Indonesiana

Arti Pelakor!

Posted on

Sama halnya dengan kata Persekusi, kata Pelakor ini juga viral beberapa waktu yang lalu. Khususnya viral dalam media massa, yang kemudian kata ini menjadi umum digunakan oleh semua orang. Bahkan di waktu-waktu tertentu, saya sempat melihat liputan media massa elektronik yang sifatnya news sempat menggunakan istilah ini. Walaupun saya ragu, apakah kata pelakor ini sudah dibakukan dalam KBBI atau belum.

Makin penasaran lah dengan kata ini-(persis penasarannya sama kata Persekusi). Akhirnya coba lah mencari informasi terkait dengan istilah yang baru didengar ini. Kata kebanyakan orang, istilah Pelakor ini merupakan akronim dari “perebut laki orang”. Itu berarti domain yang ditujukan sebagai pelaku adalah seorang wanita. Yang bertindak secara aktif pelaku pelakor adalah seorang wanita dilihat dari akronimnya.

Kalau ditujukan kepada laki-laki berarti bukanlah pelakor. Mungkin ada istilah lain yang akan muncul jika kejadiannya laki-laki sebagai subjek aktif perebut istri orang. Silahkan saja, pemirsa mengira-ngira kata apa yang tepat untuk itu.

Lalu apakah ada hubungan antara pelakor dan pelacur? Itu yang menjadi pertanyaanya, karena pengucapan kedua kata ini, cukup mirip. Bisa jadi ada!

Inilah uniknya sebuah bahasa, berkembang sesuai dengan zamannya.

 

Advertisements

“Pribumi”

Posted on

Lagi heboh saat ini dengan kata “pribumi”. Ketika Pak Anies, mengucapkan kata itu, sontak beberapa saat kemudian, media-media tertentu mem-blow up kata pribumi ini menjadi semacam kata rasisme anti keberagaman dalam kehidupan berbangsa. 

Saya pun tak mau berkomentar masalah ini, hanya pertanyaan yang muncul di pikiran saya, apakah benar bahwa kata “pribumi” dalam konteks pidato itu berkonotasi anti keberagaman?? Lalu dimanakah letak nurani Anda, jika Anda sebagai WNI terlibat sebagai aktor pembuat gaduh suasana negeri dengan melintir makna pribumi dalam pidato itu?? 

Semoga Indonesia menjadi lebih damai.

Pilkada Sukoharjo: War-Di Menang Telak!

Posted on

Sudah sekitar 6 bulan meninggalkan kota atau lebih tepatnya kabupaten Sukoharjo untuk menjadi abdi negara di pulau seberang, Kalimantan. Ada sedikit kerinduan yang terbersit di relung dada. Terkhusus untuk Sukoharjo, tentu kenangan yang ada karena hampir semua keluarga besar tinggal di sana. Sedangkan saya bersama anak istri merantau di Kalimantan yang pada kenyataannya tak punya sanak saudara pun di sini. Hanya bermodalkan keyakinan dan mengikuti garis takdir bahwa di sinilah tempat kami dapat memupuk diri bermanfaat bagi orang lain.

Tanggal 9 Desember kemarin, mengingatkan memori tentang Sukoharjo. Yang mana, saya yang masih ber KTP Sukoharjo harus absen dan golput tidak bisa berpartisipasi dalam “gawe” lima tahunan pilihan kepala daerah. Tapi saya masih bisa memantau melalui media massa khususnya melalui internet baik lewat media massa online ataupun situs resmi kpu.

Kabar terbaru, pilihan kepala daerah yang diikuti petahana, Wardo Wijaya dan Purwadi menang telak atas lawannya Nurdin dan Anis Mundhakir. Pasangan War-Di menang telak 86% atas lawannya. Namun sayang, kemenangan itu diciderai dengan laporan Gatra, bahwa wilayah Solo Raya, diduga marak terjadi politik uang di masyarakat. Walaupun sebenarnya saya sendiri sabagai warga Sukoharjo tidaklah heran terkait berita itu. Karena memang hampir setiap ada even pemilihan tidak hanya bupati saja, bahkan level lurah pun, politik uang sangatlah marak.

Selain itu, partisipasi masyarakat dinilai sangat kurang. Komite Independen Pemantau Pemilu melaporkan bahwa rata-rata partisipasi masayrakat hanya berkisar dalam rentang 50-60 % dari jumlah peserta pemilih. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi calon petahana, yang mana daya politik yang sudah terbangun selama periode sebelumnya begitu kuat. Belum lagi, kekuatan basis dukungan di Solo Raya memang sangat menguntungkan calon dari partai “merah”.  Sedangkan bagi calon penantang, tak mempunyai daya dukung politik yang kuat, tidak mengherankan kalau hasilnya sangat minim.

Bahkan, kalau bisa dibilang, kuatnya Wardo Wijaya memang akan sangat ditandingi oleh siapapun dalam pemilu kali ini. Bukan tanpa sebab, karena selama ini tidak muncul kandidat yang cukup kuat untuk bisa menandingi dominasi Wardo Wijaya dalam menghimpun basis dukungan. Selain itu, selama dalam menjabat periode sebelumnya, memang saya pun mengakui pembangunan yang dilakukan oleh Wardo Wijaya begitu masif. Pembangunan dan perbaikan jalan-jalan, pembangunan pasar-pasar tradisional, dan pembangunan kawasan Solo Baru sebagai kawasan bisnis baru di Solo Raya, tampaknya berhasil menggaet hati masyarakat.

Oleh karena itu, sebenarnya kalau ada calon penantang, sebenarnya sudah dari awal banyak orang yang memprediksi pasti akan kalah. Sehingga muncul isu, bahwa pasangan penantang kali ini, ibarat semut lawan gajah, bahkan ada yang mengatakan pasangan penantang ini sengaja dimunculkan agar jalan pemilihan pilihan daerah terlihat ramai/seru Tapi terlepas isu itu, yang jelas saya pun berharap dengan terpilihnya kembali Wardo Wijaya, Sukoharjo akan semakin Makmur.

Pengumuman Hasil TKD CPNS Daerah / Pusat 2014

Posted on Updated on

Per tanggal 24 November 2014 ini, pengumuman hasil TKD CPNS 2014 gelombang II sudah dikeluarkan oleh BKN. Pada gelombnag II ini dibagi menjadi 3 bagian yang berisi hasil TKD berbagai macam pemda, pemkot ataupun instansi pemerintah (pusat). Bagi yang ingin melihat secara langsung silahkan klik link di bawah ini.

Pengumuman Hasil Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS 2014

Semoga bermanfaat.

Cara Mendaftar BPJS Kesehatan

Posted on Updated on

41BPJSTanggal 1 Januari 2014 kemarin, pemerintah Indonesia telah meresmikan Sistem JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS menggantikan PT Askes dan juga PT Jamsostek. Sistem ini berfungsi sebagai fasilitas asuransi kesehatan bagi semua masyarakat Indonesia.

Keanggotaan BPJS terbagi menjadi 2, yaitu sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) serta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non-PBI). Untuk peserta PBI, premi akan dibayarkan oleh pemerintah, sedangkan untuk non-PBI premi akan dibayar sendiri oleh yang bersangkutan.

Untuk peserta non BPI, ada 3 kelas premi yang bisa dipilih, namun dari ketiga kelas tersebut, tidak ada perbedaan dalam tindakan medis, hanya perbedaan jumlah iuran saja. 3 kelas premi tersebut adalah sebagai berikut :

Kelas 1 = membayar premi Rp 59.500,00 per bulan
Kelas 2 = membayar premi Rp 45.500,00 per bulan
Kelas 3 = membayar premi Rp 25.500,00 per bulan

Cara mendaftar anggota BPJS untuk umum

  1. Masyarakat datang ke kantor BPJS Kesehatan yang ada di tingkat kabupaten maupun propinsi
  2. Masyararakat mengisi formulir dengan membawa salah satu kartu identitas KTP, SIM, Kartu Keluarga, atau Paspor.
  3. Setelah mengisi formulir, maka Anda akan mendapatkan Virtual Account yang digunakan sebagai nomor transaksi untuk pembayaran premi.
  4. Bagi Anggota Non BPI, anda harus membayar iuran terlebih dahulu dan setelah membayar iuran anda resmi menjadi anggota BPJS kesehatan.
  5. Bagi anggota BPI, setelah mendapat virtual account anda resmi menjadi anggota BPJS kesehatan, anda tidak perlu membayar iuran karena iuran anda dibayarkan oleh pemerintah.
  6. Anda akan mendapatkan kartu anggota BPJS Kesehatan.

Cara mendaftar anggota BPJS untuk karyawan

  1. Untuk karyawan di perusahaan yang sebelumnya menggunakan Jamsostek, cara mendaftarkan keanggotaan BPJS bisa langsung melalui perusahaan.
  2. Perwakilan perusahaan bisa datang langsung ke kantor BPJS di wilayah kabupaten atau kota kemudian mengisi formulir dan setelah itu mendapat satu Cara Mendaftar Anggota BPJS Untuk Karyawan dan Umumirtual Account untuk seluruh karyawan di satu perusahaan.
  3. Setelah itu perwakilan perusahaan membayarkan premi sejumlah iuran premi per karyawan dikalikan jumlah karyawan.
  4. Karyawan perusahaan telah resmi menjadi anggota BPJS kesehatan non PBI setelah membayar premi dan mendapatkan kartu anggota BPJS kesehatan sejumlah karyawan tersebut.

Cara mendaftar anggota BPJS untuk TNI, Polri, PNS serta Pengguna Askes

  1. Secara umum cara pendaftaran untuk TNI, Polri dan Pengguna Askes adalah sama. Namun pendafatarnnya akan lebih mudah karena data anda sudah ada di kantor BPJS.
  2. Pendaftaran bisa dilakukan sendiri maupun secara kolektif di kantor BPJS kesehatan dengan menyertakan bukti kartu askes anda.
  3. Premi anda akan dipotongkan dari gaji bulanan anda sebagaimana pengguna Askes sebelumnya.
  4. Setelah pendaftaran selesai, anda akan mendapatkan kartu BPJS kesehatan.

Bagi Anda yang mau mendaftarkan diri, silahkan donwload tempat pendaftaran melalui link ini.

Semoga dapat membantu.

Sumber: www.imamboll.com dan metrotvnews.com