Keluarga

Tahun Baru, Hidup yang Lebih Baru

Posted on

Pada intinya, semangat bersyukur dan muhasabah diri itulah yang harus dilakukan ketika bergantinya tahun. Apakah perlu melakukan perayaan seperti orang-orang lakukan?

Saya kembalikan ke Anda. Jika anda termasuk yang memegang prinsip layaknya kawan-kawan yang melakukan syiar “tahun baru bukan budaya dan ajaran agama” ya sumonggo, silahkan. 

Jika Anda termasuk yang ingin sekali ikut tenggelam dengan “wah” nya pergantian tahun di tempat ramai yang ditemani kembang api, ya saya juga tak bisa melarang Anda. 

Tapi jika Anda  seperti saya menikmati pergantian tahun dengan stand by di rumah menikmati kebersamaan bersama keluarga ditemani nonton boxing day premier league, ya silahkan juga.

Terpenting perlu dipahami jangan ada caci maki. Berjalan sesuai dengan apa yang menjadi keinginan masing-masing. Kalau ada yang bisa Anda lakukan hal yang lebih positif, mending lakukan hal itu. Dan, kita sebagai orang dewasa pun tahu, mana yang positif dan negatif bagi diri kita masing-masing.

Selamat menjalani kehidupan yang baru di tahun yang baru pula.

Advertisements

Kenapa daun-daun itu jatuh??

Posted on

“Ayah, kenapa daun-daun itu jatuh ke tanah kena angin?” 

Itu adalah kalimat pertanyaan yang muncul dari mulut anak saya yang berusia 3,5 tahun. Dengan pelafalan yang masih terbata-bata karena memang anak saya terlambat bicara. 

Tetapi saya bersyukur, kecerdasan emosional maupun intelektual sudah muncul sejak dini. Salah satunya adalah pertanyaan yang tak pernah saya sangka mengenai daun di pagi hari waktu berkunjung di taman Jatisari, Mijen Semarang.

Anda pun pasti mengalami hal seperti ini. Mari menikmati dan mengajarkan hal-hal yang terbaik bagi anak-anak kita.

5 Tahun sudah!

Posted on Updated on

5 tahun berjalam sejak November 2012 lalu. Menjalani susah senang bersama, baik bersama besar maupun keadaan yang terasa terdampar seperti saat ini. Berkelana berdua ditambah satu jagoan saat ini. Menjauh dari bumi kelahiran, menjalani kehidupan penuh keberanian di pulau seberang tanpa ada saudara se darah yang berada di sekitar kita.

Semoga jalinan kasih sejak lima tahun sampai detik ini, akan selalu terikat kuat sampai ke akhirat nanti. Saling mengisi, mengasihi dan menguatkan diantara kita. Terima kasih sayangku, terima kasih belahan jiwaku, istriku.

Happy Anniversarry Wedding  yang ke-5.

Membentuk Generasi Al Fatih

Posted on

Konstantinopel merupakan kota yang didirikan oleh pahlawan Yunani yang bernama Byzas. Oleh karena itu, kota ini dahulunya bernama Byzantium yang diambil dari nama pahlawan Yunani tersebut. Konstantinopel merupakan suatu ibukota imperium yang terbesar kala itu. Banyak orang yang berbondong-bondong menghuni ke dalam kota ini karena kemakmuran yang ditawarkan oleh kota ini. Bahkan Kaisar Konstantinopel menjadikannya “kota yang paling diinginkan di seluruh dunia”.

Kota ini mempunyai kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Barang-barang berharga dari seluruh dunia dapat dijumpai di kota ini. Emas, perak ataupun berbagai simbol kekayaan dapat mudah dijumpai dan didapatkan di Konstantinopel. Dengan kekayaan yang melimpah dan jaminan kemakmuran bagi siapa saja yang mau tinggal, kota ini dilindungi dengan tembok besar, yang berabad-abad lamanya tidak ada seorang raja manapun yang mampu menggempur kokohnya tembok tersebut.

Bahkan berbagai kekaisaran Islam mencoba memenuhi janji Rasululllah untuk menaklukkan Konstantinopel tetapi belum juga terealisasi. Hingga pada suatu saat, Sultan Murad II dari Dinasti Utsmaniyah mempersiapkan anaknya, yaitu Sultan Muhammad II untuk bisa merealisasikan janji Rasulullah tersebut. Dan ternyata janji tersebut direalisasikan oleh Sultan Muhammad II, yang kini kita kenal sosoknya dengan Muhammad Al Fatih.

Seperti janji Rasulullah, untuk menaklukkan Kontantinopel dibutuhkan sosok pemimpin yang sebaik-baik pemimpin yang mampu membimbing dan mengarahkan pasukannya menjadi sebaik-baik pasukan. Dan itulah yang tercermin pada diri Sultan Muhammad II. Karakter dan keluasan wawasannya, membentuk dirinya menjadi sosok sebaik-baik pemimpin seperti yang dijanjikan Rasulullah.

Pada masa kecilnya, Sultan Muhammad II diasuh oleh Ahmad bin Ismail Al Kurani. Ahmad Al Kurani bukanlah ulama sembarangan kala itu. Menurut Imam Suyuthi, beliau adalah ulama yang menguasai ilmu ma’qul dan manqul, ahli dalam nahwu, ma’ani dan bayan, fiqh dan berbagai keutamaan lain. Sehingga wajar apabila dalam bidang keilmuan sosok Sultan Muhammad II mempunyai ilmu yang begitu luas. Tak hanya dalam ilmu keagamaan, Sultan Muhammad II juga mendapat ilmu tentang keduniaan, misal ilmu kedokteran, biologi, astronomi dan pengobatan herbal yang diperoleh dari Syaikh Aaq Syamsuddin yang nasabnya sampai ke Abu Bakar Ash Shidiq.

Dengan didikan ilmu yang begitu luas, yang tak hanya mencakup ilmu keagamaan tetapi juga ilmu keduniaan, sosok Sultan Muhammad II menjadi sosok yang luas dalam ilmu pengetahuannya dalam waktu yang masih sangat muda. Bahkan pada umur 8 tahun beliau sudah hafal Al Qur’an dan pada masa yang masih remaja, dia sudah menguasai 7 bahasa, yaitu Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan Latin.

Tak hanya itu, keluasan ilmunya juga dimiliki dalam aspek ilmu sejarah. Hal ini penting, karena untuk menjadi seorang panglima Islam terbaik, Sultan Murad II meyakini dengan mengetahui sejarah kepahlawanan pemuka Islam maka dia bisa mengambil hikmah untuk kehidupannya mendatang, terutama sebagai panglima terbaik yang akan dimiliki oleh Islam untuk membebaskan Konstantinopel. Tak kalah penting, Sultan Murad II, memasukkan unsur sastra dalam kurikulum pendidikan Sultan Muhammad II, ia berkeyanikan, bahwa sastra mampu menghidupkan daya imajinatif seseorang. Dengan daya imajinasi yang baik, tentu seorang raja atau panglima mampu memutuskan sesuatu diluar dari pemikiran orang pada umumnya. Dan penaklukan Konstantinopel, merupakan buah karya pemikiran imajinatif Sultan Muhammad II yaitu dengan melakukan strategi yang belum pernah dilakukan oleh panglima-panglima perang di dunia. Yaitu memindahkan kapal perang melalui jalan darat yang menjadi kunci kemenangan Islam dalam menaklukkan Konstantinopel pada saat itu.

Dari cerita singkat di atas, maka kita dapat dapat menarik kesimpulan bahwa untuk membentuk generasi yang terbaik maka penting untuk membuat sebuah pola dan lingkungan yang terbaik bagi umat. Kurikulum pendidikan yang diterapkan pada Sultan Muhammad II mencakup ilmu dalam bidang keagamaan dan ilmu keduniaan. Aspek sejarah mendapatkan porsi lebih untuk membentuk generasi yang tahu akan kisah epik tentang pendahulunya. Sastra juga tidaklah kalah penting, sastra mampu membentuk seseorang untuk mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang baik.

Mengurus Akte Lahir

Posted on

Alhamdulillah, Sabtu,tanggal 22 bulan 2 tahun 2014, jam 2 lebih 22 menit kemarin, saya dan istri dipercaya oleh Allah untuk merawat dan membesarkan bayi laki-laki mungil yang lahir dengan normal saat itu. Rasa bahagia menyelimuti kami, karena ini adalah amanah yang terbesar yang diberikan oleh Allah untuk menjaga dan mendidiknya agar menjadi anak yang sholih.

Jauh sebelum kelahiran, kami berdua sudah mempersiapkan nama untuk sang bayi. Setelah dikonsultasikan kepada orang tua dan mertua akhirnya kami sepakat untuk memberikan nama “Muhammad Al Fatih Yudhistira”.  Nama ini terilhami oleh dua sosok yaitu Muhammad Al Fatih sebagai salah satu panglima perang  terbaik yang dimiliki oleh umat Islam yang membebaskan kota Konstantinopel (Istanbul) yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Rasulullah. Nama yang kedua adalah Yudhistira, selain dilatarbelakangi pengambilan nama belakang saya (ayahnya), nama ini juga terinspirasi dengan sosok Yudhistira dalam kisah pewayangan Mahabarata. Sosoknya yang santun, sabar, bijaksana dan selalu memilih menyelesaikan masalah dengan diskusi ataupun dialog terlebih dahulu daripada kekerasan walaupun sebenarnya dia sangat kuat dan mempunyai banyak senjata rahasia.

Beberap waktu lalu, saya mencarikan akte kelahiran si Fatih tetapi tidak saya lakukan sendiri karena cukup memakan waktu. Sehingga saya meminta tolong kepada salah satu pamong desa tempat domisili kami untuk mengurusnya. Biaya yang kami keluarkan sekitar 100 ribu, walaupun sebenarnya kalau mengurus sendiri gratis karena kabupaten kami mempunyai program pelayanan gratis mengurus akte, tetapi setelah saya hitung-hitung juga,  kalau saya urus sendiri ternyata uang yang saya pakai wira-wiri dan beberapa keperluan lain habisnya juga tak jauh dari angka itu, oleh karena itu, pilihan untuk diuruskan salah satu pamong desa merupakan pilihan yang realsistis. Dan ternyata memang di tempat saya banyak warga yang melakukan hal serupa. Jadi, ini bukan masalah percaloan kepengurusan akte tetapi lebih karena menghargai jasa pamong desa yang mau untuk membantu menguruskan akte kelahhiran anak saya.

Ada beberapa hal yang menjadi syarat pembuatan akte, yaitu:

  1. Fotocopy KTP orang tua.
  2. Fotocopy surat nikah (kalau nikahnya di luar domisili, di tempat saya harus melampirkan surat nikah aslinya).
  3. Fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan melampirkan aslinya karena nanti ada pembaruan KK dengan memasukkan nama anak.
  4. Surat pengantar dari Bidan/Dokter/instansi terkait tempat anak dilahirkan.

Empat syarat tersebut sebenarnya masih kurang, karena masih ada beberapa syarat lain yang tidak saya sebutkan (berdasarkan formulir resmi yang dikeluarkan kabupaten saya, kita masih harus menyediakan saksi kelahiran anak untuk tanda tangan di Dispendukcapil, terus kalau kepengurusan diwakilkan harus membuat surat kuasa yang bermeterai). Tetapi karena kepengurusan ini diwakilkan oleh pamong desa, jadi syarat yang lain dapat dipenuhi sendiri oleh pamong desa tersebut. Sehingga dengan empat syarat tersebut, lengkap sudah semua berkas untuk pembuatan akte kelahiran anak saya.

Semoga membantu rekan-rekan yang saat ini sedang atau akan mengurus akte kelahiran anak tercinta.