Membentuk Generasi Al Fatih

Konstantinopel merupakan kota yang didirikan oleh pahlawan Yunani yang bernama Byzas. Oleh karena itu, kota ini dahulunya bernama Byzantium yang diambil dari nama pahlawan Yunani tersebut. Konstantinopel merupakan suatu ibukota imperium yang terbesar kala itu. Banyak orang yang berbondong-bondong menghuni ke dalam kota ini karena kemakmuran yang ditawarkan oleh kota ini. Bahkan Kaisar Konstantinopel menjadikannya “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia”.

Kota ini mempunyai kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Barang-barang berharga dari seluruh dunia dapat dijumpai di kota ini. Emas, perak ataupun berbagai simbol kekayaan dapat mudah dijumpai dan didapatkan di Konstantinopel. Dengan kekayaan yang melimpah dan jaminan kemakmuran bagi siapa saja yang mau tinggal, kota ini dilindungi dengan tembok besar, yang berabad-abad lamanya tidak ada seorang raja manapun yang mampu menggempur kokohnya tembok tersebut.

Bahkan berbagai kekaisaran Islam mencoba memenuhi janji Rasululllah untuk menaklukkan Konstantinopel tetapi belum juga terealisasi. Hingga pada suatu saat, Sultan Murad II dari Dinasti Utsmaniyah mempersiapkan anaknya, yaitu Sultan Muhammad II untuk bisa merealisasikan janji Rasulullah tersebut. Dan ternyata janji tersebut direalisasikan oleh Sultan Muhammad II, yang kini kita kenal sosoknya dengan Muhammad Al Fatih.

Seperti janji Rasulullah, untuk menaklukkan Kontantinopel dibutuhkan sosok pemimpin yang sebaik-baik pemimpin yang mampu membimbing dan mengarahkan pasukannya menjadi sebaik-baik pasukan. Dan itulah yang tercermin pada diri Sultan Muhammad II. Karakter dan keluasan wawasannya, membentuk dirinya menjadi sosok sebaik-baik pemimpin seperti yang dijanjikan Rasulullah.

Pada masa kecilnya, Sultan Muhammad II diasuh oleh Ahmad bin Ismail Al Kurani. Ahmad Al Kurani bukanlah ulama sembarangan kala itu. Menurut Imam Suyuthi, beliau adalah ulama yang menguasai ilmu ma’qul dan manqul, ahli dalam nahwu, ma’ani dan bayan, fiqh dan berbagai keutamaan lain. Sehingga wajar apabila dalam bidang keilmuan sosok Sultan Muhammad II mempunyai ilmu yang begitu luas. Tak hanya dalam ilmu keagamaan, Sultan Muhammad II juga mendapat ilmu tentang keduniaan, misal ilmu kedokteran, biologi, astronomi dan pengobatan herbal yang diperoleh dari Syaikh Aaq Syamsuddin yang nasabnya sampai ke Abu Bakar Ash Shidiq.

Dengan didikan ilmu yang begitu luas, yang tak hanya mencakup ilmu keagamaan tetapi juga ilmu keduniaan, sosok Sultan Muhammad II menjadi sosok yang luas dalam ilmu pengetahuannya dalam waktu yang masih sangat muda. Bahkan pada umur 8 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada masa yang masih remaja, dia sudah menguasai 7 bahasa, yaitu Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan Latin.

Tak hanya itu, keluasan ilmunya juga dimiliki dalam aspek ilmu sejarah. Hal ini penting, karena untuk menjadi seorang panglima Islam terbaik, Sultan Murad II meyakini dengan mengetahui sejarah kepahlawanan pemuka Islam maka dia bisa mengambil hikmah untuk kehidupannya mendatang, terutama sebagai panglima terbaik yang akan dimiliki oleh Islam untuk membebaskan Konstantinopel. Tak kalah penting, Sultan Murad II, memasukkan unsur sastra dalam kurikulum pendidikan Sultan Muhammad II, ia berkeyanikan, bahwa sastra mampu menghidupkan daya imajinatif seseorang. Dengan daya imajinasi yang baik, tentu seorang raja atau panglima mampu memutuskan sesuatu diluar dari pemikiran orang pada umumnya. Dan penaklukan Konstantinopel, merupakan buah karya pemikiran imajinatif Sultan Muhammad II yaitu dengan melakukan strategi yang belum pernah dilakukan oleh panglima-panglima perang di dunia. Yaitu memindahkan kapal perang melalui jalan darat yang menjadi kunci kemenangan Islam dalam menaklukkan Konstantinopel pada saat itu.

Dari cerita singkat di atas, maka kita dapat dapat menarik kesimpulan bahwa untuk membentuk generasi yang terbaik maka penting untuk membuat sebuah pola dan lingkungan yang terbaik bagi umat. Kurikulum pendidikan yang diterapkan pada Sultan Muhammad II mencakup ilmu dalam bidang keagamaan dan ilmu keduniaan. Aspek sejarah mendapatkan porsi lebih untuk membentuk generasi yang tahu akan kisah epik tentang pendahulunya. Sastra juga tidaklah kalah penting, sastra mampu membentuk seseorang untuk mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang baik.

Advertisements

Mengurus Akte Lahir

Alhamdulillah, Sabtu,tanggal 22 bulan 2 tahun 2014, jam 2 lebih 22 menit kemarin, saya dan istri dipercaya oleh Allah untuk merawat dan membesarkan bayi laki-laki mungil yang lahir dengan normal saat itu. Rasa bahagia menyelimuti kami, karena ini adalah amanah yang terbesar yang diberikan oleh Allah untuk menjaga dan mendidiknya agar menjadi anak yang sholih.

Jauh sebelum kelahiran, kami berdua sudah mempersiapkan nama untuk sang bayi. Setelah dikonsultasikan kepada orang tua dan mertua akhirnya kami sepakat untuk memberikan nama “Muhammad Al Fatih Yudhistira”.  Nama ini terilhami oleh dua sosok yaitu Muhammad Al Fatih sebagai salah satu panglima perang  terbaik yang dimiliki oleh umat Islam yang membebaskan kota Konstantinopel (Istanbul) yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Rasulullah. Nama yang kedua adalah Yudhistira, selain dilatarbelakangi pengambilan nama belakang saya (ayahnya), nama ini juga terinspirasi dengan sosok Yudhistira dalam kisah pewayangan Mahabarata. Sosoknya yang santun, sabar, bijaksana dan selalu memilih menyelesaikan masalah dengan diskusi ataupun dialog terlebih dahulu daripada kekerasan walaupun sebenarnya dia sangat kuat dan mempunyai banyak senjata rahasia.

Beberap waktu lalu, saya mencarikan akte kelahiran si Fatih tetapi tidak saya lakukan sendiri karena cukup memakan waktu. Sehingga saya meminta tolong kepada salah satu pamong desa tempat domisili kami untuk mengurusnya. Biaya yang kami keluarkan sekitar 100 ribu, walaupun sebenarnya kalau mengurus sendiri gratis karena kabupaten kami mempunyai program pelayanan gratis mengurus akte, tetapi setelah saya hitung-hitung juga,  kalau saya urus sendiri ternyata uang yang saya pakai wira-wiri dan beberapa keperluan lain habisnya juga tak jauh dari angka itu, oleh karena itu, pilihan untuk diuruskan salah satu pamong desa merupakan pilihan yang realsistis. Dan ternyata memang di tempat saya banyak warga yang melakukan hal serupa. Jadi, ini bukan masalah percaloan kepengurusan akte tetapi lebih karena menghargai jasa pamong desa yang mau untuk membantu menguruskan akte kelahhiran anak saya.

Ada beberapa hal yang menjadi syarat pembuatan akte, yaitu:

  1. Fotocopy KTP orang tua.
  2. Fotocopy surat nikah (kalau nikahnya di luar domisili, di tempat saya harus melampirkan surat nikah aslinya).
  3. Fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan melampirkan aslinya karena nanti ada pembaruan KK dengan memasukkan nama anak.
  4. Surat pengantar dari Bidan/Dokter/instansi terkait tempat anak dilahirkan.

Empat syarat tersebut sebenarnya masih kurang, karena masih ada beberapa syarat lain yang tidak saya sebutkan (berdasarkan formulir resmi yang dikeluarkan kabupaten saya, kita masih harus menyediakan saksi kelahiran anak untuk tanda tangan di Dispendukcapil, terus kalau kepengurusan diwakilkan harus membuat surat kuasa yang bermeterai). Tetapi karena kepengurusan ini diwakilkan oleh pamong desa, jadi syarat yang lain dapat dipenuhi sendiri oleh pamong desa tersebut. Sehingga dengan empat syarat tersebut, lengkap sudah semua berkas untuk pembuatan akte kelahiran anak saya.

Semoga membantu rekan-rekan yang saat ini sedang atau akan mengurus akte kelahiran anak tercinta.

Aku, Istriku dan Calon Pemimpin Kecil

“Moral suatu bangsa ditentukan oleh moral yang terbentuk dalam kehidupan keluarga.”

Lahirnya pemimpin bangsa yang berkarakter tidak terlepas bagaimana masyarakatnya “mendesain” kehidupan dalam rumah tangganya. Setiap orang tua mempunyai hak dan kewajiban yang mutlak untuk merancang kepribadian sang anak. Merancang kepribadian sang anak bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang tua. Pola asuh dan perlakuan yang tepat membentuk anak menjadi pribadi yang baik. Oleh karena itu sangatlah tepat bahwa moral suatu bangsa ditentukan oleh moral yang terbentuk dalam kehidupan keluarga.

Ahli psikologi Sigmun Freud mengatakan bahwa kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini (anak) akan membentuk pribadi yang bermasalah pada masa dewasanya kelak. Hal inilah yang menjadi permasalahan di beberapa periode waktu belakangan. Perilaku anak menjelang remaja dan dewasa yang suka dengan tawuran, memakai narkoba, premanisme dan sebagainya merupakan suatu cerminan adanya kesalahan pola asuh dan kegagalan dalam menanamkan kepribadian yang baik di masa kecilnya. Oleh karena itu, peranan orang tua merupakan komponen pertama dan utama dalam menghindari perilaku negatif sebagai bentuk cerminan kegagalan dalam penanaman kepribadian yang baik.

Kepribadian yang Baik Terangkum dalam Sikap Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan suatu bentuk seni dalam mengelola, mengatur, dan memengaruhi orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang dianggap berguna bagi kebaikan semua orang. Untuk itulah, mempunyai karakter seorang pemimpin yang bisa mengelola, mengatur dan memengaruhi orang dibutuhkan karakter-karakter kepribadian yang baik dan mendasar.

Apa sajakah karakter kepribadian yang baik yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin? Tentu pertanyaan tersebut tidak akan dibahas dalam satu artikel ini. Tetapi yang perlu disadari bahwa semua kepribadian baik (yang semestinya kita sudah tahu secara umum), misalkan percaya diri, terbuka dengan saran, kerja keras, pemberi teladan, jujur, dan sebagainya merupakan hal-hal dasar yang menjadi karakter bagi seorang pemimpin.

Saya contohkan beberapa hal yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik pada buku Choice Theory karangan William Glasser, yaitu pemberi teladan, mengarahkan, jujur dan terbuka, toleransi, percaya terhadap timnya, perhatian dan baik dalam berkomunikasi, ramah, dan memperdulikan tim dan orang sekitar. Beberapa hal yang diungkapkan oleh Glasser merupakan hal-hal yang sangat mendasar yang tentunya hal tersebut  bisa menjadi pondasi dasar bagi perkembangan kepribadian sang anak terutama dalam menyiapkannya untuk menjadi pemimpin.

Untuk itulah, kepemimpinan mempunyai daya dan kekuatan yang bersumber dari karakter-karakter yang baik dalam diri sang anak. Tentu karakter tersebut harus dicontohkan, dan diberikan secara konsisten oleh orang tua agar kepribadian-kepribadian yang baik tersebut menjadi bekal bagi perkembangan kepemimpinan sang anak.

Ayah atau Ibukah yang Berpengaruh?

Ketika pertanyaan tersebut saya lemparkan kepada Anda, siapakah yang lebih berpengaruh terhadap perkembangan anak, khsususnya dalam menyiapkan kepemimpinan sang anak? Saya yakin hampir semua dari Anda akan menjawab bahwa keduanya (Ayah dan Ibu) mempunyai pengaruh yang sama pentingnya. Jawaban Anda memang tidak salah, akan tetapi menurut saya, peran Ibu jauh lebih besar dalam menyiapkan si kecil menjadi pemimpin. Mengapa demikian?

Alasan pertama, seorang ibu mempunyai tanggung jawab dalam mengelola kehidupan rumah tangganya. Berbeda hal dengan peran ayah sebagai penanggung jawab keluarga. Artinya adalah semua pengelolaan, pengaturan dan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga menjadi tanggung jawab seorang ibu termasuk dalam mengawal perkembangan keribadian anak. Artinya peran seorang ibu menjadi sangat penting dan terdepan terkait dengan perkembangan kepemimpinan seorang anak.

Hal ini sangat logis, karena seorang ibu jauh lebih dekat ikatan emosional (batin) terhadap seorang anak. Selain itu, intensitas pertemuan seorang ibu jauh lebih sering daripada seorang ayah saat masa perkembangan si kecil karena seorang ibu hampir setiap waktu berada di dekat sang anak sedangkan ayah tentu mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah. Oleh karena itulah seorang ibu mempunyai kelebihan dalam segi waktu, intensitas pertemuan dan ikatan emosional yang lebih baik untuk mempersiapkan seorang anak menjadi seorang yang berkepribadian dan berkarakter baik terutama dalam hal kepemimpinan.

Alasan kedua adalah  ada sebuah ungkapan bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Betapa tidak, sejak ruh ditiupkan dalam kandungan, seorang bayi mampu menangkap isyarat-isyarat berupa rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh sang ibu. Tak sedikit yang mengatakan bahwa ketika seorang ibu memberikan rangsangan, sang bayi pun memberikan respon dengan tendangan-tendangan kecil. Ini menunjukkan adanya proses interaksi antara keduanya mengenai hal-hal yang memang diketahui oleh keduanya.

Selain itu, seringkali pula kita melihat ketika seseorang mencoba berkomunikasi dengan seorang anak terlihat kesulitan memahami maksud seorang anak. Tetapi bagi seorang ibu, dapat dengan mudah untuk mengetahui permintaan sang anak. Inilah bentuk interaksi dan proses belajar seorang anak dari sang ibu sehingga tercipta saling kepahaman diantara keduanya.

Untuk itulah, karena seorang ibu mempunyai peran yang begitu penting, seorang ibu tentu harus mempersiapkan dan membekali dirinya dengan berbagai berbagai ilmu kehidupan agar sang anak belajar dari orang yang tepat. Seorang ibu sudah semestinya meningkatkan kualitas pribadinya guna membimbing sang anak menjadi pribadi yang baik.

Aku, Istriku dan Calon Pemimpin Kecil

100_3101Saat ini usia kandungan istriku sudah memasuki bulan kelima. Artinya pada saat ini sudah terdapat ruh yang ada pada janin yang ada dikandungan istriku. Hal ini dibuktikan dengan sedikit tendangan yang terasa oleh istriku pada beberapa waktu lalu. Walaupun tidak terlalu jelas tetapi istriku meyakini bahwa itu adalah tendangan pertama dalam kandungan istriku. Pastinya kami sangat senang karena akhirnya bayi dalam kandungan kami untuk pertama kali menyapa kami berdua. Dan, ini menjadi start awal bagi kami untuk mempersiapkan anak kami menjadi anak yang berkepribadian dan berkarakter kuat.

Hal itulah yang juga diamini oleh istriku. Ketika aku bertanya, “Mey, kau ingin anak kita nanti menjadi seperti apa ketika besar?” Istriku pun menjawab, “Tidak perlu sama dengan orang tuanya, yang terpenting dia mempunyai kepribadian yang baik dan berguna bagi siapapun yang membutuhkan bantuannya baik diminta maupun tidak.”  Dan, akupun siap untuk membimbingnya agar menjadi orang yang baik dan berjiwa pemimpin.” Lega mendengar apa yang diucapkan istriku. Aku pun mengamini apa yang diucapkan oleh istriku, dan  bertekad akan menjadi partner yang terbaik dalam mempersiapkan calon anak kami. Doakan ya! Terima kasih untuk semuanya. Semoga saya, istri serta Anda semua menjadi orang tua yang mampu membimbing dan mempersiapkan si kecil menjadi pemimpin masa depan, terutama menjadi pemimpin negeri tercinta Indonesia agar menjadi lebih baik di suatu masa yang akan datang.

Alun-Alun Sragen

Alhamdulillah bisa update blog lagi setelah libur lebaran sama sekali tidak menyentuh kompi kantor. Maklum, karena hanya lewat kompi kantor saya bisa update blog, pasalnya kalau lewat koneksi modem menggunakan si lepi (laptop) malah makan ati. Koneksi jaringan 3 di desa saya (rumah orang tua) tidak ada kalaupun ada untuk mbuka mbah google saja bisa 15 menit …. maklum rumah saya di desa jadi jaringan 3 agak susah. Beda kalau saya pas berada di rumah yang terletak di tengah kota Sukoharjo, koneksi 3 masih agak mendingan untuk mengakses sana-sini walaupun tidak secepat harapan saya.

Banyak hal yang saya alami selama masa liburan lebaran ini. Tahun ini memang sedikit berbeda dengan lebaran dari tahun-tahun sebelumnya. Karena tahun ini saya sudah ditemani seorang istri dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan 1434 H. Ini merupakan Ramadan dan Lebaran pertama bagi kami berdua setelah menikah karena memang belum genap setahun usia pernikahan kami.

Seharusnya, dalam jadwal lebaran kali ini saya wajib mudik bersama istri ke rumah mertua di Jepara. Ternyata hal tersebut tidak bisa kami lakukan karena istri saya sedang hamil muda. Karena usia kandungan yang masih muda, kami tidak berani mengambil resiko sehingga kami memutuskan untuk berlebaran di Sukoharjo. Alhamdulillah, mertua saya memahami hal tersebut dan insyaallah malah akan berkunjung ke Sukoharjo tanggal 17 Agustus 2013 nanti.

Seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga menjadi ritual rutin yang saya lakukan. Tak lupa kami sekeluarga juga wajib berkunjung ke rumah mbah (nenek) yang ada di Sragen. Biasanya ketika berkunjung ke Sragen sekitar 2 hari tetapi untuk tahun ini hanya bisa berkunjung sehari karena harus segera mengurus perpanjangan SIM. Tak banyak yang bisa saya lakukan di sini, biasanya hanya jalan-jalan di sekitar kota Sragen terutama di alun-alun.

Alun-alun Sragen tergolong sangat kecil dibandingkan dengan alun-alun Sukoharjo. Alun-alun Sragen terletak di depan kantor dinas Bupati Sragen. Ketika saya membandingkan dengan alun-alun Sukoharjo, ada beberapa perbedaan antara keduanya. Ketika sore hari, kalau di alun-alun Sragen lebih banyak didominasi oleh orang yang menyediakan permainan untuk anak-anak dan beberapa penjual pakaian. Kalau di alun-alun Sukoharjo, lebih banyak didominasi oleh penjual makanan yang berderet hampir sepanjang lingkar alun-alun. Di Sragen penjual makanan sudah disediakan ruko-ruko tersendiri yang terdapat di samping alun-alun bukan di lingkar alun-alun. Selain itu, ada hal yang membuat saya heran, di alun-alun Sragen sangat banyak dijumpai penjual burger, bahkan kalau saya hitung mungkin lebih dari 5 penjual. Dan, saya mencari penjual bakso bakar ternyata di alun-alun Sragen hanya terdapat dua orang penjual bakso bakar itupun dalam 1 motor. Kalau di Sukoharjo sangat mudah untuk menemukan penjual bakso bakar. Tetapi rasa bakso bakar di alun-alun Sragen memang tidak kalah enak, bahkan mungkin cukup enak dibandingkan dengan rata-rata bakso bakar di Sukoharjo.

100_29392705shy-HUT-Sragen-1

Semoga bisa menjadi informasi kalau Anda kebetulan melewati Kabupaten Sragen dan mampir di alun-alunnya.

Selamat Hari Anak Nasional 2013!

Setiap tahun, Indonesia selalu merayakan Hari Anak Indonesia yang jatuh pada tanggal 23 Juli. Hari Anak Nasional selalu dilangsungkan setiap tahunnya yang didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional, Surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor B.246/MENKO/ KESRA/ XII/2012 tanggal 7 Desember 2012, tentang Penunjukan HAN 2013, dan Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Nomor 20 tanggal 10 Mei 2013 tentang Panita Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2013.

Peringatan HAN setiap tahunnya mempunyai maksud untuk selalu mengingatkan seluruh komponen bangsa baik negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua bersama-sama mewujudkan kesejahteraan anak yaitu dengan menghormati hak-hak anak, memberikan jaminan pemenuhan kebutuhannya dan tidak memperlakukan anak secara diskriminatif.

Selain itu, peringatan HAN ini bisa menjadi sebuah momentum awal untuk selalu peduli terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas, tangguh, kreatif, jujur, sehat, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat tumbuh berkembang menjadi sosok yang sehat secara fisik, cerdas secara moral dan mempunyai keimanan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bangsa Indonesai menjadi lebih berbudaya lewat pemenuhan kebutuhan anak dalam tiga aspek, yaitu fisik, moral-keterampilan dan keimanan.

Pada tahun 2013 ini, Hari Anak Nasional mempunyai tema yang fokus terhadap kepedulian anak yang dimulai dari pola pengasuhan di dalam keluarga. Hal ini memang menjadi sebuah tantangan bagi setiap orang tua maupun komponen keluarga untuk memperlakukan dan memenuhi kebutuhan anak agar m njadi sosok pribadi yang lebih baik di masa mendatang. Keuarga menjadi sistem pendidikan pertama yang harus benar-benar dimaksimalkan agar anak mempunyai perkembangan yang terbaik. Keluarga merupakan komponen terpenting dalam mengembangkan karakter anak. Sehingga lewat pengasuhan yang tepat dan terbaik di dalam keluarga, diharapkan anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan negara serta agama.

Berikut ini tema, subtema, slogan dan logo Hari Anak Nasional 2013.
Tema:  ‘’Indonesia Yang Ramah Dan Peduli Anak Dimulai Dari Pengasuhan Dalam Keluarga”

Sub Tema: Perkuat jati diri anak Indonesia melalui penanaman nilai-nilai luhur budaya bangsa; Penuhi hak identitas anak melalui akta kelahiran; Kembangkan potensi anak sejak dini sesuai minat dan bakatnya; Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak; Dengarkan dan hargai suara dan pendapat anak; Tingkatkan kepedulian untuk mencegah kekerasan terhadap anak; Wujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, tangguh dan mandiri; Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sehat sebagai media pengembangan inovasi dan kreatifitas anak.

Slogan: Stop kekerasan terhadap anak; Partisipasi dan kemandirian anak tentukan masa depan bangsa; Dukung keluarga dalam membangun kemandirian dan daya tahan anak; Anak cerdas gunakan Internet sehat; Bersama kita wujudkan Indonesia Layak Anak.

Logo Hari Anak Nasional 2013

 han

Logo HAN 2013 menggambarkan figur anak laki laki dan perempuan yang sedang bergandengan tangan merangkai simbol nasionalisme (Bendera), intelektual (buku), cita cita dan prestasi (Bintang). Bermakna sebagai generasi penerus harus memiliki nasionalisme, rasa cinta tanah air, solidaritas, kecerdasan, cita-cita yang tinggi.

 Selamat Hari Anak Nasional!!!