Berkompromi dengan Keadaan

Semua pekerjaan mengandung resiko. Tak usah mengeluh, itu intinya. Dari semua pekerjaan yang pernah saya geluti, mulai dari karyawan swasta bidang editing naskah  buku, menjadi tentor di bimbel sekaligus tim marketer juga, sampai sekarang menjadi guru beneran di sekolah, semua ada enak dan tidaknya. Dan, saya yakin semua pekerjaan pun akan sama, ada enak ada pula tidaknya.

Tinggal bagaimana kita bisa berkompromi dengan keadaan. Orang yang betah berlama-lama dengan satu pekerjaan, merekalah orang yang mampu berkompromi dengan keadaan. Walaupun pekerjaan itu adalah hobi nya, akan ada masa kejenuhan dalam menjalaninya. Merasa puncaknya ketika, pikiran dan hati merasa sudah tidak ada lagi yang menarik dan menantang dalam pekerjaann nya tersebut. Pada saat itulah, ujian kompromi dengan keadaan dimulai. Bagi yang bisa, maka akan tetap betah di sana, walaupun berbagai faktor yang menyempitkan semangat menyerang. Bagi yang tidak bisa, ya ucapkan saja good bye my job. Dan, cari deh petualangan baru.

Banyak pula orang yang dengan mudah say good bye my job, walaupun pengalaman belum seberapa. Itu dia, masalah rasa dan kompromi. Kalau rasa sudah nggak ngeh bekerja di tempat kerja, maka kompromi akan mengambil alih keputusan Anda. Bertahan atau tidak, itu langkah selanjutnya setelah kompromi tak mampu lagi menahan keinginan untuk keluar dari pekerjaan.

Ambil Enaknya Aja!

Saran saya, dari pengalaman yang sudah saya jalani, pertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan resign. Karena keputusan resign, mempunyai dampak sistematis. Mulai dari diri sendiri, keluarga dan bisa jadi perusahaan yang ditinggalkan.

Pengalaman mengatakan, dari sekian orang yang dulu bareng-bareng resign, hampir sekitar belasan orang dalam rentang waktu 3 bulan, tidak semua menjalani hidup lebih nyaman setelah resign. Sekarang, masing-masing sudah menemukan ritme hidupnya, beberapa sudah tak tahu juga rimbanya.

Contohnlah saya, habis resign bingung mau ngapain. Nganggur beberapa bulan, untung istri pengertian. Kerja di bimbel, malah dapat waktu kerja tak karuan. Kita jadi tentor tapi jadi marketer juga. Emang sih dapat pengalaman dan rasa nyaman dalam kerja, dan tidak terlalu ketat, sayang jam kerja yang tak menentu, tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Bahkan lebih besar lulusan SMK/SMA kerja di perusahaan yang jam kerja nya jelas 8 jam, tambah waktu berarti hitung lembur. Tetap saja, semua ada enak dan tidaknya.

Sekarang menjalani profesi baru sebagai guru pun sama. Tetap ada nilai enak dan tidak enaknya. Tapi itulah sebuah keputusan hidup, semua ada tanggung jawab dab resiko yang mengikutinya. Maka tak pantas kalau kita mengeluh apalagi menyesali keputusan yang telah dibuat. So, jalani hidupmu sesuai keinginan hati mu, kalau cocok berusahalah bertahan, berkompromi dengan keadaan. Jika tidak nyaman, ambil keputusan yang terbaik. Lalu lakukan dengan tanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s