Sahabat dan Kenangan

Sahabat tetap lah sahabat. Walaupun terpaut jarak teramat jauh, dan juga terpaut memori yang mestinya ingin di lupakan karena terlalu jauh ke belakang untuk mengingatnya. Semua menjadi berbeda, ketika sahabat lama, tiba-tiba menghubungi dengan segenap suka maupun duka yang terceritakan tanpa skenario. Semua mengalir, masing-masing bercerita entah seberapa perlu sebenarnya harus diceritakan. Tapi itulah yang akan menjadi kenangan baru, setelah kenangan lama terpendam kesibukan yang baru.

Dulu bisa jadi tertawa riang bersama, silang pendapat satu dengan lainnya, tapi sekarang dunia yang berbeda dijalani keduanya. Riang tawa tentu tak sekeras dahulu, karena dunia sudah mengisahkan ceritanya masing-masing. Hanya cerita datar yang mengalir dari mulut keduanya, tapi memori baru terbentuk untuk dilupakan di kemudian hari. Karena sesungguhnya setiap kenangan bersama akan hilang seiring waktu berjalan dan bertambah usia.

Kebijaksanaan dalam menyikapi perjalanan kehidupan lah yang akan membawa seseorang menuju puncak hidupnya di dunia yang sementara. Ketika dihadapkan ingatan memori akan persahabatan, maka timbul lah makna kehidupan yang baru. Sahabat adalah bagian kekuatan kehidupan tersendiri yang mampu mengangkat kelemahan kita pada suatu masa episode hidup kita. Maka bersyukur lah, ketika anda mempunyai sahabat yang selalu terjaga kabar keadaannya di suatu tempat dan suatu masa yang berbeda dengan yang anda jalani sekarang.

Advertisements

Malam di Pontianak.

Disela-sela kesibukan pembekalan guru alih fungsi yang diaelenggarakan di Hotel Gajah Mada Pontianak, saya sempatkan untuk ngopi dengan kawan2 seprofesi. Mengingat, tinggal teraisia satu hari lagi pelatihan, sedangkan besok sudah penutupan dan harus balik ke kota asal untuk bertugas sepeeti biasa. 

Kalau anda berkunjung ke Pontianak jangan lupa bwrkunjung ke daerah jl gajah mada, yang terkenal dengan kampung orang china. Karena hampir sepanjang jalan, kita akan menjumpai orang china dengan beragam profesi.

Manatap Pontianak.

Guru Vs Murid

Miris! Entah yang salah yang mana atau dimana, tetapi belakangan ini banyak sekali kita disuguhi realita perseteruan antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada yang mengatakan ini adalah buah dari impor budaya baru bernama “HAM” yang menjadikan seseorang memiliki kelebihan dan kebebasan dalam bertindak. Tapi salah kparahnya mereka tidak menempatkan etika dan adat kebudayaan dalam suatu perkara .

Dalam kasus guru vs wali murid ini memang tidak bisa dijustifikasi secara umum yang kemudian beranggapan bahwa guru selalu benar di sekolah. Sehingga tidak ada celah untuk mempermasalahkan kejadian yang kemudian efeknya jatuh hukuman fisik pada siswa. Tetapi tidak kemudian seorang wali siswa dengan “buta” langsung menyalahkan guru yang diduga melakukan tindakan fisik. Perlu adanya konfirmasi dan cross ceck perihal kejadian yang dilaporkan sang anak pada dirinya.

Sehingga nanti ujung-ujungnya perkara dibawa ke ranah hukum tanpa diklarifikasi secara kekeluargaan. Budaya klarifikasi ini penting. Mengingat kesalahpahaman sekecil apapun yang dilaporkan anak, bisa berujung mendekam di balik jeruji bisa bagi sang guru atau bahkan bagi wali siswa yang ternyata aduan anaknya tidak benar. Maka perlu hati-hati menyikapi laporan anak.

Dengan kata lain, zaman serba modern mengubah watak dan perilaku anak menjadi lebih “maju” dalam berpikir. Anak-anak sekarang bukanlah tipe anak-anak jaman dahulu yang masih lugu-lugu. Beda bahkan sangat beda. Yang paling terasa adalah pola perilaku sopan santun terhadap orang lain. Kemajuan teknologi menghilangkan kekayaan budaya sopan santun seorang anak.

Hal ini sebenarnya hal kecil tapi imbas budaya kemasyarakatan akan sangat terasa. Seorang yang lebih tua tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sedangkan anak yang lebih muda dianggap tak ubahnya anak kecil yang belum bisa apa-apa. Budaya saling menghormati terhadap orang lain ini lah akar dari budaya sopan itu. Jika ini dihilangkan maka timbulah sikap yang merasa diri lebih baik.

Belum lagi jika ditambahkan seseorang berasal dari kelurga yang punya pangkat atau nama. Layaknya kesombongan seorang siswi anak seorang jendral yang ditangkap polwan karena aksi corat-coret dan arak-arak an kelulusan menggangu ketertiban lalu lintas jalan. Itulah potret rusaknya mental anak bangsa ini.

Anak yang sudah benar-benar tahu bahwa yang dilakukan sebuah kesalahan masih mengancam melalui tingginya status sosialnya demi meruntuhkan peraturan yang sedang ditegakkan. Miris lagi dikemudian hari, sang siswa dijadikan duta anti narkoba. Yang sekali lagi, sistem negeri telah dengan sengaja membentuk kerusakan mental para generasi bangsanya.

Apa yang salah? Entah! Karena masing-masing dari kita sudah mampu menilai, bagaimana kualitas pengajaran akhlak dan budi pekerti terlebih agama dalam lingkup keluarga kita. Sekolah itu, hanya tempat aktualisasi saja, selain untuk mencari ilmu keduniawian. Jika pondasi keluarga kuat maka kekacauan itu tak seharusnya terjadi.

 

Nostalgia dengan Blog

Ada hal yang paling ingin saya lakukan dalam perjalanan hidup saya, yaitu konsistensi dalam menulis blog. Tetapi pada kenyataannya begitu susah, padahal setiap hari bisa dikatakan hp terkoneksi dengan internet. Aplikasi-aplikasi android memudahkan dalam membuat tulisan.

Namun apa daya, entah karena apa tenryata tidak semudah mengucapkan kata konsistensi. Hingga curhat ini ditulis, ternyata saya baru menyadari bahwa blog ini pun telah ku tinggal hampir 6 bulan lamanya. Waktu yang cukup lama membiarkan sebuh blog hidup tanpa kejelasan arah dari sang pembuatnya.

Aku pun tak ingin berjanji seperti dahulu kala, hanya saja tulisan curhat ini hanya bagian dari nostalgia dari perjalanan tulis menulis yang berjalan lebih kurang 3-4 tahun ke belakang. Memang tidak lah istimewa isi di dalamnya. Tetapi melalui kebiasaan menulis blog inilah, ada beberapa karya walupun nilai materi tak seberapa merupakan hasil dari kebiasaan menulis di blog ini.

Ya, ini adalah curhat nostalgia, Mengingat kembali lembaran kehidupan masa lalu melalui tulisan di dalam blog sederhana ini. Hanya berharap saja, ada kemauan lebih keras lagi untuk terus menerus merawat blog ini.

Ya, itu saja nostalgia kali ini. Salam!

Nyoba Aplikasi WordPress di Android

Akhirnya, setelah sekian lama ingin instal aplikasi wordpress untuk android, terlaksana sudah di pagi hari ini.
Hari minggu pagi, ditemani hujan rintik, nonton spongebob bersama anak, membuat posting pertama memakai aplikasi ini.
Belum tahu juga hasilnya nanti, jika pakai versi webnya, jika emang hasil bisa maksimal sesuai yang diinginkan, mungkin ke depan akan lebih mudah dan setiap saat uodate blog lewat aplikasi ini.
Ok, cukup ini saja postingan perdana. Nanti kalau kepanjangan makah dikira review lagi. Siip!