Tips Menulis bagi Pemula

Hanya sekedar repost aja karena blog saya di platform blog sebelah, kayaknya sudah terhapus gara-gara kelamaan ga ke-update. By the way, kenapa ini saya repost, karena pada saat itu, tulisan ini, menjadi headline selama beberapa hari di situs platform blog tersebut. Jadi, bisa jadi dengan repost akan bermanfaat lagi bagi yang lain. Semoga dan selamat membaca!

teknik-menulis

Gambar: keajaibanmenulis.com

Setiap orang boleh bermimpi termasuk saya yang punya mimpi jadi penulis terkenal, ya paling enggak di Indonesia lah. Sosok Habiburrahman El Shirazy menjadi salah satu inspirasi dan idola dalam perjalanan berlatih menulis. Jujur saja, saya mengenal beliau karena ketika kuliah di Semarang, saya termasuk salah satu dari ribuan “anak asuh” beliau di salah satu pesantren mahasiswa. Beliau menjadi salah satu pembina dari pesantren tersebut, sehingga saya pun sedikit banyak sering bertemu secara fisik sama beliau walaupun kalau ditanya pasti belaiu juga tidak akan kenal saya.

Sampai sekarang pun saya hanya berlatih, berlatih dan berlatih tanpa menghasilkan karya yang benar-benar bisa dikatakan membanggakan. Kenapa belum bisa dikatakan membanggakan? Ya karena belum pernah terpublikasikan di ranah publik seperti koran, majalah apalagi buku. Tapi tak apalah, kata penulis-penulis senior yang terpenting berlatih menulis sampai benar-benar menemukan ciri khas dari tulisan sendiri. Atau paling enggak merasa ada peningkatan kualitas tulisan berdasar mudah atau tidaknya dicerna oleh orang lain.

Di sini perlu peran dari orang terdekat yang dapat berlaku secara objektif untuk menilai kualitas tulisan kita. Enggak usah saya sebut kali ya siapa yang harus menilai tulisan kita, siapa aja bisa asalkan dia mau jujur untuk menilai tulisan kita. Tidak perlu harus peka terhadap bahasa apalagi penulis beneran, cukup orang terdekat yang bisa mbaca aja yang kita minta untuk menilai. Kalau dirasa dia mampu menyerap dari setiap makna yang kita urai dalam kalimat dan paragraf tulisan  kita, itu artinya tulisan kita sudah lumayan baik. Simpel kan!

Kalo sudah sampai tahap itu, ya saya kira cukup lumayan lah untuk iseng-iseng mengirim tulisan kita ke koran atau majalah. Kenapa iseng-iseng, ya kalau dibilang yang namanya penulis pemula bisa jadi agak sulit untuk nembus dan “menghipnotis” para redaktur koran atau majalah, apalagi koran atau majalahnya sifatnya sudah me-nasional. Ya, tahu diri sajalah kalau saran saya, coba dulu koran atau majalah lokal yang jadi sasaran iseng-iseng. Kalau naskah satu tidak diterima, jangan sungkan untuk mengirim naskah kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Mengapa demikian?

Karena kalau semakin bandel kita mengirim naskah tulisan kita, bisa jadi si redaktur koran dan majalah tersebut malah semakin penasaran untuk membaca tulisan kita. Nah, disinilah peluang sekaligus tantangan bagi penulis pemula agar tulisannya “diperhatikan” oleh sang redaktur. Artinya, kalau kita bandel seperti itu ya tetap harus diikuti dengan peningkatan kualitas tulisan kita. Sehingga tulisan kita tidak dianggap spam oleh sang redaktur. Sayang kan kalau ternyata bandelnya kita tidak sebanding dengan kualitas tulisannya, bisa jadi malah kita dibanned untuk tidak akan pernah dibaca lagi. So, semangat untuk berlatih dan semangat berkarya ya!

Berkompromi dengan Keadaan

Semua pekerjaan mengandung resiko. Tak usah mengeluh, itu intinya. Dari semua pekerjaan yang pernah saya geluti, mulai dari karyawan swasta bidang editing naskah  buku, menjadi tentor di bimbel sekaligus tim marketer juga, sampai sekarang menjadi guru beneran di sekolah, semua ada enak dan tidaknya. Dan, saya yakin semua pekerjaan pun akan sama, ada enak ada pula tidaknya.

Tinggal bagaimana kita bisa berkompromi dengan keadaan. Orang yang betah berlama-lama dengan satu pekerjaan, merekalah orang yang mampu berkompromi dengan keadaan. Walaupun pekerjaan itu adalah hobi nya, akan ada masa kejenuhan dalam menjalaninya. Merasa puncaknya ketika, pikiran dan hati merasa sudah tidak ada lagi yang menarik dan menantang dalam pekerjaann nya tersebut. Pada saat itulah, ujian kompromi dengan keadaan dimulai. Bagi yang bisa, maka akan tetap betah di sana, walaupun berbagai faktor yang menyempitkan semangat menyerang. Bagi yang tidak bisa, ya ucapkan saja good bye my job. Dan, cari deh petualangan baru.

Banyak pula orang yang dengan mudah say good bye my job, walaupun pengalaman belum seberapa. Itu dia, masalah rasa dan kompromi. Kalau rasa sudah nggak ngeh bekerja di tempat kerja, maka kompromi akan mengambil alih keputusan Anda. Bertahan atau tidak, itu langkah selanjutnya setelah kompromi tak mampu lagi menahan keinginan untuk keluar dari pekerjaan.

Ambil Enaknya Aja!

Saran saya, dari pengalaman yang sudah saya jalani, pertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan resign. Karena keputusan resign, mempunyai dampak sistematis. Mulai dari diri sendiri, keluarga dan bisa jadi perusahaan yang ditinggalkan.

Pengalaman mengatakan, dari sekian orang yang dulu bareng-bareng resign, hampir sekitar belasan orang dalam rentang waktu 3 bulan, tidak semua menjalani hidup lebih nyaman setelah resign. Sekarang, masing-masing sudah menemukan ritme hidupnya, beberapa sudah tak tahu juga rimbanya.

Contohnlah saya, habis resign bingung mau ngapain. Nganggur beberapa bulan, untung istri pengertian. Kerja di bimbel, malah dapat waktu kerja tak karuan. Kita jadi tentor tapi jadi marketer juga. Emang sih dapat pengalaman dan rasa nyaman dalam kerja, dan tidak terlalu ketat, sayang jam kerja yang tak menentu, tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Bahkan lebih besar lulusan SMK/SMA kerja di perusahaan yang jam kerja nya jelas 8 jam, tambah waktu berarti hitung lembur. Tetap saja, semua ada enak dan tidaknya.

Sekarang menjalani profesi baru sebagai guru pun sama. Tetap ada nilai enak dan tidak enaknya. Tapi itulah sebuah keputusan hidup, semua ada tanggung jawab dab resiko yang mengikutinya. Maka tak pantas kalau kita mengeluh apalagi menyesali keputusan yang telah dibuat. So, jalani hidupmu sesuai keinginan hati mu, kalau cocok berusahalah bertahan, berkompromi dengan keadaan. Jika tidak nyaman, ambil keputusan yang terbaik. Lalu lakukan dengan tanggung jawab.

Tanggung Jawab Hilang!

Sepertinya dulu, jaman saya masih SMP-SMA siswa tidak mengerjakan tugas atau tidak ikut ulangan, akan bersegera mendatangi guru bersangkutan, meminta maaf dan mencari tugas pengganti atas kealpaannya tersebut.

Tapi, siswa sekarang nampaknya tidak demikian. Dengan senyum tanpa dosa, mereka bertemu guru menyapa layaknya kawan, entah lupa atau melupakan tugas dan tanggung jawab yang mesti ia tunaikan. Bahkan tak ada gurat rasa malu sedikitpun dari mereka karena kelalaian tersebut. Heran, sungguh heran saya.

Saya yakin, tidak hanya saya yang menjumpai hal seperti ini. Banyak guru-guru yang merasa kecewa dengan sikap lepas tanggung jawab dari siswa seperti ini. Akibatnya, ketidakikhlasan dalam mengajar dan memberi nilai menjadi imbasnya. Karena ketidakikhlasan itu pula, ilmu tersebut akhirnya tersendat dan tidak tersampaikan dengan baik, sehingga siswa menjadi tidak paham.

Apa masalahnya?

Masalahnya kompleks walau ini adalah soal yang sepele! Solusinya bukan meminta tugas tersebut secara berulang-ulang kepada siswa. Bukan pula memberi ancaman tidak memberikan nilai kalau tidak mengumpulkan, karena justru hal itu malah memperkeruh karakter mereka. Mereka hanya akan melakukan tanggung jawabnya jika diminta.

Solusinya sungguh-sungguh bersifat integralistik. Tanggung jawab seharusnya sudah menjadi karakter yang sejak dini ditanamkan dari keluarga. Sedangkan sekolah atau perangkat pendidikan formal hanya bertugas menyemai dan memelihara tanggung jawab tersebut menjadi semakin kokoh dalam kegiatan dan interaksi pembelajaran. Namun, sayang kalau semua sudah terjadi. Bukan tidak bisa ditanggulangi, tapi membutuhkan energi yang berlipat-lipat untuk mengubah dan  menanamkan kembali karakter tersebut.

Itu baru satu karakter saja. Belum lain, siswa sekarang kebanyakakan malas belajar, kebanyakan nongkrong dan kongkow dengan kawannya. Masalah timbul lagi di sana. Banyak tak perlu disebut satu-satu.

Itu hanya sekelumit cerita saja, masih banyak masalah-masalah dunia pendidikan tak hanya dari segi siswa, bahkan guru atau sarana prasarana pun menjadi bagian tak terpisahkan dari peliknya masalah pendidikan nasional.

#Masih peringati, Selamat Hari Guru.

Selamat Hari Guru!

Dulu, Bukan Sekarang!

Dulu, guru begitu sangat disegani baik oleh muridnya ataupun orang tua murid (masyarakat). Mereka berseragam serba sederhana, memakai dresscode yang serba seadanya. Penuh senyum dan sopan terhadap siapapun. Ramah dalam berucap dan santun dalam bertindak. Keikhlasan dalam menyampaikan ilmu begitu nyata tergurat dalam kerut kening wajah mereka. Oleh karena itulah mereka disebut “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”

Namun sekarang, apakah hal-hal tersebut masih kita lihat dalam kehidupan sekarang ini. Mungkin saja iya masih, namun kelihatannya sekarang pun nilai-nilai keluhuran seorang guru pun luntur dimakan pahitnya kehidupan. Banyak bahkan sering kita lihat, oknum guru melakukan tindak asusila terhadap siswanya atau bahkan sesama rekan gurunya. Belum lagi tindakan “menyalahi HAM” karena menghukum muridnya terlalu keras. Ada lagi, guru-guru yang sering datang terlambat sekolah, belum lagi di tengah jam mengajar asyik berbelanja di pasar. Itulah sekarang sebagian gambaran “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” saat ini.

Tapi semoga, itu hanya oknum guru saja. Oknum yang tidak semestinya membuat kita menjustifikasi total bahwa semua guru punya perilaku seperti itu. Karena walau bagaimanapun, guru adalah pahlawan dalam diri kita. Pahlawan yang mengajarkan bagaimana membaca, menghitung dan bahkan bersikap dalam berkehidupan bermasyarakat.

Klasik! Uang adalah Raja!

Kami tak pernah menyalahkan guru-guru berbondong meneriakkan perihal kesejahteraan hidup mereka. Masih banyak guru-guru yang standar hidupnya di bawah rata-rata. Saya pun tak ingin  mengambil contoh dalam tulisan ini, cukuplah saya, atau Anda bertanya pada guru-guru di sekitar Anda berapa mereka digaji. Bahwasanya banyak sarjana pendidikan yang mengabdikan diri sebagai guru honorer, gajinya masih kalah dengan anak didiknya lulusan SMP, SMA/SMK yang bekerja di perusahaan. Mirisnya, gaji guru honorer pun tidak menyentuh angka UMR setempat, jangankan menyentuh ada pula yang tidak ada separuh dari UMR.

Lagi-lagi uang! Mirisnya lagi, untuk sekedar menjadi guru honorer atau kontrak di sekolah, tidak bisa dipungkiri membutuhkan uang bahkan pengaruh pejabat berwenang. Memang tidak semua seperti itu, tapi itu banyak terjadi. Saya pun sebelum jadi PNS, pernah ditawari jadi guru honorer oleh salah satu petinggi partai bahkan bupati sekalipun manut sama oknum tersebut. Tapi tak pernah sekalipun saya meng-iyakan hal itu. Malu rasanya jadi guru tapi lewat proses yang tidak semestinya. Jangan bicara jadi PNS harus setor sekian puluh juta, jadi guru kontrak pun bisa jadi juga yang setor uang. Bisa jadi itu. Dan, kita semua tahu itu.

Tetapi alhamdulillah, saya PNS tak pernah serupiah pun mengeluarkann uang untuk meloloskan diri jadi abdi negara, kecuali uang pribadi untuk transport, penginapan dan makan selama saya tes dan persiapannnya. Sistem rekrutmen CAT, membantu kejujuran dapat bertengger di atas sistem kelam perekrutan abdi negara selama ini. Dan, semoga sistem ini semakin baik dan diperbaiki.

Kembali lagi masalah kesejahteraan. Inilah ironi negara kita, negeri yang kaya alam dan tambang tapi miskin moral dan teladan. Akibatnya, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi pionir perubahan dan kebaikan menjadi taruhan. Gaji tak seberapa, banyak pula beranggapan ngajar pun sekenanya. Polemik ini akan terus berlanjut, pasti! Selama solusi yang ditawarkan dalam paket kebijakan pemerintah tidak pernah menyasar terkait kebijakan kesejahteraan hidup guru.

Jangan sekalipun membandingkan kesejahteraan guru di Indonesia dengan di Malaysia, Singapura, Brunei, Jepang atau bahkan Finlandia yang terkenal kemajuan dunia pendidikannya. Seharusnya lebih adil kalau anggota DPR yang kerjanya hanya tidur dan berkelahi di gedung DPR, anggaran gajinya di potong untuk menggaji para guru honorer yang luar biasa banyak. Belum lagi fasilitas anggota DPR yang luar biasa mewah, sedangkan guru yang notabene melahirkan para generasi penerus bangsa hanya tinggal di rumah dinas guru yang hanya sepetak,  itupun banyak yang sudah tak layak! Miris!

Orang tidur dan berkelahi dibayar puluhan juta, pahlawan hanya digaji ratusan ribu!

#Selamat Hari Guru untuk semua!

Delete Blog!

Berulang kali kepikiran untuk mendelete blog ini. Bahkan beberapa blog baru sudah dibuat baik pakai platform blogger, wordpress atau blogdetik. Tapi rasa-rasanya hati ini tak pernah mampu untuk menghapus blog ini. Padahal sudah jarang sekali di update, belum lagi dunia blogger sudah “lesu” karena orang lebih memilih memposting sesuatu lewat sosial media, bukan blog lagi.

Malam ini pun akhirnya sudah ku putuskan bahwa beberapa blog yang baru ku hapus, dan khusus blog ini tetap harus dipertahankan. Walaupun entah, masih bisa konsisten atau tidak mengisinya. Tapi tetap berharap sempat dan menyempatkan untuk tetap mengisinya.

Semoga!