yang baik, tentu seorang raja atau panglima mampu memutuskan sesuatu diluar dari pemikiran orang pada umumnya. Dan penaklukan Konstantinopel, merupakan buah karya pemikiran imajinatif Sultan Muhammad II yaitu dengan melakukan strategi yang belum pernah dilakukan oleh panglima-panglima perang di dunia. Yaitu memindahkan kapal perang melalui jalan darat yang menjadi kunci kemenangan Islam dalam menaklukkan Konstantinopel pada saat itu.

Dari cerita singkat di atas, maka kita dapat dapat menarik kesimpulan bahwa untuk membentuk generasi yang terbaik maka penting untuk membuat sebuah pola dan lingkungan yang terbaik bagi umat. Kurikulum pendidikan yang diterapkan pada Sultan Muhammad II mencakup ilmu dalam bidang keagamaan dan ilmu keduniaan. Aspek sejarah mendapatkan porsi lebih untuk membentuk generasi yang tahu akan kisah epik tentang pendahulunya. Sastra juga tidaklah kalah penting, sastra mampu membentuk seseorang untuk mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s