Edukasi

I Stand With Mesut Ozil!

Posted on Updated on

Sebagai seorang penggemar sepakbola, mendengar berita terkait Mesut Ozil yang mundur dari Timnas Jerman cukup mengagetkan dan meyedihkan. Pasalnya, keputusan mundurnya Mesut Ozil dari timnas Jerman disebabkan karena dirinya merasa ada perlakuan rasisme terhadap dirinya oleh sebagian oknum warga Jerman bahkan termasuk Federasi Sepakbola Jerman menurut pengakuan Ozil.

Latar belakang keturunan Turki dan pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan lah yang menjadi sebab munculnya rasisme terhadap dirinya. Dimana banyak yang menuduh pertemuan Ozil dengan Erdogan bernuansa politik. Walaupun itu telah dibantah secara tegas oleh Ozil, bahwa pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa yang tidak membicarakan apapun terkait politik.

Ozil sadar betul bahwa sepak bola tidak boleh dicampuri dengan  urusan politik. Terkait pertemuan dengan Erdogan, Ozil menjelaskann hanya menghormati Erdogan sebagai pimpinan tertinggi Turki yang mana adalah negeri dimana leluhurnya berasal. Sehingga Turki tidak mungkin dilupakan olehnya walaupun ia lahir dan besar di Jerman.

Pemain berusia 29 tahun dan telah memperkuat tim Der Panser  sebanyak 92 kali dengan 23 gol itu mengatakan menyayangkan perlakuan Federasi Sepak bola Jerman terkait perilaku rasisme terhadap dirinya. Padahal dia mengakui, selalu bangga ketika memakai seragam timnas Jerman dalam sepanjang karir sepak bolanya.

Berikut ini pesan pengunduran dirinya dari timnas Jerman melalui akun pribadinya.

Semoga rasisme hilang dari sepak bola. Dan jangan biarkan rasisme menghancurkan nilai-nilai sportifitas dalam olah raga, terutama sepak bola. And, I Stand With Mesut Ozil!

 

 

Advertisements

Pedoman Inobel 2018 untuk Guru Pendidikan Menengah

Posted on

Pada awal tahun 2018 ini, Kementerian Pendidikan melalui Direktorat Pendidikan Menengah, Dirjen GTK mengadakan Lomba Inobel 2018. Lomba ini diharapkan mampu membangun kreatifitas dan semangat budaya kompetitif yang sehat di kalangan guru. Lomba Inovasi Belajar merupakan upaya untuk memperbarui sistem dan perangkat pembelajaran agar kualitas proses dan hasil pembelajaran menjadi lebih baik. Inovasi pembelajaran meliputi; pengembangan materi ajar, pengembangan metode, media dan evaluasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran dapat dilakukan melalui penelitian eksperimen, penelitian tindakan dan penelitian & pengembangan (research and development).

Lomba ini dibagi menjadi tiga kategori yang berbeda.

a. Lomba Inobel Pemula
Lomba Inobel Pemula adalah lomba yang diikuti oleh guru SMA, SMALB dan SMK untuk berkompetisi pada tingkat nasional dalam penyusunan karya inovatif ditujukan bagi guru yang belum pernah mengikuti Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah.
b. Lomba Inobel Madya
Lomba Inobel Madya adalah lomba yang diikuti oleh guru SMA, SMALB dan SMK untuk berkompetisi pada tingkat nasional dalam penyusunan karya inovatif ditujukan bagi peserta yang pernah ikut menjadi finalis pada lomba Inobel yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah.
c. Lomba Inobel Utama
Lomba Inobel Utama adalah lomba yang diikuti oleh guru SMA, SMALB dan SMK untuk berkompetisi pada tingkat nasional dalam penyusunan karya inovatif ditujukan bagi bagi para Juara 1, 2 dan 3 dari berbagai macam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah.
Silahkan download link berikut mengenai pedoman Inobel 2018.

Arti Persekusi!

Posted on Updated on

Saya cukup penasaran dengan kata “persekusi” yang kemarin sempat booming di media massa. Ketika sepasang kekasih dicurigai oleh masyarakat sekitar melakukan tindakan asusila pada sebuah kontrakan/kos. Kemudian diarak kampung dengan sebagian pakaian dilucuti oleh masyarakat. Kemudian kasus ini muncul dilabeli sebagai tindakan persekusi oleh sekelompok orang terhadap orang lain.

Penasaran saya!

Akhirnya hari ini saya sempatkan untuk searching  arti dari persekusi. Tidak banyak referensi yang muncul untuk mengartikan kata ini. Tetapi KBBI mengatakan bahwa persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas.

Oleh wikipedia, persekusi diartikan sebagai perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama atau pandangan politik.

Dari kedua referensi itu, saya coba ambil bahasa paling mudah untuk mengartikannya, dimana persekusi adalah tindakan yang sudah direncanakan secara sistematis untuk menganiaya ataupun menyakiti orang lain dengan alasan tertentu.

Itulah sekilas pengertian dari persekusi, sebuah kata yang katanya memang sudah ada dalam bahasa Indonesia, namun baru viral beberapa tahun terkahir.

Semoga bermanfaat!

Guru Vs Murid

Posted on

Miris! Entah yang salah yang mana atau dimana, tetapi belakangan ini banyak sekali kita disuguhi realita perseteruan antara siswa/wali siswa dengan guru. Ada yang mengatakan ini adalah buah dari impor budaya baru bernama “HAM” yang menjadikan seseorang memiliki kelebihan dan kebebasan dalam bertindak. Tapi salah kparahnya mereka tidak menempatkan etika dan adat kebudayaan dalam suatu perkara .

Dalam kasus guru vs wali murid ini memang tidak bisa dijustifikasi secara umum yang kemudian beranggapan bahwa guru selalu benar di sekolah. Sehingga tidak ada celah untuk mempermasalahkan kejadian yang kemudian efeknya jatuh hukuman fisik pada siswa. Tetapi tidak kemudian seorang wali siswa dengan “buta” langsung menyalahkan guru yang diduga melakukan tindakan fisik. Perlu adanya konfirmasi dan cross ceck perihal kejadian yang dilaporkan sang anak pada dirinya.

Sehingga nanti ujung-ujungnya perkara dibawa ke ranah hukum tanpa diklarifikasi secara kekeluargaan. Budaya klarifikasi ini penting. Mengingat kesalahpahaman sekecil apapun yang dilaporkan anak, bisa berujung mendekam di balik jeruji bisa bagi sang guru atau bahkan bagi wali siswa yang ternyata aduan anaknya tidak benar. Maka perlu hati-hati menyikapi laporan anak.

Dengan kata lain, zaman serba modern mengubah watak dan perilaku anak menjadi lebih “maju” dalam berpikir. Anak-anak sekarang bukanlah tipe anak-anak jaman dahulu yang masih lugu-lugu. Beda bahkan sangat beda. Yang paling terasa adalah pola perilaku sopan santun terhadap orang lain. Kemajuan teknologi menghilangkan kekayaan budaya sopan santun seorang anak.

Hal ini sebenarnya hal kecil tapi imbas budaya kemasyarakatan akan sangat terasa. Seorang yang lebih tua tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sedangkan anak yang lebih muda dianggap tak ubahnya anak kecil yang belum bisa apa-apa. Budaya saling menghormati terhadap orang lain ini lah akar dari budaya sopan itu. Jika ini dihilangkan maka timbulah sikap yang merasa diri lebih baik.

Belum lagi jika ditambahkan seseorang berasal dari kelurga yang punya pangkat atau nama. Layaknya kesombongan seorang siswi anak seorang jendral yang ditangkap polwan karena aksi corat-coret dan arak-arak an kelulusan menggangu ketertiban lalu lintas jalan. Itulah potret rusaknya mental anak bangsa ini.

Anak yang sudah benar-benar tahu bahwa yang dilakukan sebuah kesalahan masih mengancam melalui tingginya status sosialnya demi meruntuhkan peraturan yang sedang ditegakkan. Miris lagi dikemudian hari, sang siswa dijadikan duta anti narkoba. Yang sekali lagi, sistem negeri telah dengan sengaja membentuk kerusakan mental para generasi bangsanya.

Apa yang salah? Entah! Karena masing-masing dari kita sudah mampu menilai, bagaimana kualitas pengajaran akhlak dan budi pekerti terlebih agama dalam lingkup keluarga kita. Sekolah itu, hanya tempat aktualisasi saja, selain untuk mencari ilmu keduniawian. Jika pondasi keluarga kuat maka kekacauan itu tak seharusnya terjadi.

 

Tanggung Jawab Hilang!

Posted on Updated on

Sepertinya dulu, jaman saya masih SMP-SMA siswa tidak mengerjakan tugas atau tidak ikut ulangan, akan bersegera mendatangi guru bersangkutan, meminta maaf dan mencari tugas pengganti atas kealpaannya tersebut.

Tapi, siswa sekarang nampaknya tidak demikian. Dengan senyum tanpa dosa, mereka bertemu guru menyapa layaknya kawan, entah lupa atau melupakan tugas dan tanggung jawab yang mesti ia tunaikan. Bahkan tak ada gurat rasa malu sedikitpun dari mereka karena kelalaian tersebut. Heran, sungguh heran saya.

Saya yakin, tidak hanya saya yang menjumpai hal seperti ini. Banyak guru-guru yang merasa kecewa dengan sikap lepas tanggung jawab dari siswa seperti ini. Akibatnya, ketidakikhlasan dalam mengajar dan memberi nilai menjadi imbasnya. Karena ketidakikhlasan itu pula, ilmu tersebut akhirnya tersendat dan tidak tersampaikan dengan baik, sehingga siswa menjadi tidak paham.

Apa masalahnya?

Masalahnya kompleks walau ini adalah soal yang sepele! Solusinya bukan meminta tugas tersebut secara berulang-ulang kepada siswa. Bukan pula memberi ancaman tidak memberikan nilai kalau tidak mengumpulkan, karena justru hal itu malah memperkeruh karakter mereka. Mereka hanya akan melakukan tanggung jawabnya jika diminta.

Solusinya sungguh-sungguh bersifat integralistik. Tanggung jawab seharusnya sudah menjadi karakter yang sejak dini ditanamkan dari keluarga. Sedangkan sekolah atau perangkat pendidikan formal hanya bertugas menyemai dan memelihara tanggung jawab tersebut menjadi semakin kokoh dalam kegiatan dan interaksi pembelajaran. Namun, sayang kalau semua sudah terjadi. Bukan tidak bisa ditanggulangi, tapi membutuhkan energi yang berlipat-lipat untuk mengubah dan  menanamkan kembali karakter tersebut.

Itu baru satu karakter saja. Belum lain, siswa sekarang kebanyakakan malas belajar, kebanyakan nongkrong dan kongkow dengan kawannya. Masalah timbul lagi di sana. Banyak tak perlu disebut satu-satu.

Itu hanya sekelumit cerita saja, masih banyak masalah-masalah dunia pendidikan tak hanya dari segi siswa, bahkan guru atau sarana prasarana pun menjadi bagian tak terpisahkan dari peliknya masalah pendidikan nasional.

#Masih peringati, Selamat Hari Guru.