Edukasi

Arti Persekusi!

Posted on Updated on

Saya cukup penasaran dengan kata “persekusi” yang kemarin sempat booming di media massa. Ketika sepasang kekasih dicurigai oleh masyarakat sekitar melakukan tindakan asusila pada sebuah kontrakan/kos. Kemudian diarak kampung dengan sebagian pakaian dilucuti oleh masyarakat. Kemudian kasus ini muncul dilabeli sebagai tindakan persekusi oleh sekelompok orang terhadap orang lain.

Penasaran saya!

Akhirnya hari ini saya sempatkan untuk searching  arti dari persekusi. Tidak banyak referensi yang muncul untuk mengartikan kata ini. Tetapi KBBI mengatakan bahwa persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas.

Oleh wikipedia, persekusi diartikan sebagai perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama atau pandangan politik.

Dari kedua referensi itu, saya coba ambil bahasa paling mudah untuk mengartikannya, dimana persekusi adalah tindakan yang sudah direncanakan secara sistematis untuk menganiaya ataupun menyakiti orang lain dengan alasan tertentu.

Itulah sekilas pengertian dari persekusi, sebuah kata yang katanya memang sudah ada dalam bahasa Indonesia, namun baru viral beberapa tahun terkahir.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Guru Vs Murid

Posted on

Miris! Entah yang salah yang mana atau dimana, tetapi belakangan ini banyak sekali kita disuguhi realita perseteruan antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada yang mengatakan ini adalah buah dari impor budaya baru bernama “HAM” yang menjadikan seseorang memiliki kelebihan dan kebebasan dalam bertindak. Tapi salah kparahnya mereka tidak menempatkan etika dan adat kebudayaan dalam suatu perkara .

Dalam kasus guru vs wali murid ini memang tidak bisa dijustifikasi secara umum yang kemudian beranggapan bahwa guru selalu benar di sekolah. Sehingga tidak ada celah untuk mempermasalahkan kejadian yang kemudian efeknya jatuh hukuman fisik pada siswa. Tetapi tidak kemudian seorang wali siswa dengan “buta” langsung menyalahkan guru yang diduga melakukan tindakan fisik. Perlu adanya konfirmasi dan cross ceck perihal kejadian yang dilaporkan sang anak pada dirinya.

Sehingga nanti ujung-ujungnya perkara dibawa ke ranah hukum tanpa diklarifikasi secara kekeluargaan. Budaya klarifikasi ini penting. Mengingat kesalahpahaman sekecil apapun yang dilaporkan anak, bisa berujung mendekam di balik jeruji bisa bagi sang guru atau bahkan bagi wali siswa yang ternyata aduan anaknya tidak benar. Maka perlu hati-hati menyikapi laporan anak.

Dengan kata lain, zaman serba modern mengubah watak dan perilaku anak menjadi lebih “maju” dalam berpikir. Anak-anak sekarang bukanlah tipe anak-anak jaman dahulu yang masih lugu-lugu. Beda bahkan sangat beda. Yang paling terasa adalah pola perilaku sopan santun terhadap orang lain. Kemajuan teknologi menghilangkan kekayaan budaya sopan santun seorang anak.

Hal ini sebenarnya hal kecil tapi imbas budaya kemasyarakatan akan sangat terasa. Seorang yang lebih tua tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sedangkan anak yang lebih muda dianggap tak ubahnya anak kecil yang belum bisa apa-apa. Budaya saling menghormati terhadap orang lain ini lah akar dari budaya sopan itu. Jika ini dihilangkan maka timbulah sikap yang merasa diri lebih baik.

Belum lagi jika ditambahkan seseorang berasal dari kelurga yang punya pangkat atau nama. Layaknya kesombongan seorang siswi anak seorang jendral yang ditangkap polwan karena aksi corat-coret dan arak-arak an kelulusan menggangu ketertiban lalu lintas jalan. Itulah potret rusaknya mental anak bangsa ini.

Anak yang sudah benar-benar tahu bahwa yang dilakukan sebuah kesalahan masih mengancam melalui tingginya status sosialnya demi meruntuhkan peraturan yang sedang ditegakkan. Miris lagi dikemudian hari, sang siswa dijadikan duta anti narkoba. Yang sekali lagi, sistem negeri telah dengan sengaja membentuk kerusakan mental para generasi bangsanya.

Apa yang salah? Entah! Karena masing-masing dari kita sudah mampu menilai, bagaimana kualitas pengajaran akhlak dan budi pekerti terlebih agama dalam lingkup keluarga kita. Sekolah itu, hanya tempat aktualisasi saja, selain untuk mencari ilmu keduniawian. Jika pondasi keluarga kuat maka kekacauan itu tak seharusnya terjadi.

 

Tanggung Jawab Hilang!

Posted on Updated on

Sepertinya dulu, jaman saya masih SMP-SMA siswa tidak mengerjakan tugas atau tidak ikut ulangan, akan bersegera mendatangi guru bersangkutan, meminta maaf dan mencari tugas pengganti atas kealpaannya tersebut.

Tapi, siswa sekarang nampaknya tidak demikian. Dengan senyum tanpa dosa, mereka bertemu guru menyapa layaknya kawan, entah lupa atau melupakan tugas dan tanggung jawab yang mesti ia tunaikan. Bahkan tak ada gurat rasa malu sedikitpun dari mereka karena kelalaian tersebut. Heran, sungguh heran saya.

Saya yakin, tidak hanya saya yang menjumpai hal seperti ini. Banyak guru-guru yang merasa kecewa dengan sikap lepas tanggung jawab dari siswa seperti ini. Akibatnya, ketidakikhlasan dalam mengajar dan memberi nilai menjadi imbasnya. Karena ketidakikhlasan itu pula, ilmu tersebut akhirnya tersendat dan tidak tersampaikan dengan baik, sehingga siswa menjadi tidak paham.

Apa masalahnya?

Masalahnya kompleks walau ini adalah soal yang sepele! Solusinya bukan meminta tugas tersebut secara berulang-ulang kepada siswa. Bukan pula memberi ancaman tidak memberikan nilai kalau tidak mengumpulkan, karena justru hal itu malah memperkeruh karakter mereka. Mereka hanya akan melakukan tanggung jawabnya jika diminta.

Solusinya sungguh-sungguh bersifat integralistik. Tanggung jawab seharusnya sudah menjadi karakter yang sejak dini ditanamkan dari keluarga. Sedangkan sekolah atau perangkat pendidikan formal hanya bertugas menyemai dan memelihara tanggung jawab tersebut menjadi semakin kokoh dalam kegiatan dan interaksi pembelajaran. Namun, sayang kalau semua sudah terjadi. Bukan tidak bisa ditanggulangi, tapi membutuhkan energi yang berlipat-lipat untuk mengubah dan  menanamkan kembali karakter tersebut.

Itu baru satu karakter saja. Belum lain, siswa sekarang kebanyakakan malas belajar, kebanyakan nongkrong dan kongkow dengan kawannya. Masalah timbul lagi di sana. Banyak tak perlu disebut satu-satu.

Itu hanya sekelumit cerita saja, masih banyak masalah-masalah dunia pendidikan tak hanya dari segi siswa, bahkan guru atau sarana prasarana pun menjadi bagian tak terpisahkan dari peliknya masalah pendidikan nasional.

#Masih peringati, Selamat Hari Guru.

Selamat Hari Guru!

Posted on

Dulu, Bukan Sekarang!

Dulu, guru begitu sangat disegani baik oleh muridnya ataupun orang tua murid (masyarakat). Mereka berseragam serba sederhana, memakai dresscode yang serba seadanya. Penuh senyum dan sopan terhadap siapapun. Ramah dalam berucap dan santun dalam bertindak. Keikhlasan dalam menyampaikan ilmu begitu nyata tergurat dalam kerut kening wajah mereka. Oleh karena itulah mereka disebut “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”

Namun sekarang, apakah hal-hal tersebut masih kita lihat dalam kehidupan sekarang ini. Mungkin saja iya masih, namun kelihatannya sekarang pun nilai-nilai keluhuran seorang guru pun luntur dimakan pahitnya kehidupan. Banyak bahkan sering kita lihat, oknum guru melakukan tindak asusila terhadap siswanya atau bahkan sesama rekan gurunya. Belum lagi tindakan “menyalahi HAM” karena menghukum muridnya terlalu keras. Ada lagi, guru-guru yang sering datang terlambat sekolah, belum lagi di tengah jam mengajar asyik berbelanja di pasar. Itulah sekarang sebagian gambaran “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” saat ini.

Tapi semoga, itu hanya oknum guru saja. Oknum yang tidak semestinya membuat kita menjustifikasi total bahwa semua guru punya perilaku seperti itu. Karena walau bagaimanapun, guru adalah pahlawan dalam diri kita. Pahlawan yang mengajarkan bagaimana membaca, menghitung dan bahkan bersikap dalam berkehidupan bermasyarakat.

Klasik! Uang adalah Raja!

Kami tak pernah menyalahkan guru-guru berbondong meneriakkan perihal kesejahteraan hidup mereka. Masih banyak guru-guru yang standar hidupnya di bawah rata-rata. Saya pun tak ingin  mengambil contoh dalam tulisan ini, cukuplah saya, atau Anda bertanya pada guru-guru di sekitar Anda berapa mereka digaji. Bahwasanya banyak sarjana pendidikan yang mengabdikan diri sebagai guru honorer, gajinya masih kalah dengan anak didiknya lulusan SMP, SMA/SMK yang bekerja di perusahaan. Mirisnya, gaji guru honorer pun tidak menyentuh angka UMR setempat, jangankan menyentuh ada pula yang tidak ada separuh dari UMR.

Lagi-lagi uang! Mirisnya lagi, untuk sekedar menjadi guru honorer atau kontrak di sekolah, tidak bisa dipungkiri membutuhkan uang bahkan pengaruh pejabat berwenang. Memang tidak semua seperti itu, tapi itu banyak terjadi. Saya pun sebelum jadi PNS, pernah ditawari jadi guru honorer oleh salah satu petinggi partai bahkan bupati sekalipun manut sama oknum tersebut. Tapi tak pernah sekalipun saya meng-iyakan hal itu. Malu rasanya jadi guru tapi lewat proses yang tidak semestinya. Jangan bicara jadi PNS harus setor sekian puluh juta, jadi guru kontrak pun bisa jadi juga yang setor uang. Bisa jadi itu. Dan, kita semua tahu itu.

Tetapi alhamdulillah, saya PNS tak pernah serupiah pun mengeluarkann uang untuk meloloskan diri jadi abdi negara, kecuali uang pribadi untuk transport, penginapan dan makan selama saya tes dan persiapannnya. Sistem rekrutmen CAT, membantu kejujuran dapat bertengger di atas sistem kelam perekrutan abdi negara selama ini. Dan, semoga sistem ini semakin baik dan diperbaiki.

Kembali lagi masalah kesejahteraan. Inilah ironi negara kita, negeri yang kaya alam dan tambang tapi miskin moral dan teladan. Akibatnya, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi pionir perubahan dan kebaikan menjadi taruhan. Gaji tak seberapa, banyak pula beranggapan ngajar pun sekenanya. Polemik ini akan terus berlanjut, pasti! Selama solusi yang ditawarkan dalam paket kebijakan pemerintah tidak pernah menyasar terkait kebijakan kesejahteraan hidup guru.

Jangan sekalipun membandingkan kesejahteraan guru di Indonesia dengan di Malaysia, Singapura, Brunei, Jepang atau bahkan Finlandia yang terkenal kemajuan dunia pendidikannya. Seharusnya lebih adil kalau anggota DPR yang kerjanya hanya tidur dan berkelahi di gedung DPR, anggaran gajinya di potong untuk menggaji para guru honorer yang luar biasa banyak. Belum lagi fasilitas anggota DPR yang luar biasa mewah, sedangkan guru yang notabene melahirkan para generasi penerus bangsa hanya tinggal di rumah dinas guru yang hanya sepetak,  itupun banyak yang sudah tak layak! Miris!

Orang tidur dan berkelahi dibayar puluhan juta, pahlawan hanya digaji ratusan ribu!

#Selamat Hari Guru untuk semua!