Category Archives: Manajemen

Menerapkan Konsep API dalam Persaingan Usaha*

Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya ternyata hanya memiliki wirausaha tak lebih 0,18 persen dari total penduduknya. Sudah jamak kita ketahui, sebuah negara harus memiliki wirausaha minimal 2 persen dari total penduduk agar bisa maju. Misalnya, Amerika Serikat memiliki jumlah wirausaha sekitar 11,5 persen dari total penduduknya. Salah satu negara tetangga terdekat kita Singapura,  memiliki 7,2 persen warga Singapura sehingga negara kecil itu termasuk dalam kategori negara maju. Untuk itulah, apabila Indonesia ingin menjadi salah satu bagian dari negara maju, maka salah satu solusinya adalah meningkatkan jumlah wirausaha minimal 2 persen dari jumlah penduduknya.

Akan tetapi memang semua itu tidak mudah seperti membalikkan tangan. Semua butuh proses dan perjuangan. Seorang entrepreneur harus mampu bersaing dengan entrepreneur lain agar usahanya tidak berhenti di tengah jalan. Apalagi kedepan Indonesia harus menghadapi perdagangan bebas dengan negara-negara lain yang imbasnya adalah ketahanan suatu usaha dalam negeri terhadap persaingan dan guyuran produk-produk luar negeri.

Untuk itulah perlu adanya kesiapan bagi para entrepreneur untuk menghadapi persaingan usaha. Saya mencoba merumuskan konsep API. Konsep API terdiri dari Adaptasi, Peluang dan Interaksi.

Adaptasi

Dalam dunia biologi, adaptasi acapkali mengarah pada cara penyesuaian makhluk hidup terhadap lingkungannya untuk bertahan hidup. Dalam dunia usaha, hal ini juga berlaku bagi seorang enterpreneur. Mengapa? Dalam dunia usaha, tidak hanya persaingan dari entrepreneur yang lain tetapi juga bersaing dan berpacu melawan waktu. Selain itu, dalam dunia usaha setiap tindakan kebanyakan tidak bisa dikerjakan sendiri, tetapi harus dikerjakan dengan tim untuk hasil yang maksimal. Untuk itulah adaptasi dalam dunia usaha harus bisa dilakukan secepat mungkin agar usaha yang dijalankan dapat berjalan dan bertahan sesuai dengan harapan tanpa tergerus dalam persaingan.

Adaptasi dalam dunia usaha ini dapat dilakukan dengan  mengenali dengan betul keunggulan dan kelemahan produk, mengenali pesaing baik kelebihan maupun kelemahan usahanya, kenali personil dalam tim dengan baik dan rancanglah mereka menjadi personil unggulan, kenali daya saing dan daya ekspansi produk, dan kenali peta persaingan yang ada pada daerah pemasaran produk. Harus diingat bahwa dalam usaha, semua dapat berubah dengan cepat. Artinya semua program adaptasi di atas harus selalu diupgrade dan diinovasikan sesuai dengan kebutuhan perubahan atau bahkan produk kitalah yang memimpin perubahan. Itulah fungsi utama dari proses adaptasi pada konsep API.

Beberapa hal proses adaptasi di atas akan sangat membantu perencanaan dan evaluasi untuk menentukan kebijakan dalam mengelola, mengembangkan serta menjaga stabilitas produksi agar tetap bersaing dan bertahan dalam persaingan usaha.

Peluang

Salah satu faktor terpenting dalam kelangsungan usaha adalah cara dan perilaku entrepreneur dalam memanfaatkan semua peluang yang ada. Peluang disini adalah memanfaatkan setiap momen untuk mengenalkan produk pada khalayak umum. Adanya pameran usaha, festival kewirausahaan, kerja sama dengan instansi lain, seminar atau workshop kewirausahaan dan berbagai macam hal kegiatan lain merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengenalkan produk.

Memanfaatkan peluang juga akan bersinggungan dengan strategi pemasaran. Tentu tidak semua peluang harus diperlakukan dengan strategi yang sama antara peluang satu dengan yang lain. Maka dari itu persiapkan strategi pemasaran yang tepat setiap ada peluang untuk memamerkan dan memperkenalkan produk kepada orang lain.

Interaksi

Dalam kajian Biologi, interaksi merupakan pola hubungan antara satu spesies dengan spesies baik yang masih dalam satu komunitas dan populasi atau bahkan lintas komunitas dan populasi. Pola interaksi tersebut salah satunya kita kenal dengan simbiosis. Simbiosis terbagi beberapa macam baik yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan.

Ternyata konsep interaksi tersebut juga berlaku dalam dunia usaha. Contoh sederhana adalah setiap entrepreneur sangat dituntut untuk membentuk atau ikut serta dalam suatu komunitas yang nantinya dapat berfungsi sebagai rekan bisnis maupun mentor dalam bisnis. Dengan adanya suatu komunitas tersebut membantu entrepreneur untuk membangun networking serta dapat menyerap ilmu maupun pengalaman dari entrepreneur lain. Pengalaman dan networking inilah yang sangat membantu dalam mempertahankan usaha yang dijalankan.

Apakah harus bergabung dengan suatu komunitas yang sama dengan usaha kita? Saya berpendapat tidak harus. Inilah yang disebut dengan interaksi antarspesies yang berbeda komunitas maupun populasi. Kita tidak harus bergabung dengan komunitas yang sejenis dengan usaha kita, karena dengan bergabung dengan komunitas lain (tentu masih dalam ranah usaha), kita dapat memperkenalkan produk usaha kita dan ini juga merupakan bentuk dari pembangunan networking lintas komunitas. Interaksi ini memang tidak saling menguntungkan tetapi juga tidak merugikan. Tetapi suatu saat tentu komunitas lintas komunitas seperti ini tetap akan menguntungkan karena bisa jadi suatu saat kita membutuhkan produk mereka untuk memenuhi kebutuhan kita. Begitu pula sebaliknya, suatu saat bisa jadi mereka juga membutuhkan produk kita.

Konsep API di atas merupakan suatu konsep yang mendasar yang harus dilakukan oleh semua entrepreneur agar dapat bersaing dan bertahan dalam menjalankan usahanya. Semoga dapat bermanfaat, terima kasih.

*Tulisan di atas diikutsertakan dalam Lomba Esai Ciputra Entrepreneurship 2013 Bertema ‘Menghadapi Persaingan Sebagai Entrepreneur’ melalui situs resmi www.ciputraentrepreneurship.com

Daftar Pustaka:

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/196210011991021-YOYON_BAHTIAR_IRIANTO/Modul-1-Konsep_Kewirausahaan.pdf

Alasan Orang Mengajukan Resign

resign

Apabila Anda sebagai pegawai  kantor, pasti Anda tidak asing dengan kata resign. Resign tidak sama artinya dengan PHK atau pemecatan walaupun keduanya mengandung unsur berhenti bekerja. Resign merupakan pengajuan pengunduran diri untuk berhenti bekerja pada suatu perusahaan. Sehingga resign dapat dikatakan berhenti bekerja karena dari pihak karyawan sendiri. Sedangkan PHK atau pemecatan merupakan pemberhentian kerja yang dilakukan pihak perusahaan terhadap karyawan berdasarkan alasan tertentu.

Kemarin, Sabtu, 31 Agustus 2013 ada dua orang teman kantor yang mengajukan pengunduruan diri sebagai karyawan. Saya sendiri tidak terlalu tahu alasan dari keduanya untuk resign. Tetapi hal tersebut memang sudah wajar mengingat setiap orang mempunyai pilihan dan menjadi hak dalam hidupnya untuk resign. Begitulah sekiranya makna yang terkandung dalam pelepasan teman kantor kami pagi tadi.

qodir

Ket: Penampakan Syeikh Abdul Qodir (baju merah, tengah, dan berkacamata) teman saya yang resign dan berpredikat “lulus dengan mumtaz” dari tempat kerja kami.

Bagi Anda yang berprofesi sebagai karyawan, pernahkan terpikir untuk resign dari perusahaan tempat Anda bekerja sekarang? Apa alasan Anda ketika suatu saat akan mengajukan resign?

Bagi saya, alasan resign terbagi menjadi dua, yaitu alasan yang tidak ditampakkan/disampaikan dan alasan yang tampak (dibuat se-logis mungkin bagi atasan). Biasanya alasan yang tidak ditampakkan/disamapaikan ini menjadi faktor utama seseorang mengajukan resign. Karena hampir tidak mungkin disampaikan karena takut menyinggung perasaan orang sehingga terkadang orang lari dan mencari berbagai alasan yang logis untuk disampaikan. Tapi mungkin bagi orang yang suka dengan blak-blakan hal tersebut tidak berlaku dan ia menyampaikan apa adanya mengapa ia mengajukan resign. It’s your choice!

Alasan Karyawan Mengundurkan Diri (Resign) yang Tidak Disampaikan

1.       Gaji, Fasilitas & Tunjangan

Permasalahan gaji, fasilitas dan tunjangan merupakan alasan utama seseorang mengajukan resign dari suatu perusahaan. Ketiga hal tersebut merupakan faktor-faktor kesejahteraan yang senantiasa menjadi tuntutan bagi karyawan. Entah karena himpitan kehidupan yang semakin menjepit atau memang sifat manusia yang selalu merasa kurang dengan semua yang sudah ada. Intinya, untuk bisa menjalani hidup dengan nyaman membutuhkan faktor-faktor kesejahteraan tersebut. Maka dari itu, alasan ini menjadi alasan yang paling umum. Tetapi biasanya, alasan ini jarang yang diungkapkan langsung ke pihak perusahaan, kecuali orang-orang yang berkarakter nekad dan blak-blakan tadi. Karena biasanya alasan gaji, fasilitas dan tunjangan menjadi hal sensitif untuk dibicarakan ketika mengajukan resign.

2.       Atasan Terlalu Banyak Menuntut

Atasan banyak menuntut memang hal yang wajar. Karena mereka juga mendapat tuntutan dari dewan direksi tetapi terkadang tuntutan mereka yang tidak masuk akal dan intensitas yang terlalu sering. Atasan yang terlalu menuntut biasanya tidak disukai oleh bawahannya. Bahkan ketemu saja enggan apalagi mengajak bicara. Atasan yang sering menuntut biasanya dicap sebagai atasan yang kerjaannya suruh sana suruh sini, ganti format kerjaan secara mendadak sehingga mengubah jalannya produksi selain itu membuat targetan yang tidak masuk akal pula. Huffh, sungguh menyebalkan! Bahkan kadang saya berkata kepada kawan “penderitaan” saya, “belum tentu apa yang disuruh atasan tersebut mampu ia kerjakan sesuai dengan targetan yag ia buat.  Bisanya cuma ngomong thok! “

3.       Overload Job Description – Unjob Description

Alasan ini biasanya dikemukan oleh karyawan yang bekerja di kantor dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak, sehingga beberapa tugas yang seharusnya dihandle oleh beberapa orang, diharuskan dihandle sendiri. Selain itu, terkadang tugas yang seharusnya menjadi job orang lain malah kita yang mengerjakan. Alasannya karena targetan kita sudah mulai aman, sedangkan yang lain belum sehingga mau tidak mau ya harus ikut mengerjakan tugas orang lain.

Sebenarnya kalau untuk membantu sesama kawan karyawan kita oke-oke saja. Tetapi hal ini menjadi suatu kebiasaan di kemudian hari. Karena sang atasan tidak mampu membuat sistem/manajemen yang baik mengenai permalasahan yang sama setiap tahunnya.

4.       Kenyamanan Tempat Kerja

Beberapa karyawan akan resign dari tempat kerjanya jika sudah tidak merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya. Salah satunya mungkin karena kantor/ruang kerja yang kurang representatif, sehingga tidak dapat konsentrasi dengan apa yang dikerjakannya. Pengalaman dari teman saya, dulu ketika bekerja di Jakarta, dia menempati kantor perusahaan yang sebenarnya tidak layak menjadi sebuah kantor. Teman saya menyebutnya kandang ayam, karena bangunan kantor yang semi permanen sehingga kelihatan sangat kumuh. Padahal tidak jauh dari kantor teman saya, ada bagunan rumah mewah tempat kediaman sang direktur. Kawan saya itu kemudian sering menyebut dengan “Gubug Derita”. Makanya dai memutuskan resign dan balik ke kampung halaman di Boyolali.

5.       Konflik Dengan Rekan Kerja

Konflik dengan rekan kerja merupakan pemicu resign juga. Bagaimana tidak? Kerja kalau ada masalah personal dengan rekan kerja tentu sangat menganggu dan tidak mengenakkkan bukan? Bisa jadi penyebabnya hanya kesalahpahaman, daripada terjadi percekcokan yang tidak berujung atau rasa tidak enak maka salah satunya akan mengajukan resign. Tetapi sebenarnya untuk hal ini bisa diatasi dengan saling terbuka dan meminta maaf.

6.       Tidak Ada Peningkatan Karir

Tipe karyawan itu bermacam-macam, ada yang career oriented ada pula yang karyawan “lurus”. Biasanya kalau yang bertipe career oriented memandang pekerjaan dengan melihat prospek jenjang karier yang jelas. Hal ini wajar karena jenjang karier juga menentukan kesejahteraan hidup. Kalau tidak mempunyai prospek yang bagus biasanya memilih untuk resign dan mencari tempat yang baru. Berbeda dengan karyawan “lurus’ asal nyaman bekerja disitu biasanya akan memilih untuk bertahan.

7.       Tidak Mendapat Pengakuan

Umumnya, karyawan akan merasa bangga bila pekerjaannya diakui oleh bos atau rekan-rekan. Pengakuan ini bisa dalam bentuk ‘reward’ atau penghargaan seperti pujian, pemberian bonus, kenaikan gaji, kenaikan jabatan, dan lain-lain. Tapi jika pengakuan ini tidak pernah dirasakan, biasanya orang akan menganggap apa yang telah ia lakukan selama ini sia-sia belaka. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa karyawan memilih resign.

Alasan Karyawan Mengundurkan Diri (Resign) yang Disampaikan

1.       Akses ke Tempat Kerja

Jarak rumah dengan tempat kerja, disadari atau tidak akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi seorang karyawan. Jarak yang terlalu jauh terkadang memberikan dampak gairah kerja karena jarak yang ditempuh terlalu jauh dan lama. Sehingga ini menyebabkan tidak semangat ketika berangkat kerja. Selain itu dari segi ekonomis, jarak terlalu jauh juga menyebabkan pembengkakan biaya untuk bensin. Sangat logis apabila jarak terlalu jauh membutuhkan alokasi dana untuk bensin yang besar sehingga mengurangi jatah biaya yang lain. Maka pilihan yang tepat adalah resign dan mencari tempat yang lebih dekat. Kalaupun harus kontrak rumah masih enak/logis bagi yang belum menikah, kalau sudah menikah tentu hal ini menjadi pertimbangan tersendiri.

2.       Pengembangan Karir

Terdengar sedikit diplomatis alasan tersebut, tapi inilah pilihan jawaban yang paling bijak dari semua karyawan yang berniat resign dari tempat kerjanya. Alasan ini memberikan suatu pernyataan yang diplomatis mengenai resign dari perusahaan. Dia akan mengutarakan jawaban ini meskipun dirinya belum yakin apakah akan dapat melanjutkan karirnya dengan lebih baik ditempat lain.

3.       Melanjutkan Cita-cita yang Tertunda

Hal ini hampir sama dengan no 2 tetapi sedikit perbedaan menyertainya. Pada poin 3 ini lebih kepada tujuan yang hendak ia capai dan ia telah mengidamkan selama beberapa tahun. Bisa jadi karena ia ingin melanjutkan kuliah/sekolah ataupun bekerja pada perusahaan yang telah ia idamkan sejak dulu.

4.       Jadi Enterpreneur!

Tidak mudah menjadi seorang enterpreneur, tetapi alasan resign untuk menjadi enterpreneur merupakan alasan yang cukup prestisius. Banyak contoh yang kita dengar dalam seminar atau tulisan kewirausahaan, tokoh-tokoh enterpeneur sukses yang awalnya bekerja di kantor dan memilih resign demi melanjutkan passion enterpreneurnya.

 Masih banyak hal lagi yang bisa dijadikan suatu alasan mengapa orang meiulih resign dari tempat bekerjanya. Tapi asal tahu saja, banyak karyawan yang resign dengan mengatakan alasan ‘ingin mendapatkan kesempatan yang lebih baik’. Padahal sesungguhnya banyak karyawan yang mengatasnamakan ‘kesempatan’ untuk menyamarkan motivasi yang sesungguhnya.

Semoga Bermanfaat.

Sumber:  http:// riefsaf.blogspot.com

Are You Corporate Slaves?

Corporate_slaveMungkin  bagi Anda yang berprofesi sebagai karyawan, kata “corporate slaves” sudah tidak asing lagi bagi Anda. Jujur saja, saya baru menemukan kata ini ketika membuka laman web tentang motivasi. Kebetulan saya ingin mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan bisnis dan karir. Corporate slaves sangat asing bagi saya walaupun saya sendiri berprofesi sebagai karyawan/pegawai. Tetapi dari sekilas membaca kata “corporate slaves” terlintas makna negatif dalam alam pikir saya. Dan dari situlah saya menyadari, bahwa apa yang saya interpretasikan dalam pikiran saya mengenai arti kata tersebut ternyata selama ini memang saya alami juga.

Corporate Slaves dapat kita artikan secara umum dengan “budak perusahaan”. Dari pengertian tersebut tentu objek kata tersebut adalah orang-orang yang berprofesi sebagai karyawan yang bekerja di suatu perusahaan. Sebagai pegawai kantor atau karyawan perusahaan tentu mempunyai tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Tanggung jawab ini pula yang menjadi rutinitas kerja dan menyita waktu kita sehingga jam kantor yang rata-rata 8 jam terasa kurang untuk mengerjakan tugas perusahaan. Tak pelak, lembur sampai malam atau masuk di hari Sabtu menjadi kewajiban untuk mengejar target pekerjaan. Itulah mengapa karyawan perusahaan diidentikkan dengan “corporate slaves”.

Selama ini proses berpikir kita “teracuni” dengan bekerja di sebuah instansi untuk menjadi pegawai kantor merupakan pekerjaan yang bergengsi. Dan, mungkin ada yang mengatakan yang terbaik. Tetapi persepsi tersebut tidak selamanya benar. Mengapa? Tidak sedikit orang yang  mengalami bahwa kehidupan menjadi seorang peagawai kantor merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Karena ternyata untuk mencari nafkah tidak harus menjadi suatu karyawan tetapi masih banyak jalan untuk mencari nafkah dengan terbebas dari ikatan keterbatasan menjadi karyawan. Sehingga banyak dari orang tersebut yang akhirnya melepas status pegawai menjadi wirausaha maupun freelancer.

Memang tidak kita pungkiri, bekerja di dalam suatu perusahaan merupakan pekerjaan yang paling “aman”. Hal ini dikarenakan, setiap bulan  kita sudah pasti digaji dengan standar yang ada, belum lagi kalau ada promosi jabatan struktural yang datang kepada Anda pasti akan menyenangkan menjadi suatu pegawai kantor. Selain gaji, kita masih tunjangan kesehatan, tunjangan transportasi atau mobil dinas, rumah dinas dan sebagainya. Intinya, apa yang telah kita berikan kepada perusahaan akan mendapat gaji maupun tunjangan atas kerja keras kita untuk memajukan perusahaan. Totalitas Anda dalam perusahaan akan menentukan besaran gaji dan tunjangan bagi Anda. Artinya, menjadi pegawai merupakan perjalanan dan kegiatan “menjual” waktu kita kepada perusahaan untuk mendapatkan gaji sebagai bentuk konsekuensi atas jasa Anda.

Pertanyaannya adalah apakah proses “menjual” waktu Anda tersebut sebanding dengan apa yang Anda dapatkan? Apakah proses “menjual” waktu Anda merupakan bentuk pengorbanan waktu-waktu yang terbaik bagi hidup Anda? Bagaimanakah dengan waktu-waktu yang lain, seperti waktu dengan keluarga, waktu dengan lingkungan sekitar, waktu dengan Tuhan?

Pertanyaan tersebut hanya Anda yang bisa menjawab. Karena semua orang mempunyai pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Karena menjadi pengusaha ataupun freelancer pun tidak semudah yang dibayangkan dan dibicarakan oleh orang. Semua mempunyai sisi dan sudut pandang tersendiri. Permasalahannya adalah bagaimana setiap orang mempunyai totalitas dalam setiap aktivitasnya terkhusus dalam hal ini adalah pilihan dalam mencari nafkah/bekerja sehingga ia mendapatkan hasil dari totalitasnya tersebut dengan sepadan. Oeh karena itu “to be a corporate slave or not … its your choice!

Siapkah Anda untuk mempertanyakan hal ini kepada Anda?

Pentingnya Buku Catatan dalam Menulis

buku

Ketika blogwalking di beberapa blog yang sebenarnya mau mencari informasi  mengenai tema mind set (pola pikir) ternyata saya nyangkut di blognya mas Sigit Budi Darmawan. Sejenak berhenti untuk mnegulik blog ini, ternyata saya menemukan artikel tentang pentingnya sebuah catatan untuk memperlancar dalam kegiatan tulis menulis.

Mengapa ini menarik bagi saya? Karena dulu saya termasuk orang yang suka membawa buku catatan, yang saya gunakan untuk mencatat segala peristiwa yang saya alami atau saya temui, selain itu juga saya gunakan untuk menuliskan beberapa ide yang “berkeliaran” di alam pikir saya. Hasilnya? Ternyata hasilnya 0 besar bagi saya.

Inkonsistensilah yang menjadi masalahnya bagi saya. Ketika ide atau sesuatu yang ingin saya tulis sudah muncul mau tidak mau harus saya tulis saat itu juga. Saya tidak bisa menunggu dan menyimpannya dalam buku catatan tersebut dalam waktu yang lama. Harus segera saya tuangkan dalam tulisan (blog) kalau tidak segera maka hilang mood untuk menulisnya kembali. Bahkan seringnya, dalam kesibukan bekerja pada saat itulah ide-ide bermunculan. Mau tidak mau saya mencuri-curi waktu dalam pekerjaan saya untuk menuliskan ide tersebut dengan bertahap. Benar-benar manajemen diri yang payah, bukan?

Tetapi untuk kasus penulisan yang sedikit lebih berat hal tersebut (mencatat di buku catatna) masih bisa saya lakukan, walaupun beberapa ide, sekarang tertutup oleh lembaran halaman-halaman di dalam buku catatan dan jarang saya buka kembali karena kesibukan. Hal itulah yang mendasari kenapa ketika ada ide harus segera saya tuangkan agar tidak mengendap terlalu lama dan akhirnya menghilang.

Tetapi saya menyetujui apa yang disampaikan oleh mas Sigit Budi Darmawan, karena pada dasarnya ketika ingin menulis dengan baik kita harus bisa membuat ide-ide tersebut dalam suatu rangkaian cerita yang menarik. Untuk mendapatkan rekaman dan tahapan yang sudah kita pikirkan, catatan-catatan tersebut sangatlah penting. Mengapa?

Catatan tersebut berfungsi untuk menambah referensi dan membuat suatu ide tulisan menjadi lebih “nyambung” antara ide satu dengan yang lain. Skema penulisan akan lebih runtut dan sistematis yang efeknya tentu koherennsi dan konsistensi dalam penulisan lebih terjaga sehingga menghasilkan cerita yang utuh dan menarik.

Selama ini, kita melihat catatan (buku catatan) sangat penting bagi seorang jurnalis, tetapi kalau kita berpikir lebih, sebagai seorang blogger (terutama yang menulis dalam personal blog), catatan (buku) juga sangat penting untuk mendokumentasikan setiap kejadian di sekitar kita. Mengapa demikian? Bagi seorang blogger (personal blog) kekuatan penceritaan suatu kejadian menjadi hal yang paling penting selain informasi yang diberikan. Buku catatan memberikan data dan fakta yang yang mendetail dari apa yang kita lihat dan rasakan, sehingga dalam menceritakan suatu kejadian akan lebih terasa kuat karena kita sendiri yang telah mengalami/melihat.

Banyak hal sebenarnya apa yang dimaksud dengan buku catatan. Buku catatan dapat pula Anda tafsirkan dengan media dokumentasi suatu peristiwa atau kejadian. Bentuknya pasti macam.macam, ada yang  menggunakan buku catatan dan pena, ada juga handphone atau smartphone, ada juga yang menggunakan tape redorder(rekaman) atau bahkan bisa juga menggunakan kamera dan video.

Dengan adanya berbagai media yang bisa dipakai untuk mencatat, media-media tersebut dapat berperan sebagai sebuah “bank ide” sekaligus “bank data” yang berfungsi untuk menyimpan ide-ide yang muncul atau kejadian yang kita alami/lihat. Tanpa kita sadari, berbagai media tersebut akan sangat berguna untuk mengumpulkan dan menjadi tabungan ide bagi hobi menulis kita. Hal tersebut akan sangat membantu dalam perjalanan belajar tulis-menulis walaupun hanya menulis di blog saja.So, kayaknay saya harus mulai membawa buku catatan lagi kemanapun saya pergi! Salam. Semoga bermanfaat.

Penyebab dan Tanda Perusahaan Bangkrut

batavia

Banyak kasus yang terjadi mengenai kegagalan perusahaan dalam menjalankan roda bisnisnya. Tidak hanya usaha yang hanya berjalan sebentar (1-2 tahun) tetapi usaha yang sudah berjalan puluhan tahun pun mempunyai peluang yang sama untuk gagal apabila tidak bisa menangani penyebab kegagalan tersebut.

Contoh nyata yang terjadi pada Batavia Air, dimana telah dinyatakan pailit alias mengalami kebangkrutan. Seperti yang dilansir suarapengusaha.com, kepailitan Batavia Air disebabkan karena manajemen perusahaan yang tidak handal. Manajamen yang tidak kompeten untuk mengurusi perusahaan dengan benar hanya akan membuat dampak yang negatif bagi perusahaan.

Berbeda dengan maskapai milik Malaysia, AirAsia dimana Tony Fernandez selaku CEO menerapkan manajemen yang sangat baik untuk menghindarkan kebangkrutan yang dialami AirAsia. Seperti yang kita tahu, AirAsia diambil alih oleh Tony Fernandez ketika perusahaan tersebut sedang mengalami kepailitan dengan jumlah utang yang sangat besar. Tetapi pada saat ini AirAsia mampu menjadi salah satu maskapai penerbangan terbaik di Asia Tenggara. Bahkan mampu menjadi salah satu sponsor salah satu klub Liga Inggris. Hal ini tidak terlepas dari manajemen yang diterapkan oleh Tony Ferandez untuk merekontruksi sistem manajemennya menuju keberhasilan perusahaan.

Setiap kegegalan suatu bisnis pasti memilik sebab dan tanda-tanda yang mengiringinnya. Berikut beberapa tanda-tanda jatuhnya sebuah bisnis yang dirangkum dari berbagai pengalaman para praktisi bisnis yang telah berpengalaman jatuh bangun mengelola usaha.

Pertama, Tidak Sabar.  Pebisnis yang tidak tidak mempunyai kesabaran dalam menjalankan bisnisnya cenderung tidak telaten mengelola usaha. Selain itu, ketidaksabaran juga menyebabkan banyak kecerobohan yang muncul. Ketidaksabaran dan kecerobohan merupakan faktor  yang sering menjadi penyebab hancurnya bisnis yang sudah dibina bertahun tahun.

Kedua, melupakan kepentingan usaha, dan mengutamakan kepentingan pribadi. Pebisnis yang mulai sukses, seringkali lupa untuk  membangun usahanya lebih kuat, dan lebih berdaya saing. Kebanyakan pebisnis yang belum bisa memajemen dirinya dnegan baik terlena dengan usahanya yang sudah mulai berjalan, padahal sejalan dengan berkembangnya usaha yang didirikannya, banyak kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung kegiatan usaha tersebut. Ia justru meningkatkan dan mengutamakan keperluan pribadi yang justru tidak ada hubungannya dengan kegiatan usaha.

Ia lebih banyak mengutamakan untuk menimbum kekayaan dan bergaya hidup mewah dari hasil keuntungannya. Bersikap seolah sudah menjadi pengusaha yang sudah sukses padahal masih banyak yang harus dikerjakan untuk membentuk suatu ketahanan diri perusahaan dari semua masalah yang sekiranya muncul.  Ia lebih banyak mengutamakan pencitraan kesuksesan perusahaan kepada masyarakat sekitar atau bahkan kolega-koleganya. Hal inilah yang kemudain menjadi bumerang bagi dirinya, ketika kondisi keuangan menipis maka kebingungan menghamipirnya. Dan, apabila tidak bisa bereaksi dengan cepat maka kebangkrutan pasti cepat atau lambat akan menghampirinya.

Ketiga, terjebak kredit macet. Akses kredit dari perbankan yang mudah kalau tidak digunakan dengan hati-hati dan terukur akan menjadi kejatuhan dari bisnis yang dijalanai. Akan sangat bijak apabila, kredit yang digunakan benar-benar digunakna untuk kepentingan usaha bukan untuk kepentinganpribadi.

Keempat, terlibat masalah hukum.  Ketika sudah bertekad menjadi pewirausaha, yang paling penting diperhatikan adalah perilaku sosial harus jauh dari masalah hukum, misalnya menipu, membohongi orang lain, mencuri serta berperilaku negatif, karena sewaktu-waktu bisa saja seseorang terjerat hukum yang berakibat buruk bagi bisnis yang sedang dibangun. Jika terbelit masalah hukum, reputasi bisnis dapat hancur dalam waktu yang sangat singkat.

Kelima, gampang tergoda promosi. Menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan perusahaan memang itulah harapannya, tetapi banyak pewirausaha yang baru tumbuh selain memiliki kebiasaan membeli produk yang tidak ada manfaatnya juga gampang tergoda oleh rayuan promosi. Setiap ada pameran selalu selalu meneken kontrak order barang tanpa memperdulikan kondisi keuangan perusahaan.

Keenam, terlalu ambisius. Modal nekad/ambisius tanpa perhitungan, sabet uang sana-sini, tanpa memperhitungkan darimana asalnya uangnya. Ujung-ujungnya usahanya terus merosot ke bawah hanya karena gengsi ingin dikatakan sebagai pengusaha multi talenta dan berhasil dimana-mana.

Ketujuh, lupa mengembalikan pinjaman. Jika meminjam sering lupa menggembalikan sehingga reputasinya hancur, dan jika berbisnis dengan bagi hasil seringkali abai memberikan hak bagi hasil kepada orang lain. Karena sering lupa bahwa yang digunakan usaha adalah duitnya orang, biasanya usaha yang dijalankan berakhir dengan masalah dan percekcokan.

Kedelapan, kurang berinovasi, tidak mau dan tidak cepat belajar tentang kondisi dari lingkungan bisnisnya yang terus berkembang dan terus berubah seiring dengan perubahan zaman dan sosial masyarakat. Akhirnya bisnisnya tidak laku dan ditinggalkan pelanggan.

Kesembilan, tidak mampu melakukan kaderisasi, dan malas membangun sistem, serta enggan mendelegasikan tugas yang optimal kepada tim dalam perusahaannya dengan baik, sehingga usahanya stagnan dan kehilangan energi untuk berkembang. Jika tidak diantisipasi usahanya lambat laun akan mati.

Perlu diingat, seberapapun lamanya perusahaan berjalan, tetap saja mempunyai peluang kegagalan yang sama dengan perusahaan yang baru berjalan. So, berhati-hatilah dalam menjalankan bisnis Anda, kalau perlu perbanyaklah untuk bersedekah kepada orang yang tidak mampu. Karena Allah telah menggaransi barang siapa yang mau untuk bersedekah maka akan dilipatkan rezekinya.

Berikan kepada yang berhak terhadap apa yang kita punya, kalau hanya mempunyai sedikit berikan sesuai dengan kemampuan kita. Syukur-syukur kalau kita kaya, kita bisa memberikan yang lebih bagi orang yang mempunyai hak atas kekayaan kita. Kepada siapa kita memberikan hak harta yang kita miliki? Tentu saja kepada fakir miskin maupun anak yatim. Insyaallah harta kekayaan yang kita miliki jauh lebih barakah apabila kita tunaikan ddengan baik. Malah Allah akan menambah yang lebih banyak. (Sumber: wirausahanews.com, Foto: anekainfobaru.blogspot.com)