Selamat Hari Guru!

Dulu, Bukan Sekarang!

Dulu, guru begitu sangat disegani baik oleh muridnya ataupun orang tua murid (masyarakat). Mereka berseragam serba sederhana, memakai dresscode yang serba seadanya. Penuh senyum dan sopan terhadap siapapun. Ramah dalam berucap dan santun dalam bertindak. Keikhlasan dalam menyampaikan ilmu begitu nyata tergurat dalam kerut kening wajah mereka. Oleh karena itulah mereka disebut “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”

Namun sekarang, apakah hal-hal tersebut masih kita lihat dalam kehidupan sekarang ini. Mungkin saja iya masih, namun kelihatannya sekarang pun nilai-nilai keluhuran seorang guru pun luntur dimakan pahitnya kehidupan. Banyak bahkan sering kita lihat, oknum guru melakukan tindak asusila terhadap siswanya atau bahkan sesama rekan gurunya. Belum lagi tindakan “menyalahi HAM” karena menghukum muridnya terlalu keras. Ada lagi, guru-guru yang sering datang terlambat sekolah, belum lagi di tengah jam mengajar asyik berbelanja di pasar. Itulah sekarang sebagian gambaran “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” saat ini.

Tapi semoga, itu hanya oknum guru saja. Oknum yang tidak semestinya membuat kita menjustifikasi total bahwa semua guru punya perilaku seperti itu. Karena walau bagaimanapun, guru adalah pahlawan dalam diri kita. Pahlawan yang mengajarkan bagaimana membaca, menghitung dan bahkan bersikap dalam berkehidupan bermasyarakat.

Klasik! Uang adalah Raja!

Kami tak pernah menyalahkan guru-guru berbondong meneriakkan perihal kesejahteraan hidup mereka. Masih banyak guru-guru yang standar hidupnya di bawah rata-rata. Saya pun tak ingin  mengambil contoh dalam tulisan ini, cukuplah saya, atau Anda bertanya pada guru-guru di sekitar Anda berapa mereka digaji. Bahwasanya banyak sarjana pendidikan yang mengabdikan diri sebagai guru honorer, gajinya masih kalah dengan anak didiknya lulusan SMP, SMA/SMK yang bekerja di perusahaan. Mirisnya, gaji guru honorer pun tidak menyentuh angka UMR setempat, jangankan menyentuh ada pula yang tidak ada separuh dari UMR.

Lagi-lagi uang! Mirisnya lagi, untuk sekedar menjadi guru honorer atau kontrak di sekolah, tidak bisa dipungkiri membutuhkan uang bahkan pengaruh pejabat berwenang. Memang tidak semua seperti itu, tapi itu banyak terjadi. Saya pun sebelum jadi PNS, pernah ditawari jadi guru honorer oleh salah satu petinggi partai bahkan bupati sekalipun manut sama oknum tersebut. Tapi tak pernah sekalipun saya meng-iyakan hal itu. Malu rasanya jadi guru tapi lewat proses yang tidak semestinya. Jangan bicara jadi PNS harus setor sekian puluh juta, jadi guru kontrak pun bisa jadi juga yang setor uang. Bisa jadi itu. Dan, kita semua tahu itu.

Tetapi alhamdulillah, saya PNS tak pernah serupiah pun mengeluarkann uang untuk meloloskan diri jadi abdi negara, kecuali uang pribadi untuk transport, penginapan dan makan selama saya tes dan persiapannnya. Sistem rekrutmen CAT, membantu kejujuran dapat bertengger di atas sistem kelam perekrutan abdi negara selama ini. Dan, semoga sistem ini semakin baik dan diperbaiki.

Kembali lagi masalah kesejahteraan. Inilah ironi negara kita, negeri yang kaya alam dan tambang tapi miskin moral dan teladan. Akibatnya, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi pionir perubahan dan kebaikan menjadi taruhan. Gaji tak seberapa, banyak pula beranggapan ngajar pun sekenanya. Polemik ini akan terus berlanjut, pasti! Selama solusi yang ditawarkan dalam paket kebijakan pemerintah tidak pernah menyasar terkait kebijakan kesejahteraan hidup guru.

Jangan sekalipun membandingkan kesejahteraan guru di Indonesia dengan di Malaysia, Singapura, Brunei, Jepang atau bahkan Finlandia yang terkenal kemajuan dunia pendidikannya. Seharusnya lebih adil kalau anggota DPR yang kerjanya hanya tidur dan berkelahi di gedung DPR, anggaran gajinya di potong untuk menggaji para guru honorer yang luar biasa banyak. Belum lagi fasilitas anggota DPR yang luar biasa mewah, sedangkan guru yang notabene melahirkan para generasi penerus bangsa hanya tinggal di rumah dinas guru yang hanya sepetak,  itupun banyak yang sudah tak layak! Miris!

Orang tidur dan berkelahi dibayar puluhan juta, pahlawan hanya digaji ratusan ribu!

#Selamat Hari Guru untuk semua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s